Mohon tunggu...
Balya Nur
Balya Nur Mohon Tunggu... Yang penting masih bisa nulis

yang penting menulis, menulis,menulis. balyanurmd.wordpress.com ceritamargadewa.wordpress.com bbetawi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Salawi, Bekawi, Selaki

14 Mei 2019   13:19 Diperbarui: 14 Mei 2019   13:53 57 1 0 Mohon Tunggu...

Kampung sebelah punya istilah salawi, semua salah Jokowi. Kaum salawi adalah bentuk ejekan bagi yang tidak mau memuji Jokowi. Kesalahan pada peristiwa apa saja ditimpakan semua pada Jokowi seorang.  Barangkali istilah itu cocok buat para pembenci Jokowi.  Tapi dalam perkembangannya, warga kampung sebelah menyematkan istilah itu pada siapa saja, atau barang siapa yang membenci Jokowi, yang mengeritik pemerintah, atau sekedar mempertanyakan kebijakan pemerintah, bahkan yang hanya tidak mau memilih Jokowi pada pilpres 2019, dimasukan dalam satu keranjang yang diberi label Salawi. Effendi Ghazali kebagian juga. Dia dicap sebagai bagian kaum salawi hanya gara-gara mengeritik kerja lembaga survei. Cak Nun juga kebagian. Pokoknya siapa saja yang ngeritik Jokowi, masuk dalam keranjang Salawi. Label salawi baru bisa dilepas kalau sudah insyaf dan mau mengakui hanya Jokowilah yang bisa membawa negara ini ke masa depan yang cerah rah rah.

Kalau memakai pemahaman terbalik, berarti warga kampung sebelah itu kaum Bekawi, benar kata Jokowi. Pokoknya apa saja yang diucapkan Jokowi sudah pasti benar. Supaya tidak dituduh anti kritik, biasanya kaum Bekawi selalu minta data dan fakta bagi yang ingin mengeritik  pemerintah. Kalau mau mengeritik pemerintah harus pakai data plus bonus solusi.

Tapi jangan berharap kalau dikasih data mereka akan menerima. Ada jurus ngeles, datamu hoax! Padahal dibaca juga belum. Kalau dikasih solusi, jurus ngelesnya beda lagi. Solusi itu langsung dimentahkan dengan bilang, emangnya ngurus negara sebesar ini gampang apa?

Pokoknya bagi mereka, benar kata Jokowi. Sewaktu tahun 2014 Jokowi mau nyapres, ada ucapan yang sampai sekarang masih terus terngiang-ngiang di telinga, " kalau saya jadi presiden lebih mudah mengatasi banjir di Jakarta." Benar kata Jokowi. Ketika banjir masuk ke dalam istana, maka yang salah bukan ucapan Jokowi, tapi biang kesalahan adalah air hujan.

Dalam salah satu pidatonya, Jokowi mengatakan paling benci dengan yang namanya impor, wabil khusus impor kebutuhan pokok. Dia memberi warning pada para menteri agar tidak impor. Benar kata Jokowi. Ketika survei membuktikan banjir impor tidak bisa dibendung, maka yang salah bukan Jokowi, tapi para menteri yang senang impor.

Belakangan ini Menkopolhukam jadi bulan-bulanan media gara-gara bikin timnas hukum. Nggak main-main, ini bukan timnas U-17 atau U-19. Ini timnas senior! Para pakar hukum berlabel profesor diundang, digaji cuma buat pasang kuping seterang-terangnya setiap ucapan para tokoh. Menilai huruf demi huruf, apakah bernilai makar atau tidak. Kasihan para professor itu.

Kalau aktivis pro demokrasi  menyebut kebijakan itu salah, maka semua kesalahan nampaknya hanya ditujukan pada Wiranto seorang sebagai pelatih timnas hukum. Jokowi sebagai kakak pembina nggak dicolak colek acan. Padahal dalam salah satu debat capres kemarin Jokowi mengatakan, membiarkan para menteri mengemukakan pendapat,  berbeda pendapat, tapi kalau sudah diputuskan dalam rapat kabinet, maka semua harus satu suara. Maknanya jelas. Kebijakan apa pun yang dikeluarkan oleh para menteri dalam rapat kabinet adalah kebijakan pemerintah yang tentu saja disetujui oleh presiden. Tapi soal salah dan benar beda cerita. Salah milik para menteri, benar milik Jokowi.

Tidak sedikit kebijakan dan data yang dikeluarkan pemerintah yang diralat oleh pemerintah sendiri. Bukan hanya hitungan hari, bahkan ada yang hitungan jam. Sekarang bilang begini, beberapa jam atau hari kemudian diralat. Dalam debat capres, Jokowi membacakan data yang ternyata salah. Beberapa hari kemudian diralatnya sendiri.  Pertanyaannya mana yang benar? Kebijakan yang pertama atau yang telah diralat? Data yang pertama, atau yang telah diralat? Bagi kaum Bekawi, dua-duanya benar. Data pertama benar, data ralatannya juga benar.  Pokoknya benar kata Jokowi. Titik.

Ini ada satu hal yang penting nggak  penting.  Dulu Rocky Gerung bikin pernyataan satir, IQ 200 sekolam. Awalnya hanya sebagai balasan ejekan karena penghuni kolam ada yang mengejek IQ Rocky gara-gara duduk dekat Jonru. Tapi pada perkembangannya ucapan Rocky itu ternyata benar.

Belum lama ini Seword membocorkan rahasia perihal pertemuan berkala para buzzer. Ini bukan sembarang buzzer. Ini semacam gerakan bawah tanah yang tidak deketahui umum, bahkan oleh timses Jokowi. Karena mereka hanya berhubungan dengan yang disebut sebagai kakak pembina. Nah, kakak pembina ini punya akses langsung ke Jokowi. Jadi buzzer ini menurut Seword hanya diketahui oleh kakak pembina dan Jokowi. Pasti bukan kelas nasi bungkus, minimal kelas daging rendang.

Sebenarnya dalam masa kampanye soal buzar buzer hal yang biasa saja. Cuma saya tertarik dengan alasan teman fesbuk saya yang kebetulan jadi anggota kesayangan kakak pembina itu. Dia bilang, "Dengan berkumpul maka narasi yang dibangun akan lebih kuat jika dibandingkan dengan sendiri-sendiri."  Nah, baru saya teringat dengan IQ 200 sekolam. Saya garis bawahi, " Dengan berkumpul maka narasi yang dibangun akan lebih kuat. "  Kan sama saja membenarkan ucapan Rocky, mereka baru punya IQ 200 kalau sekolam kumpul semua. Kalau sendiri-sendiri jadi loyo.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x