Mohon tunggu...
Azzam
Azzam Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga (20107030139)

Ngga ada yang abracadabra, makanya santai aja tapi pake irama!!

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Menyelami Literasi Media sebagai Tameng dari Fenomena Hoax yang Menjamur

30 Juni 2021   21:06 Diperbarui: 30 Juni 2021   21:16 58 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyelami Literasi Media sebagai Tameng dari Fenomena Hoax yang Menjamur
Stop Hoax ( sumber : jurnalnews.id)

Hoax merupakan fenomena lazim yang banyak kita temui belakangan ini. Informasi yang simpang siur dan bohong adanya menjadi sebuah ketakutan tersendiri bagi kita yang setiap harinya bercengkrama dengan media sosial.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hoax berarti berita bohong atau tidak bersumber. Dititik paling mengkhawatirkan, hoax dapat menyebabkan sebuah konflik berkepanjangan yang sangat merugikan. 

Tahukah kamu ? ternyata hoax sudah ada dari sejak manusia pertama berada dibumi yang berarti keberadaannya sudah lama sekali atau bahkan ada sebelum manusia ada dibumi. Saban hari, hoax sangat gampang tersebar layaknya jamur dimusim penghujan karena peranan media sosial yang bebas. 

Keberadaan media sosial tak bisa dihindari karena telah menyentuh seluruh aspek manusia, oleh karenanya ia juga berperan paling besar atas tersebarnya hoax di Indonesia bahkan dunia. Kemajuan zaman yang diikuti dengan berkembangnya media sosial menjadi salah satu persoalan serius, sifatnya yang dapat diakses seluruh kalangan menjadi salah satu faktornya.

Menurut survey KEMKOMINFO, di Indonesia saja pengguna aktif media sosial berjumlah hingga 56% atau setara 150 juta jiwa dan belum termasuk pengguna pasif. Lain halnya dengan media konvensional yang untuk mengakses atau membuat informasi harus mempunyai klasifikasi yang jelas agar informasi yang keluar akan independen dan terpercaya.

Dalam mencegah hoax yang semakin merajalela, telah benar sesungguhnya langkah pemerintah dengan membuat Undang-Undang Informasi dan Teknologi Elektronik (UU ITE). Namun sayang ini tidak cukup kuat karena masih memiliki banyak kelemahan didalamnya pun keberadaan hukum yang terkadang masih fleksibel.

Tak bisa dipungkiri, bahwa manfaat dan kegunaan media sosial juga sungguh membantu kehidupan manusia. Teraktual, media sosial memudahkan semua orang untuk berinteraksi disaat pandemi melanda.

Logika sebagai landasan penalaran harusnya bisa menjadi tameng untuk menangkal hoax. Dewan Pers Indonesia mencatat bahwa ada 43 ribu situs yang menyatakan dirinya portal berita namun KEMKOMINFO mencatat hanya ada 315 saja yang telah terverifikasi dan yang tak terverifikasi itulah sumber hoax. Waaww sungguh mengejutkan bukan ?

Maraknya klarifikasi yang terlambat, membuat hoax begitu mudah menjadi sebuah kebenaran. Media literasi seperti membaca dengan seksama, tidak langsung percaya sebelum kevalidan yang jelas, memahami betul informasi yang tersedia, hingga mengesampingkan portal berita yang sering menjadi sarana penyebaran hoax adalah beberapa langkah yang disediakan oleh literasi media dalam mencegah berita hoax.

Dalam sebuah pernyataan, KOMINFO menjelaskan alasan mengapa hoax mendapatkan tempat di masyarakat dan sulit dihindarkan, diantaranya karena beberapa faktor, yakni ekonomi dan pendidikan yang rendah, kebebasan berinternet yang sulit dibatasi, dan jurnalisme yang rendah. Mulai dari narasi, foto, vidio, serta meme menjadi alat untuk penyebaran informasi yang bohong.

Tingkat literasi masyarakat Indonesia bahkan berada dititik mengkhawatirkan, inilah yang menyebabkan maraknya berita hoax. Intinya adalah saring terlebih dahulu sebelum sharing untuk menghindari informasi hoax. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN