Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Penulis - Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis, editor, dan konsultan. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini menjabat sebagai Ketua Umum Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia), Direktur Institut Penulis Indonesia, serta Direktur LSP Penulis dan Editor Profesional.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Artikel Utama

Senior

21 November 2021   08:35 Diperbarui: 29 November 2021   22:30 281 15 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi lansia.| Sumber: pasja1000/Pixabay via Canva Pro

Setelah lewat di depan restoran itu entah puluhan atau bahkan ratusan kali selama tinggal di Bandung, baru hari itu saya dan keluarga memutuskan singgah di sana. Ini restoran yang menjual makanan dan masakan ala Jepang dengan sistem manasuka alias all you can eat. Semua boleh dimakan, tetapi tentu harus bayar.

Awal masuk terus terang saya dan istri tidak mengetahui bahwa itu restoran dengan sistem semua boleh dimakan, kecuali alat makan dan selampai kertas tentu saja. Pramusaji dengan sigap menghampiri kami sambil membawa cetakan menu lalu menjelaskan tentang aturan pemesanan bak seorang pramuniaga ponsel yang ternyata belum jelas bagi kami 

Sebagai mahasiswa "senior"---alias paling tua di kelas---yang tengah menempuh studi ilmu komunikasi di jenjang S-2, tentu saya menghindarkan terjadi miskomunikasi. Karena itu, untuk kali kedua kami meminta sang pramusaji menjelaskan aturan pemesanan dan harga yang tertera. Soalnya, sempat terjadi kebingungan ketika kami hendak mengambil makanan.

Ia menjelaskan kembali dengan sabar. Namun, tiba-tiba ia bertanya, "Di sini ada yang senior?"

Saya dan istri saling berpandangan. Istri saya pasti tahu bahwa saya memang senior di bidang perbukuan dan juga paling senior di kelas S-2 saya kini. Namun, itu tidak ada hubungannya dengan peristiwa makan-memakan secara manasuka yang akan kami selenggarakan.

Dengan sangat berhati-hati, sang pramusaji menjelaskan maksud 'senior' itu adalah manula alias lansia. Sama dengan anak-anak di bawah 12 tahun, lansia mendapatkan harga khusus yang lebih murah. Mungkin karena para lansia tidak akan mampu makan banyak sekaligus menjaga citra hidup sehat dan insaf sebagai omnivora.

Saya terkesiap karena hampir saja hendak memberi tahu bahwa saya senior. Bukan soal harga lebih murah, melainkan malu hati ini jika mengaku-aku lansia, padahal masih terlihat gagah bak aktor Bruce Willis. Saya jadi ingat judul film James Bond yang tak pernah ada, No Time to Get Old.

Ternyata senior sudah mengalami pergeseran makna meskipun KBBI sudah memuat lima makna. KBBI perlu diperbarui.

Ada makna yang mendekati, tetapi tidak sama dengan lansia. Senior artinya lebih tua dalam usia bagi dua orang (ayah dan anak) yang sama namanya (nama famili). (KBBI daring, 2016)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan