Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Seorang Kantian

Guru Besar Tetap Pascasarjana Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Filsafat Platon dan Makam Somenggalan Jogjakarta [2]

29 Juli 2019   19:12 Diperbarui: 29 Juli 2019   19:41 40 3 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Filsafat Platon dan Makam Somenggalan Jogjakarta [2]
sedayu2-5d3eb0990d823074d2456b02.png

Filsafat Platon dan Makam Somenggalan Jogjakarta [2]

Tulisan ini adalah hasil riset etnografi cara memahami secara berpartiasipasi dalam dimensi {geist} untuk memahami hakekat The Birth of Tragedy,  Makam Somenggalan yang beralaman di Jalan  Pedes  Godean, Srontakan, Argomulyo, Kec. Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55752. Tidak kurang mengharukan, mengusik batin dan melahirkan sebuah repleksi pemahaman mendalam pada lokasi penelitian ini. 

Sekalipun dalam waktu relative pendek, yakni selama 6 hari saya mengamati dan membatinkan suasana lahiriah, dan batiniah pada Makam Somenggalan; akhirnya saya menyelesaikan riset etnografi secara mandiri.  Tulisan ini adalah pemaparan hasil riset  Prof Apollo [2019] Studi Etnografi Praktik Filsafat Platon [Thumos] di Makam Somenggalan. 

Di ini terdapat setidaknya ada 202  nyawa dan nama Pahlawan Negara Demi Mempertahankan Eksistensi  Negara Indonesia.  Pada akhirnya seluruh Hasrat Manusia [epithumia] harus dicampur dengan akal sehat [logistikon], demikian juga keberanian atau Andrea atau Thumos harus dicampur dengan fakultas akal budi atau rasionalitas, semua apapun tinkana manusia wajib dicampur dengan fakultas akal budi manusia untuk menghasilkan ketegakan manusia [Arite]

sedayu1-5d3eb0b30d823073e7260bc2.png
sedayu1-5d3eb0b30d823073e7260bc2.png
Platon percaya thumos menjadi bagian unsur dari jiwa manusia. Seiring dengan akal dan emosi, thumos ada dengan sempurna dalam diri setiap pria dan wanita pria.  Dan ketika dilakukan dengan alasan, itu bisa membawa manusia ke bentuk kebenaran, kebajikan, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Ketika membahas keadaan idealnya dalam halaman-halaman Republik , Plato, melalui suara Socrates, menjelaskan bahwa penjaga atau prajurit yang ideal akan dirasuki dengan perasaan thumos yang bersemangat dan keinginan untuk memerangi ketidakadilan. 

Plato menyebutkan thumos ketika mengomentari seekor anjing yang setia kepada tuannya, namun berbahaya bagi pelaku kejahatan apa pun yang mungkin dia temui. Pata teks buku The Republic Platon menyatakan: ["Dan apakah dia mungkin berani yang tidak punya semangat, apakah kuda atau anjing atau hewan lain? Pernahkah Anda mengamati betapa tak terkalahkan dan tak terkalahkannya roh dan bagaimana kehadirannya membuat jiwa makhluk apa pun menjadi benar-benar tak kenal takut dan gigih? "- Plato (Republic Book II)

Dalam dialouge Phaedrus , Platon membandingkan jiwa manusia dengan kereta yang ditarik oleh satu kuda putih dan satu kuda hitam, dengan seorang kusir yang terampil di masa pemerintahan. Pada teks buku The Republic   dinyatakan: ["Pertama-tama kusir jiwa manusia menggerakkan sepasang, dan yang kedua salah satu dari kuda itu adalah keturunan yang mulia dan berbudi luhur, tetapi yang lainnya bertolak belakang dengan jenis dan karakter. Karena itu, dalam kasus kami, menyetir tentu sulit dan menyusahkan. "- Plato atau Platon (Phaedrus);

Platon manusia memiliki tiga bagian dari jiwa, yang dalam beberapa kombinasi membuat panggilan takdir kita yang menjadikan kita lebih baik, ini adalah dasar tersembunyi untuk mengembangkan ide-ide yang merupakan ide bawaan. Thumos dapat mengambil dari ini untuk memperkuat manusia dengan alasan, tripartit ini adalah sebagai berikut: [1] bagian reason atau logistikon sebagai alasan (pemikiran, refleksi, pertanyaan) ; [2] Spirit atau Thumos  berupa jiwa atau mental atau roh (ego, kemuliaan, kehormatan) dan [3]  Appetites atau epithumia berupa hasrat atau keinginan (misalnya makanan, minuman, seks, produksi reproduksi yang tidak alami, misalnya uang, kekuasaan).

Democritus menggunakan " euthymia " (yaitu "thumos baik") untuk merujuk pada suatu kondisi di mana jiwa hidup dengan tenang dan mantap, diganggu oleh tidak ada rasa takut, takhayul, atau nafsu lainnya. Bagi Democritus, euthymia adalah salah satu aspek mendasar dari tujuan hidup manusia.

sedayu3-5d3eb0f20d823074d2456b04.png
sedayu3-5d3eb0f20d823074d2456b04.png
Thumos adalah milik tetap manusia yang hidup, yang menjadi tempat pemikiran dan perasaannya, terutama keberanian berperang [anggota TNI Polri], bukan pengecut. Thumos adalah "semangat" (seperti dalam "kuda jantan"),  menunjukkan hubungan fisik dengan napas atau darah digunakan untuk mengekspresikan keinginan manusia untuk pengakuan [dalam hal ini Kemerdekan Indonesia].

Metafora Kuda hitam dikatakan mewakili selera atau hasrat pria. Kuda putih dikatakan mewakili thumos jiwa. Dan kusirnya adalah alasan [fakultas akal budi atau rasionalitas], yang membuat kedua kuda tetap mantap dan tidak akan membiarkan keduanya menjadi liar. Jika semuanya baik-baik saja, kuda putih dan kuda hitam akan mendorong jiwa maju sementara akal   memastikan   kuda tidak pernah berlari menuju kehancuran atau penderitaan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN