Mohon tunggu...
Balqis Syifa Prastina
Balqis Syifa Prastina Mohon Tunggu... Mahasiswa - Bukan seorang agelaste dan penikmat karya sastra. Sedang berapi-api dengan topik pendidikan dan lingkungan.

Make sure you choose what's the best for you and what you do will affect others. It can't be otherwise.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan

Pola Hidup Net-Zero Emissions dalam Skala Rumah Tangga

23 Oktober 2021   00:59 Diperbarui: 23 Oktober 2021   01:08 105 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kapan kita akan sadar bahwa bumi kita sedang terdegradasi? Pertanyaan ini yang pertama kali muncul dalam benak saya ketika dunia sedang menggaung-gaungkan bahaya climate change dan pentingnya pola hidup Net-Zero Emissions, sedangkan lingkungan di sekitar saya tampak seperti tidak terjadi apa-apa.

Saya sendiri mulai merasa ngeri terhadap climate change ketika muak dengan panas-dingin yang tak menentu di Jabodetabek, melihat video limbah industri dan dampaknya yang diputar terus-menerus di beberapa mata kuliah, melihat sisa makanan dan sampah plastik yang terus menimbun hingga menggunung, Kalimantan yang jarang sekali banjir akhirnya banjir bandang juga, berita kebakaran hutan di mana-mana serta kengerian lainnya yang harus ditanggung oleh lingkungan alam. Baru saat itu saya sadar, "ada yang salah dengan kita dan pola hidup kita."

Dunia sedang mencanangkan program Net-Zero Emissions, yang mana segala kegiatan ekonomi industri maupun sosial seminimal mungkin (kalau bisa sama sekali tidak) menghasilkan jejak karbon. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap perubahan iklim. Para pelaku industri juga sedang mengusahakan program ini, seperti perusahaan mobil yang sedang memikirkan bagaimana caranya agar selama produksi, mereka sama sekali tidak menghasilkan karbon bahkan hingga produknya jadi dan digunakan. Jika mereka dan pemerintah-pemerintah negara di dunia sedang mengusahakan program Net-Zero Emissions, mengapa kita tidak?

Kurang lebih selama satu semester, saya galau memikirkan cara agar bisa ikut berkontribusi dalam program Net-Zero Emissions. Rasanya kurang jika saya hanya mengurus sampah milik saya. Rasanya kurang jika satu individu hanya mengurus sampah pribadinya. Namun, bagaimana jika satu rumah tangga dapat mengolah sampah satu keluarga sehingga tercipta Net-Zero Emissions? Bagaimana jika ada lebih banyak rumah tangga yang juga dapat menjalankan pola hidup ini? Maka saya sampai pada tempat ini, menulis untuk mengajak teman-teman yang mungkin bisa melakukan pola hidup Net-Zero Emissions dalam skala rumah tangga. Karena itu lebih berarti daripada kita harus mengurus sampah kita sendiri sebagai individu. 

Ada beberapa cara yang saya temukan dan dapat dijalankan untuk mencapai pola hidup Net-Zero Emissions dalam skala rumah tangga. 

  1. Membeli Makanan yang Hanya Dibutuhkan
    Tahukah kalian bahwa Indonesia merupakan negara kedua yang menyumbang limbah makanan terbanyak di dunia? Hal ini telah diliput oleh berbagai media dan perlu ditegaskan kembali bahwa rata-rata, setiap warga telah menyumbangkan 300 kg limbah makanan per tahunnya! Bukan angka yang sedikit, mengingat masih banyak masalah malnutrisi dan kelaparan yang terjadi di Indonesia. Selain itu, sampah organik yang bercampur dengan sampah non-organik akan melepaskan senyawa karbon yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim serta berbahaya bagi kelangsungan hidup kita. Karena hal tersebut, kita perlu membuat skala prioritas atau daftar bahan makanan yang benar-benar kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarga. Dengan adanya daftar bahan makanan ini, diharapkan kita mampu mengurangi konsumsi bahan makanan yang tidak kita butuhkan. Selain ikut berperan menjaga lingkungan, hal ini juga membantu kita untuk berhemat, lho!

  2. Belanja di Bulk Store
    Keberhasilan mengurangi kantong plastik saat berbelanja maupun kemasan sekali pakai dalam membeli makanan dan minuman, bisa menjadi pertanda bahwa kamu siap untuk memulai cara yang satu ini! Berbelanja di bulk store mirip halnya dengan belanja tanpa kantong plastik atau membawa botol minum dan kotak makan sendiri. Berbelanja di sini artinya kamu perlu membawa wadah sendiri untuk membeli bahan makanan dan produk rumah tangga sehingga tak ada plastik kemasan yang terbuang. Bulk store ini merupakan toko masa depan untuk dunia Net-Zero Emissions. Jadi, jangan sampai ketinggalan untuk beralih berbelanja di sini, ya!

  3. Mengelola Sampah Rumah Tangga
    Cara yang satu ini nyatanya lebih mudah untuk diucapkan daripada dipraktekkan. Namun, bukan berarti tidak mungkin untuk mencoba mengelola sampah rumah tangga sendiri. Kita bisa mendaur ulang kembali sampah untuk kebutuhan atau peralatan rumah tangga, seperti membuat eco enzyme dari sampah organik untuk kemudian diolah menjadi sabun dan pembersih lantai, ataupun diolah menjadi pupuk kompos. Jika tidak mampu mengelolanya sendiri, masyarakat dapat mengelola sampah rumah tangga dalam skala komunitas, seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat di Bali, yang mana sebuah penyedia jasa, yaitu Urban Compost menawarkan pengelolaan sampah organik menjadi pupuk kompos. Pupuk kompos ini lalu didistribusikan kepada pelanggannya. Hal ini menunjukkan bahwa sampah juga bisa bermanfaat untuk kita jika dapat memilah antara sampah organik dan anorganik dengan tepat.

Itulah 3 cara yang dapat kita lakukan untuk berkontribusi pada program Net-Zero Emissions dalam skala rumah tangga. Semoga dengan gerakan sinergi antara individu, keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam mencapai Net-Zero Emissions, kita dapat mencapai hidup yang lebih sehat, berkepanjangan, dan bumi yang lebih hijau. Salam peduli lingkungan!

Mohon tunggu...

Lihat Lingkungan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan