Mohon tunggu...
Ayda Nur Haliqa
Ayda Nur Haliqa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Tertarik dengan membaca novel, menyanyi, traveling, menonton film, dan kulineran.

Selanjutnya

Tutup

Love Pilihan

Benarkah Laki-laki Insecure dengan Strata Sosial Pasangannya?

12 Mei 2024   18:36 Diperbarui: 12 Mei 2024   19:05 134
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar diambil dari laman berita Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Siapa pernah mendengar ujaran seperti ini, "Apa yang lebih seram dari setan? Ya, mulut lelaki patriarki."

Mungkin tak jarang kita melihat penyebab gagalnya pernikahan pasangan muda ialah persoalan strata sosial. Laki-laki yang merasa superior dan ingin dianggap sebagai provider bagi pasangannya seolah tabu bagi beberapa perempuan. 

Mengapa hal tersebut menjadi faktor signifikan yang menghalangi sebuah relationship melangkah ke jenjang yang lebih serius? Pertimbangan yang sangat matang tentunya menggugah sanubari pihak pria. 

Berdasarkan informasi yang saya dapat, dua dari tiga pria terwawancara yang saya jumpai di pelataran tugu Monumen Nasional (Monas), DKI Jakarta pagi tadi (12/05), menyetujui narasi yang tertuang dalam judul berita ini.

"Saya lebih suka perempuan menjadi ibu rumah tangga juga istri yang baik sedangkan saya mencari nafkah untuk mereka. Saya sengaja mencari istri bukan dari keluarga berada atau berpendidikan bagus supaya dia patuh dan berguru hanya kepada saya. Kebetulan saat itu istri saya didesak untuk segera menikah di umurnya yang tidak muda lagi," tutur AF atas tanyaan terkait "benarkah laki-laki insecure dengan strata sosial pasangannya?"


Saudara NZ yang berusia sekitar 35 tahun menambahkan,

"Biarkan saja perempuan yang mengurus kerapian dan kebersihan perlengkapan rumah, menyusui anak, membersihkan popok anak, melayani saya, saya yang laki-laki bekerja untuk beli beras dan makanan anak-anak di rumah. Perempuan tidak usah bekerja," begitulah pungkas NZ kiranya. 

Mengapa tampaknya beban domestik hanya ranah khusus perempuan yang tidak seharusnya dimasuki laki-laki? Tentu ideologi patriarki yang sangat mengedepankan kepentingan laki-laki, mengagungkan nilai-nilai maskulin, dan di waktu bersamaan mengesampingkan kepentingan perempuan dan merendahkan nilai-nilai feminin.  

Berbeda dari dua pria sebelumnya, RG mengatakan bahwa, "Justru saya lebih senang mendapatkan pasangan yang setara dengan saya. Saya akan mendukung penuh pasangan saya untuk melanjutkan studinya atau bahkan tetap bekerja jika sebelum menikah dengan saya ia sudah bekerja. Karena sekolah pertama anak adalah ibu, yang banyak waktu di rumah, selagi saya bekerja dengan istri saya yang berlatar pendidikan baik, saya berharap keturunan saya juga dididik dan cerdas seperti ibunya. Saya rasa itu sudah risiko jika ingin mendapatkan pasangan yang baik maka saya juga harus memantaskan diri seperti tipe pasangan yang saya inginkan," pungkas salah satu mahasiswa universitas Islam tersebut.

Mengapa perempuan dianggap lebih diterima jika menjadi laki-laki dibandingkan laki-laki menjadi perempuan? Dalam artian, perempuan boleh bekerja di luar rumah dan tetap mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi laki-laki tampak "rendah" ketika melakukan pekerjaan rumah. Akhirnya, beban yang menumpuk di pundak perempuan membuat mereka tidak bisa menjadi "sempurna" dalam bidang apa pun, sehingga imbalan atau kasih sayang terhadap perempuan sangat minim.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Love Selengkapnya
Lihat Love Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun