Mohon tunggu...
Bambang Wahyu Widayadi
Bambang Wahyu Widayadi Mohon Tunggu...

Menulis sejak 1979. di KR, Masa Kini, Suara Merdeka, Sinartani, Horison, Kompasiana, juga pernah menjadi Redpel Mingguan Eksponen Yogyakarta. Saat ini aktif membantu media online sorotgunungkidul.com. Secara rutin menulis juga di Swarawarga. Alumnus IKIP Negeri Yogyakarta sekarang UNY angkatan 1976 FPBS Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah mengajar di SMA Negeri 1 Sampit Kota Waringin Timur Kalteng, STM Migas Cepu, SMA Santo Louis Cepu, SPBMA MM Yogyakarta, SMA TRISAKTI Patuk, SMA Bhinakarya Wonosari, SMA Muhammadiyah Wonosari. Pernah menjabat Kabag Pembangunan Desa Putat Kecamatan Patuk. Salam damai dan persaudaraan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tujuh Jurus Keren Bupati Kulon Progo

22 Februari 2016   19:29 Diperbarui: 22 Februari 2016   20:11 1537 2 2 Mohon Tunggu...

[caption caption="Slamet SPd., MM., dok pribadi"][/caption]Slamet, SPD MM,  Anggota Fraksi Partai Golkar DPRD DIY Dapil Gunungkidul memiliki catatan kecil tetapi istimewa, mengenai terobosan yang dilakukan Bupati Kulon Progo, Hasto Wardoyo.

"Di mata saya, Hasto Wardoyo punya rapor bagus, karena inovasi dalam mensejahterakan masyarakat orisinil dan protektif," ujarnya Senin 22/2/2016.

Kulon Progo, menurut Slamet, secara gografis memiliki kesamaan dengan Gunungkidul. Termasuk juga tingkat kemiskinan masyarakatnya.

Sayang sekali, kata dia, kecerdasan Bupti Kulon Progo kurang dikenal karena publikasi tidak segencar Ahok, Risma, atau Ridwan Kamil.

"Sekurang-kurangnya ada 7  inovasi yang saya catat, ini  hasil kompilasi dari pemberitaan  media lokal. Sesuai pengamatan saya, duet eksekutif dan legislatif Kulon Progo melahirkan:

1. Berhasil menggenjot produk lokal.  Mendorong PDAM untuk melakukan inovasi, yakni memproduksi air minum dalam kemasan berlabel AirKU. Produk ini dikonsumsi dalam kegiatan rapat di pemkab hingga hajatan warga. Bahkan seluruh kegiatan di lingkungan pemkab dan sekolah wajib menggunakan AirKU. Sekarang PDAM mampu menyumbang PAD (pendapatan asli daerah) Rp 300 juta. Sementara kabupaten Gunungkidul, PDAMnya  terus merugi.

2.  Program bela beli dijalankan di bidang pertanian. Pemkab
memfasilitas pembentukan gapoktan (gabungan kelompok tani). Mereka diajak tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk gabah, tetapi didorong untuk memproses dan mengemas menjadi beras. Pemkab memfasilitasi mesin penggilingan padi dan permodalan. Kulon Progo, kini memilik produk beras yang tidak kalah dengan beras yang ada di supermarket. Hasto mewajibkan PNS di lingkungan pemkab membeli beras dari gapoktan. Kalau  8 ribu PNS Kulon Progo  minimal  mengonsumsi 10 kg, pangsa beras setiap bulan 80.000 kg, cukup menjanjikan buat para petani.Kulon Progo juga menjalin MoU dengan Bulog sebagai pemasok raskin. Namun, di kabupaten ini, namanya beras daerah (rasda). Setiap bulan gapoktan memasok 1.900 ton beras ke Bulog. Pendapatan petani pun meningkat. Begitu juga daya beli mereka.

3. Bela Beli lain, adalah 'batik geblek renteng'. Batik itu, menjadi seragam wajib pegawai di lingkungan pemkab dan siswa-siswi di sekolah. Para perajin batik di Kulon Progo kini sibuk melayani order seragam batik geblek renteng.

4. Program Bela Beli Kulon Progo juga masuk dalam proyek-proyek infrastruktur. Pembangunan trotoar wajib menggunakan andesit dari Kulon Progo. Begitu pula dalam proyek-proyek pengaspalan jalan, pemenang tender atau pelaksana proyek harus membeli aspal di PT Selo Adikarto, salah satu BUMD di Kulon Progo. Pemenang tender proyek jalan, harus memakai aspal produksi BUMD. Dari program itu, PT Selo Adikarto sudah mampu  memproduksi 48 ribu ton aspal hotmix setiap tahun.
 
5. Di Kulon Progo juga berdiri sejumlah minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Pemkab memiliki kebijakan khusus agar minimarket tersebut tidak menggerus pedagang kecil. Caranya, nama minimarket itu diganti Tomira, Toko Milik Rakyat. Tomira wajib menjual produk-produk lokal Kulonprogo termasuk AirKU, beras gapoktan, telur asin rasa soto. Barang yang tidak ada di Kulon Progo baru boleh didatangkan.

6. Kulon Progo menerbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2012 tentang
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR). Setiap perusahaan wajib menyisihkan 5 persen keuntungan untuk desa di Kulon Progo. Dari dana CSR itu, dibuatlah program one village one sister company. Setiap perusahaan minimal memiliki satu desa binaan. Kebutuhan perusahaan
juga diupayakan dipenuhi masyarakat desa setempat.

7. Program lain yang menjadi unggulan Hasto adalah bedah rumah. Setiap minggu, Hasto melakukan bedah rumah keliling desa. Biayanya berasal dari sumbangan organisasi atau perusahaan, pekerjanya adalah masyarakat secara gotong royong. Anggaran setiap rumah Rp 10 juta. Banyak perusahaan dan organisasi yang antre untuk ikut program bedah rumah.

“Kabupaten Gunungkidul berani menyusul,” tantang Slamet pada Badingah, Bupati yang dilantik Gubernur DIY 17 Februari lalu.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x