Mohon tunggu...
Anton Pramono
Anton Pramono Mohon Tunggu...

Saya ingin sekali bisa menulis dengan baik tetapi belum tahu banyak tentang menulis.

Selanjutnya

Tutup

Bola

Antar Ozil, Jakabaring dan Emosi Penggemar

24 Juli 2018   13:04 Diperbarui: 24 Juli 2018   13:35 759 0 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Antar Ozil, Jakabaring dan Emosi Penggemar
Antar Ozil, Jakabaring dan Emosi Pengemar Foto: Pixabay.com

Ozil baru saja mengumumkan dirinya untuk mengundurkan diri dari tim nasional Jerman. Ia merasa diperlakukan rasisme oleh fans sepak bola Jerman termasuk ketua Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB). Merasa diperlakukan tidak adil dengan terkait kinerjanya di piala dunia 2018, sehingga akhirnya Ozil memutuskan untuk tidak lagi mendukung tim nasional dalam pertandingan internasional. Sebuah keputusan berani dari seorang pribadi yang tumbuh besar di Jerman dan telah membuahkan puluhan prestasi untuk sepak bola Jerman.

Ia menyayangkan sikap standar ganda yang diterapkan kepada dirinya. Ozil merasa perlakukan  terhadap dirinya berbeda dibandingkan dengan pemain lain terkait dengan akar keturunannya yaitu Turki. Kecaman semakin menjadi jadi tatkala ia berpose dalam sebuah foto berdampingan dengan presiden Turki.

Sehari sebelum keputusan Ozil, di Indonesia juga ada peristiwa yang menarik yaitu kerusakan stadion Jakabaring di Palembang selepas pertandingan Sriwijaya FC vs Arema FC dengan skor 3-0. Stadion ini sebenarnya dipersiapkan dengan sebaik baiknya untuk dapat digunakan pada event regional, Asian Games. Namun disayangkan karena perilaku beberapa oknum, stadion inipun harus mengalami kerusakan yang cukup parah.

Kejadian ini cukup mengagetkan panitia Asian Games yang telah jauh jauh hari menargetkan kesiapan stadion. Tentunya agar stadion ini layak untuk digunakan sebagai arena pertandingan para peserta penghelatan olah raga regional yang bergensi ini. Apalagi ini menyangkut wajah Indonesia sebagai negara penyelenggara acara dihadapan para peserta dari berbagai negara di asia.

Sebenarnya keputusan Ozil untuk tidak bermain bagi Jerman dan kerusakan Jakabaring terlihat tidak saling berhubungan. Namun bila ditarik sebuah benang merah dimana sikap berlebihan terhadap sebuah kekalahan bisa menyebabkan kerusakan yang tidak hanya secara fisik seperti kursi stadion tetapi juga hubungan seorang olahragawan terhadap negaranya, perlu dievaluasi lebih dalam.

Menang dan kalah dalam sebuah pertandingan adalah hal biasa. Tentu semua orang sepakat dengan konsep ini, sebelum pertandingan. Tatkala laga pertandingan yang menyangkut jati diri mewakili bangsa atau daerah, timbullah gelora semangat luar biasa untuk bisa menang. Padahal sedari awal kita sudah sadar kalau sebuah pertandingan hanya akan menghasilkan tiga hasil, menang, kalah atau seri - sama sama kuat. Namun semangat untuk menang rupanya tidak dibarengi dengan kedewasaan untuk menerima kekalahan.

Menang dan kalah tidak hanya ditentukan oleh sebuah semangat dan kekuatan dari sebuah tim. Tetapi berhubungan juga banyak hal. Bisa menyangkut kekuatan lawan bermain yang memang luar biasa. Bisa juga tentang undian lawan pertandingan yang memang masuk di dalam group super tangguh. Bisa juga karena masalah hujan tadi malam. Namun itu semua memberikan justifikasi bahwa terlalu banyak faktor di luar kesiapan tim kesayangan kita, yang dapat ditarik sebagai penyebab sebuah kekalahan secara terukur dibandingkan menyalahkan salah satu personal atau seluruh tim yang melakukan pertandingan.

Kalau kita bergitu mengebu-gebu dalam memberikan alasan yang masuk di akal tentang potensi kemenangan tim yang kita elu-elukan. Mengapa kita tidak juga menggunakan akal sehat dengan analisis yang terukur untuk potensi kekalahan dari sebuah pertandingan. Sangat sayang, bila emosi marah yang meluap dalam menerima kekalahan dianggap wajar untuk sebuah hasil pertandingan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x