Aviv Azantha
Aviv Azantha

Mengikuti Setiap Perubahan Sehingga Dapat Menghargai Alur dari Proses Kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dialektika ''Ndeso Kutho''

14 Desember 2017   22:02 Diperbarui: 14 Desember 2017   22:30 914 0 0
Dialektika ''Ndeso Kutho''
dokumentasi pribadi

"pager upo iku luwih kuwat tinimbang pager boto"

(pagar nasi itu lebih kuat daripada pagar dinding/pepatah jawa)

Terkadang kita mendengar, apa yang dapat dilakukan oleh orang pedalaman/ pelosok/ desa/ kampung selain hidup dalam kekumuhan. ada juga yang menyebutkan kehidupan mereka dalam keterbelakangan serta minim teknologi. mungkin saja memang demikian disatu sisi, namun apakah secara keseluruhan demikian?

Di zaman sekarang hampir semua aktifitas kehidupan manusia dapat diakses dengan mudah memalui media sosial. mulai dari aktifitas-aktifitas ringan semacam jalan-jalan pagi dan ngopi hingga aktifitas-aktifitas berat semisal diskusi politik  dan kermiskinan semua terangkum dalam genggaman. dengan segala fasilitas yang ada dalam internet maka daya ketergantungan manusia kepada kebutuhan ini semakin besar.

Dengan kenyataan demikian maka dalam jangka yang panjang tidak mustahil akan berakibat pada 'nggosip' yang tidak berujung, lebih jauh akan kita temukan sebuah istilah masakini yang disebut dengan 'kenyinyiran'. tentu pendapat ini ada benarnya ketika kita menemukan semua aktifitas manusia yang diketahuinya lewat internet selalu dikomentari. 

Sekarang bagiamana kita melihat objek yang disebut dengan istilah 'ndeso' tersebut? sedikit banyak saya dapat menjelaskan hal ini karena baik secara langsung mapupun tidak langsung saya memiliki kaitan dengan objek tersebut. 

Secara  geografis desa memiliki struktur yang lebih terbatas dibanding dengan perkotaan. Terlebih ketika sebuah desa terletak di perbukitan, akses sosial infrastruktur dan yang lainnya tentu lebih sulit termasuk juga dengan harga-harga kebutuhan yang didatangkan dari kota. Dengan keterbatasan ini maka akan mempengaruhi pada aspek-aspek yang lain semisal kegiatan pembelajaran (pendidikan), akses penerangan (listrik) dan juga pembangunan jalan raya.

Disisi yang lain orang desa dicirikan dengan sebuah karakter yang memegang erat kebiasaan para pendahulu mereka. Kebiasaan ini bermacam-macam baik dalam aspek sosial, kepercayaan, serta adatnya.

Seorang teman pernah heran dan berkata, “Orang desa itu kadang berbohong juga ya”.

“Berbohong bagaimana?,” tanyaku.

“Saya itu pernah tanya alamat kerabat, katanya itu sudah dekat dan hanya tinggal melangkah namun ternyata masih jauh kawan,” balasnya.

Aku hanya tersenyum dan menjawab, “itu bukan bohong namun pemahaman kalian saja yang berbeda. Dekat menurut mereka namun jauh menurutmu, itu hanya masalah pendapat.”

Berbicara tentang perkembangan zaman dan modernisasi tidak dapat lepas dari yang namanya dialektika serta hubungan sosial masyarakat. Dalam interaksi ini juga akan berdampak kepada hal yang lain seperti pola pikir masyarakat, perkembangan kognitif, kepekaan sosial dan hal yang lain.

Setiap lingkungan masyarakat memeliki sebuah pola komunikasi yang jika dilihat lebih jauh maka akan ditemukan keunikan-keunikan tertentu. Masyarakat yang minim bersinggungan dengan teknologi akan lebih banyak berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Setiap membutuhkan bantuan akan langsung mencoba menemui orang yang dituju.

Saya menemukan, dalam acara pertemuan rutin lingkungan saja ada seseorang yang diamanahi untuk mengundang tetangga pintu per pintu. Berbeda dengan masyarakat yang lebih banyak bersinggungan dengan teknologi jika membutuhkan bantuan orang lain lebih banyak menggunakan gadgetnya untuk berkomunikasi.

Apa dampak dari dua perbandingan ini?

Secara psikologis seseorang yang sering berhubungan langsung dengan orang lain akan memiliki ikatan lebih kuat serta pemahaman batin yang lebih mendalam. Perasaan untuk saling memahami serta ikatan sosial juga kuat.

Masyarakat yang lebih mengedepankan teknologi di satu sisi memang mempermudah dalam pola komunikasi yang cepat dan efisien namun di sisi lain akan berdampak pada ketergantungan yang berlebihan jika tidak dapat mengelolanya dengan baik.

Penilaian tentang tingkat kesejahteraan dan kenyamanan hidup tidak serta merta dilihat dari fisik namun ada juga penilaian yang tidak terukur yang mempengaruhinya.

Satu piring nasi serta sepotong tempe goreng akan memiliki interpretasi sendiri pada masing-masing orang. Seseorang yang satu harinya makan dua piring nasi kemudian mendapatkan rezeki tiga piring nasi akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa, namun seseorang yang tiap hari makan nasi ayam kemudian disuguhi nasi dengan lauk tempe goreng akan merasakan kesengsaraan dalam merasakan makanan.

Bagaimanapun hidup kita, apapun keadaannya maka syukurilah karena banyak orang yang menginginkan kehidupan seperti milik kita.