Arie Yanwar
Arie Yanwar

Menulis sebagai bentuk apresiasi pada pengetahuan

Selanjutnya

Tutup

Energi Pilihan

''The Next Rockefeller''

30 Desember 2017   01:19 Diperbarui: 30 Desember 2017   01:39 1267 0 0
''The Next Rockefeller''
Ilustrasi dari buku yang sama

Siapa Rockefeller berikutnya? Saya mengangkat nama J.D Rockefeller mengingat dia adalah entrepreneur pertama di bidang energy. Pasca perang saudara AS, negeri tersebut mulai mengalami economic boom dimana terjadi peningkatan kebutuhan minyak tanah atau kerosene sebagai penerangan di malam hari. Sebelumnya lampu penerangan menggunakan minyak paus (whale oil) yaitu minyak yang diperoleh dari mamalia laut yaitu paus, tapi harga minyak paus sangat mahal sehingga hanya masyarakat kaya saja yang mampu membeli minyak tersebut. 

Penemuan minyak tanah memang memberikan alternative sumber energy yang lebih murah tetapi tidak andal karena masih tidak aman karena mudah terbakar dan menjadi penyebab kebakaran. Oleh Rockefeller lah industry kerosene menjadi lebih kompetitif, aman dan murah sehingga sehingga masyarakat kelas bawah pun sanggup membelinya.

Saat ini dunia sedang haus akan energy dan energy tersebut adalah listrik yang merupakan sumber energy yang efisien dan telah masuk kedalam setiap sendi kehidupan kita. Boleh dibilang masyarakat sekarang merupakan masyarakat yang kecanduan listrik. Gak percaya? Coba aja apa yang terjadi kalau listrik tiba-tiba padam selama 24 jam. Jangankan 24 jam, 2 jam aja juga sudah banyak yang gusar pastinya. 

Kita bisa berargumen bahwa hanya masyarakat perkotaan di negara maju saja yang haus akan listrik. Tapi pada kenyataannya menurut UN report, sejak 2014, 54% penduduk dunia merupakan masyarakat urban dan akan meningkat menjadi 66% di tahun 2050. Selain itu, konsumsi listrik pun bukan hanya ekslusif untuk masyarakat urban melainkan untuk seluruh manusia tidak peduli dimanapun mereka hidup.  

Tapi untuk memproduksi listrik dibutuhkan sumber energy lain dan yang paling populer adalah bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan batubara. Ya minyak bumi yang dulu oleh Rockefeller digunakan untuk menyalakan lampu di malam hari sekarang juga tetap digunakan untuk menyalakan lampu dengan diubah dulu menjadi listrik. Bukan cuma itu saja, batubara yang 200 tahun lalu merupakan penggerak revolusi industry di Inggris, saat inipun masih populer digunakan sebagai pembangkit listrik.

Ya, dunia memang butuh energy, ekonomi butuh energy utamanya listrik, tapi disaat yang sama penggunaan bahan bakar fossil untuk pembangkit listrik menyebabkan dunia ini semakin lama semakin panas. 

Bumi kita sedang mengalami krisis perubahan iklim yang mempengaruhi sendi perekonomian di seluruh dunia, mulai dari musim kering yang panjang sehingga menyebabkan gagal panen, kelaparan, dan kebakaran hutan sampai musim hujan yang terlalu lama yang menyebabkan banjir, penyakit dan tentunya kerusakan infrastruktur yang pada akhirnya menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar. 

Belum lagi pengaruh kenaikan suhu bumi yang menyebabkan es di kutub mencair dan pada akhirnya menyebabkan tenggelamnya kota-kota di wilayah pesisir.

Tapi bagaimana caranya menghentikan perubahan iklim ini? Kita gak mungkin hidup tanpa listrik, kita butuh listrik dan permintaan listrik juga terus meningkat. Jawabannya cuma satu yaitu penggunaan sumber energi alternatif yaitu nuklir. Kenapa nuklir? Bagaimana dengan energy alternative lain seperti panas bumi, angin dan matahari? Satu jawaban sederhana, energy alternative lain tidak bisa se efektif dan efisien seperti bahan bakar fosil dalam hal pembangkitan listrik karena sifatnya yang intermittent yaitu sangat tergantung dengan kondisi alam. 

Pembangkit listrik tenaga matahari akan berhenti menghasilkan listrik di malam hari, pun angin juga ketika angin tidak bertiup kencang. Memang ada negara yang dapat memenuhi kebutuhan listriknya dari 2 jenis sumber ini seperti Costa Rica. Tapi jangan lupa, populasi negara ini juga kecil, gak nyampe 5 juta orang per 2016 gak bisa di bandingkan dengan negara dengan populasi tinggi seperti Indonesia apalagi China.

