Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis, editor, dan konsultan. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini menjabat sebagai Ketua Umum Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia), Direktur Institut Penulis Indonesia, serta Direktur LSP Penulis dan Editor Profesional.

Selanjutnya

Tutup

Diary Artikel Utama

Kupu-kupu dalam Buku

19 Mei 2021   06:26 Diperbarui: 20 Mei 2021   08:16 183 19 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kupu-kupu dalam Buku
Sumber: Odua Images/Olahan Pribadi melalui Canva Pro

Saya rasa buku-buku yang saya baca pada masa lalu telah bermetamorfosis layaknya sebuah kepompong menjadi kupu-kupu. Metamorfosis itu terjadi pada pikiran dan perasaan saya untuk memandang dunia dengan cara berbeda. Campuran antara kenyataan dan imajinasi. Senyawa antara gembira dan sedih. Sintesis antara cinta dan benci.

Hanya ada dua buku bacaan anak lokal yang masih terpendam setia di alam ingatan masa kecil saya. Pertama adalah novel Taume Anak Mentawai karya Nilakusuma yang diterbitkan Pustaka Jaya tahun 1976. Buku ini dipinjam oleh abang saya dari perpustakaan sekolah, alhasil turut menjadi santapan bacaan saya pada masa itu. 

Buku kedua adalah novel Elang Putih. Saya tak ingat siapa penulis dan penerbitnya karena tidak ada jejak digital yang dapat saya telusuri kini.

Taume Anak Mentawai melekat erat di benak saya tentang kehidupan anak-anak di Pulau Mentawai. Mereka sehari-hari mengonsumsi sagu dan memakan nasi hanya seminggu sekali. Memakan nasi seperti sebuah ritual yang menyenangkan hati Taume dan adiknya. 

Saya ingin tahu lebih jauh tentang penulisnya, tetapi tetap tidak bertemu lagi data itu. Dulu saat kecil, belum begitu sadar untuk mengenali penulis sebuah buku.

Kalau novel Elang Putih berkisah tentang sekelompok anak di suatu desa. Cerita dikemas ala detektif karena anak-anak itu membentuk sebuah geng bernama Elang Putih. 

Ada hal lucu teringat dari dialog anak-anak ini ketika berdiskusi tentang nama geng mereka. Ada yang mengusulkan nama geng-nya Jenderal Sudirman. Anak yang lain menimpali, "Marah nanti cucunya!"

Kedua bacaan ini sedikit banyak memengaruhi alam pikiran anak-anak saya. Di benak saya bermetamorfosis pikiran dan perasaan tentang begitu berwarnanya hidup itu. Saya membandingkan dengan kehidupan masa kecil saya di sebuah kota kecil dan di lingkungan kompleks pabrik es. Saya sedang menyiapkan novel memoar masa kecil ini.

Tentang berwarnanya hidup bak sayap kupu-kupu, lewat novel Taume Anak Mentawai saya jadi tahu kehidupan anak-anak di daerah yang hampir terisolasi pada zaman Orba, Pulau Mentawai. Ada kisah kehidupan di hutan yang mencengangkan. Dari novel kedua, saya tergerak dengan motivasi menjadi anak-anak pemberani berkolaborasi, lalu menggulung sebuah komplotan penjahat. 

Kedua novel ini menarik karena sedikit sekali melibatkan orang dewasa dalam konflik yang mereka hadapi. Anak-anak itu menyelesaikan sendiri konfliknya. Itulah novel anak yang berhasil. 

Ya, saya memahami novel anak sukses itu setelah lewat dua dekade dari masa kecil, akhirnya saya meneliti tentang novel anak Indonesia sebagai syarat untuk menyusun skripsi S-1 saya di Sastra Indonesia, Unpad. Skripsi itu dibukukan dengan judul Fenomena Instrinsik Cerita Anak Indonesia: Dunia Sastra yang Terpinggirkan, diterbitkan oleh Nuansa dalam Program Pustaka I yang didanai Ford Foundation.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN