Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bagaimana Nasib Beasiswa Pendidikan dan Penelitian Jika Ganti Pemerintahan?

12 April 2019   10:22 Diperbarui: 12 April 2019   11:03 0 3 2 Mohon Tunggu...

Mungkin ini hanyalah pikiran nakal kalau tidak bisa dianggap sebagai sebuah kekhawatiran dari seorang kuli akademis yang masih sangat junior seperti saya. Ya, jika ganti pemerintahan, bagaimana dengan nasib beasiswa dan penelitian Kedepan? 

Apalagi melihat debat capres dan (terutama) cawapres terakhir saya kok merasa belum mendapatkan jawaban yang konkret terutama dari kubu penantang tentang program di bidang pendidikan, terutama di bidang riset. 

Menurut saya jabawannya kok cenderung retoris dan agak abstrak. Entah itu karena kedunguan dan keterbatasan pengetahuan saya dalam mencerna jawaban-jawaban dari cawapres tersebut, atau karena memang begiru adanya.

Salah satu prestasi atau setidaknya nilai positif --entah diakui atau tidak--yang telah dilakukan oleh pemerintahan sekarang adalah peningkatan riset di kalangan akademisi dan peneliti di Indonesia. Kebijakan pembentukan Kementrian Riset dan Perguruan Tinggi, terpisah dari Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) menurut saya adalah langkah yang tepat dan positif. 

Kemendikbud dulu terlalu banyak cakupan wilayah kerjanya, mulai dari pendidikan tingkat dasar bahkan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Selain itu pendidikan tinggi mestinya memang dipisah dari pendidikan dasar dan menengah karena memang selain beda karakter juga beda fokus. 

Pendidikan dasar dan menengah mestinya fokus agar bisa menyiapkan peserta didik sebagai insan yang berpengathuan dan berkarakter. Sedangkan pendidikan tinggi tugasnya bukan hanya untuk meluluskan sarjana-sarjana yang handal dan berkarakter tapi juga mengembangkan dan memproduksi pengetahuan, inovasi melalui riset. 

Jika tugas seorang guru adalah mengajar, mendidik dan membentuk karakter peserta didik, tugas seorang dosen adalah mengajar dan mendidik, melakukan pengabdian kepada masyarakat dan melakukan penelitian atau yang dikenal dengan tri darma perguruan tinggi.

Dengan dibentuknya Kemenristek Dikti, paling tidak ada beberapa capaian yang telah dicapai

Tersatukannya data semua peneliti dalam satu data base di bawah satu lembaga. Dulu sebelumnya terbentuk Kemenristek-Dikti, negara kita tidak memiliki data yang jelas mengenai berapa jumlah peneliti yang kita miliki. Bahkan setiap lembaga memiliki penelitinya masing-masing. 

Sebagai gambaran sederhana LIPI punya sendiri, Kemendikbud di bawah Dirjen Pnedidikan Tinggi punya sendiri, Kemenag di bawah Diktis juga punya, itu belum lagi Litbang setiap kementrian dan bahkan setiap perguruan tinggi punya sendiri-sendiri. 

Dan itu hanya mereka yang tahu datanya. Sekarang semua dosen dan peneliti tersatukan dalam data base Kemenristek Diktidan bisa diakses melalui indeks SINTA. Masing-masing punya nomor ID dan bisa kita lihat rekam jejak publikasi dan capainnya.

Terdatanya seluruh terbitan berkala ilmiah (Jurnal), publikasi ilmiah, dan hak cipta/paten. Melalui indeks SINTA yang dikembangkan oleh Kemeristek Dikti, kita telah memiliki data seluruh terbitan berkala ilmiah yang ada di negara kita. 

Kita juga memiliki data berapa jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan oleh para akademisi dan peneliti kita plus hak cipta atau hak paten yang telah mereka peroleh baik dari dalam maupun luar negeri.

Meningkatnya penelitian dan publikasi ilmiah dan juga hak cipta/hak patenSeperti yang saya pernah saya singgung dalam sebuah tulisan saya, saat ini di Indonesia saya sebuat sebagai "Era Jurnal". Lihat di tulisan saya. Setidaknya terjadi peningkatan gairah ilmiah yang luar biasa di kalangan dosen/akademisi di Indonesia saat ini. Melakukan penelitian tampaknya telah menjadi tren di kalangan dosen dan akademisi kita saat ini. 

Hal ini saya rasa berbeda dengan kondisi lima atau sepuluh tahun sebelumnya. Saat saya masih kuliah misalnya jarang ada dosen yang mau melakukan penelitian yang sungguh-sungguh apalagi melakukan publikasi ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi. Mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang mau melakukannya. 

Tapi sistem dan iklim yang ada sekarang mau tak mau memaksa dosen dan akademisi untuk secara regular melakukan penelitian. Dan ini menurut saya merupakan sebuah capaian positif.

Saya (secara pribadi) kok jadi khawatir jika ganti pemerintahan nanti ganti kebijakan. Bisa-bisa ganti lagi ganti kementrian. Kalau sekedar ganti menterinya sich tak masalah, tapi coba kalau sampai kementriannya dibubarkan lagi. Bisa-bisa semua harus dimulai dari awal lagi. 

Mungkin bisa jadi ini kekhawatiran yang berlebihan. Tapi juga beralasan, bukankah tradisi pemerintahan di negara kita adalah tidak mau melanjutkan capaian (positif) dari pendahulunya. Alasannya bisa karena banyak hal. Mungkin takut dikatakan imitasi. Berseberangan haluan ideology atau bahkan partai, karena kepentingan politis dan lain sebagainya.

Hal lain yang perlu saya bicarakan adalah masalah beasiswa. Dalam empat atau lima tahun terakhir, negara melalui beberapa lembagai baik Kemenristek Dikti, LPDP, Kementrian Agama telah membuka secara luas program beasiswa untuk jenjang S2, S3 maupun post doktoral baik di dalam maupun luar negeri. Dan ada ribuan atau bahkan belasan atau puluhan ribu anak bangsa yang sedang menempuh dan menikmati beasiswa tersebut. Diharapkan mereka kelak menjadi aset untuk membangun bangsa di masa depan.

Di Direktorat Pendidikan Tingga Islam di bawah Kemenag misalnya ada program beasiswa 5000 doktor yang dibuka sejak 2015. Program itu berlaku bagi dosen (yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi tentunya) untuk menempuh jenjang doktoral baik di dalam dan luar negeri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2