Selain angina dan matahari, panas bumi juga merupakan sumber energy ramah lingkungan yang digunakan untuk menghasilkan listrik tetapi hanya bisa di hasilkan di daerah pegunungan yang jauh dari konsumen sehingga butuh biaya extra lagi untuk dibawa ke konsumen, dengan catatan energy yang dihasilkan cukup besar karena sifat geothermal serupa dengan minyak bumi yang pengeborannya penuh spekulasi. Lainnya halnya dengan nuklir, pembangkit listrik tenaga nuklir bisa dan bahkan lebih efektif dan efisien ketimbang pembangkit listrik batubara dimana saat ini PLTU batubara merupakan pembangkit listrik paling populer di dunia.

Untuk mengatasi krisis perubahan iklim, kita harus mengganti semua pembangkit listrik tenaga fossil dan yang paling memungkinkan sebagai pengganti adalah nuklir nuklir yang saya maksud disini bukan PLTN kayak di Fukushima melainkan PLTN generasi ke empat. Apa itu PLTN generasi keempat? Ada tiga hal yang bikin masyarakat parno sama tenaga nuklir yaitu kecelakaan kayak Fukushima dan Chernobyl, potensi pembuatan bom nuklir, dan mahal. 

Nah, PLTN generasi ke empat ini merupakan PLTN yang anti meltdown sehingga tragedy kayak Fukushima dan Chernobyl gak mungkin terjadi. PLTN ini juga anti proliferasi sehingga gak mungkin juga disalahgunakan untuk dijadikan bom nuklir. Serta potensi untuk bisa menjadi murah bahkan lebih murah dari pembangunan PLTU batubara.

Saat ini banyak yang sudah berlomba-lomba untuk mengembagkan PLTN generasi ke 4, baik yang berbahan bakar Thorium maupun yang menggunakan limbah nuklir. Tapi ada satu yang kurang yaitu belum adanya Rockefeller di sector ini. Ya, kita butuh seorang energy entrepreneur seperti Rockefeller. Dunia butuh seorang energy entrepreneur sekaliber Rockefeller yaitu seseorang yang visioner dan tentu saja berani mengambil risiko.

Kita sudah melihat kesuksesan Elon Musk ketika dia merevolusi perjalanan ke luar angkasa yang sangat mahal dan mematahkan stereotype bahwa proyek angkasa merupakan suatu hal mustahil dilakukan pihak swasta karena sangat mahal. 

Tetapi roket Falcon IX membuktikan sebaliknya dan bukan tidak mungkin bahwa dalam 1 atau 2 dekade ke depan, perjalanan luar angkasa menjadi suatu hal yang dapat dilakukan orang biasa. Walau masih belum menjadi alat transportasi umum, tapi teknologi Falcon IX sudah menuju kesana. Yang diperlukan adalah konsistensi sang entrepreneur untuk fokus kesana dan orang tersebut bisa Elon Musk, bisa juga orang lain.

Untuk kasus energy, dalam hal ini nuklir, polanya pun akan sama. Dibutuhkan seseorang yang visioner dan berani mengambil risiko untuk dapat mengembangkan teknologi nuklir generasi ke 4. Seorang yang melihat nuklir sebagai solusi untuk masalah energy dan perubahan iklim. 

Seorang yang melihat nuklir sebagai potensi untuk membawa kehidupan umat manusia yang lebih baik dengan mengantikan semua pembangkit listrik bertenaga fossil di seluruh dunia dengan PLTN generasi ke 4. Seorang yang bisa membuat PLTN generasi ke 4 menjadi lebih efektif, efisien dan murah sehingga dapat dibeli oleh negara-negara berkembang. 

Tentu saja orang tersebut harus mampu mengubah paradigma nuklir yang selama ini lebih banyak hembusan negatifnya ketimbang hembusan positifnya.

Saat ini ada beberapa perusahaan yang berusaha mengembangkan teknologi nuklir generasi 4 sebutlah Terapower, Thorcon dan lain-lain. Tapi dibalik perusahaan tersebut belum ada atau setidaknya saya belum melihat sosok entrepreneur visioner seperti Elon Musk yang mengendalikan perusahaan tersebut selain sosok Bill Gates sebagai investor di Terapower. 

Mungkin kondisinya akan berbeda seandainya Bill Gates 20 tahun lebih muda dari umur sekarang. Dengan kata lain, dunia menantikan adanya the next entrepreneur di bidang energy seperti J.D. Rockefeller, dengan menyediakan pasokan listrik yang aman, murah dan ramah lingkungan ke rumah kita semua yang tentu saja dapat menyediakan solusi akan kebutuhan energy kita dengan keinginan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang disediakan dari nuklir.