Mohon tunggu...
Austrin Bahirsyah
Austrin Bahirsyah Mohon Tunggu... Sebaik baik teman duduk adalah buku

Ilmu itu seperti hewan buruan, sedangkan tulisan adalah tali pengikatnya. Maka ikatlah hewan gembalamu dengan tali kuat

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Keharusan Zaman dan Masalah Keadilan Umat dan Bangsa

3 Maret 2021   04:02 Diperbarui: 3 Maret 2021   04:15 44 0 0 Mohon Tunggu...

 Pada materi ini pemateri telah memberikan dan memfasilitasi ruang diskusi yang sangat baik namun yang sangat disayangkan pembahasan tentang keharusan zaman dan masalah keadilan umat dan bangsa tidak lebih dispesifikan. Karena banyak sekali pemikir Islam yang memiliki cita-cita yang jauh nan hebat

Ciri khas Kuntowijoyo dalam menerjemahkan kemajuan bangsa yang juga dicita-citakan oleh Nurcholis adalah perhatiannya yang tinggi akan perlunya teori sosial yang bisa menjembatani ideal Islam dan realitas sosial umat. Dalam membangun Teori Sosial Islam itu ia dihadapkan pada kenyataan bahwa teori sosial yang ada selama ini khususnya dalam lingkungan akademis di Indonesia kurang memadai (Dr. Manasse Malo. Pengembangan ilmu-ilmu sosial di Indonesia (1989))

Karena itulah demi suatu cita-cita transformasi masyarakat muslim ia merasa perlu akan suatu Rintisan yang disebutnya sendiri "ilmu sosial transformatif" atau "ilmu sosial profetik". Ia perlu membangun paradigma baru ilmu sosial yang tepat untuk umat Islam ini karena sejak awal ia meyakini bahwa ilmu itu bersifat relatif atau dalam bahasa Thomas Kuhn "paradigmatik". Umat Islam bisa membangun sendiri paradigma ilmu teorinya yang sesuai dengan tuntunan sosiologis umat Islam. Ilmu sosial transformatif sendiri dalam bayangan Kunto harus dibangun dari paradigma Alquran.

Menurut Kunto "konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh Alquran dengan tujuan agar kita memiliki Hikmah yang atas dasar itu dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan nilai-nilai normatif Alquran baik pada level moral maupun sosial" (Kuntowijoyo, Paradigma Islam: Interpretasi untuk aksi. Bandung, 1991)

Kritik Islam transformis adalah bahwa keterbelakangan bukan disebabkan oleh faktor-faktor teologis budaya atau mentalitas tapi karena ketidakadilan hubungan antara dunia maju dan dunia ketiga yang berwatak imperialisme pada tingkat global, dan bentuk-bentuk eksploitasi, dan hubungan-hubungan yang tidak adil pada tingkat lokal yang tercipta melalui hubungan dan cara produksi yang menghisap. (Mansour Fakaih, "Mencari teologi untuk kaum tertindas" 1990)

VIDEO PILIHAN