Miftahudin
Miftahudin GURU & PayTrener (Kompasianer Brebes)

Penulis adalah seorang guru yang suka menulis.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Guru Agen Perubahan

12 Mei 2018   10:16 Diperbarui: 12 Mei 2018   10:43 187 1 0

"Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

( QS. Ar Ro'd ayat 11 )


Ada sebuah kisah yang sangat populer yang sampai ke telinga saya pastinya pembaca juga pernah mendengar, tetapi saya tidak tahu persis sumber aslinya. Cerita itu kurang lebih begini. Ketika tentara Sekutu menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, dua kota di Jepang, hingga menelan korban ratusan ribu orang, penulis pernah menonton film X-Man yang isi ceritanya juga ada peristiwa bom atom. Kaisar Hirohito pun bertanya kepada perdana menterinya, "Masih ada berapa banyak guru yang masih hidup?".

Masih menurut cerita tadi, mengapa yang ditanyakan oleh Kaisar Hirohito adalah guru, bukan tentara? Karena guru diyakini oleh Kaisar Hirohito mampu membentuk genarasi baru yang lebih baik. Sebuah generasi yang akan merekonstruksi negeri yang sudah lukuh lantah diterjang dahsyatnya bom atom. Dan terbukti. Jepang sekarang menjelma menjadi negara terkemuka di dunia. Industri otomotis misalnya bisa merajai di Indonesia. Banyak mobil ataupun motor yang ada di Indonesia berasal dari pabrikan Jepang.

Terlepas dari benar tidaknya cerita tadi. Saya ingin menegaskan kepada pembaca tentang arti pentingnya peran dan fungsi guru sebagai agen perubahan. Bukan sekadar perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, atau dari bodoh menjadi pintar, tetapi terkait dengan perubahan peradaban manusia. Perubahan yang memungkinkan sebuah bangsa mengalami metamorfosis.

Seharusnya bangsa kita Indonesia bisa belajar dari negara tetangga. Indonesia harusnya bisa lebih hebat dari Jepang. Dengan banyaknya fakultas-fakultas pendidikan, pondok pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Indoesia mempunya sumber daya manusia yang hebat-hebat.

Ironis, di Indonesia begitu banyak guru yang masih menganggur dan banyak guru yang belum sejahtera. Masih kurangnya perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat itu sendiri. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi.

Jangan berkecil hati wahai para guru. Jasamu pasti dikenang sepanjang masa. Teruslah mengajar dan membimbing para murid. Tanpamu guru aku bukan siapa-siapa. 

Hidup guru.

Guru agen perubahan.