Mohon tunggu...
Aulia IndrianiArafah
Aulia IndrianiArafah Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa PAI UIN Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Bullying di Lingkungan Sekolah

18 April 2021   00:56 Diperbarui: 18 April 2021   00:58 63 1 0 Mohon Tunggu...

Disusun oleh: Aulia Indriani Arafah

Mahasiswa FITK UIN Walisongo, PAI-4A, 1903016038

Pendahuluan

Pada dasarnya, pendidikan memiliki dua tujuan yang saling berkaitan. Pertama, menjadikan manusia untuk menjadi pintar. Kedua, membentuk manusia dengan pribadi yang baik. Artinya, seseorang yang berilmu namun tidak diikuti dengan pribadi yang baik maka menjadi tidak berarti. Dengan demikian pendidikan moral begitu penting adanya bagi manusia.

Sekolah merupakan salah satu tempat dimana seseorang dapat mendapatkan pendidikan moral. Namun, di lingkungan sekolah masih sering terjadi kasus-kasus bullying.  Hal ini yang harus menjadi sorotan bagi pendidik untuk lebih memperhatikan perkembangan moral peserta didiknya, dan bisa memberikan pendidikan karakter dengan baik pada peserta didik. Karena jika kasus ini terjadi terus-menerus seperti menjadi suatu budaya, maka lembaga pendidikan menunjukkan kegagalannya dalam mendidik karakter peserta didik. Mengingat, bahwa sekolah merupakan salah satu tempat pendidikan karakter.

Bullying atau perundungan merupakan suatu bentuk kekerasan yang dilakukan oleh seseorang kepada seseorang lainnya yang dianggap kedudukannya lebih lemah atau rendah hanya untuk mendapat kepuasan tertentu, seperti ingin diakui menjadi yang paling berpengaruh atau yang paling disegani. Pada lingkungan sekolah, budaya bullying seringkali terjadi dengan atas nama "senioritas". Keinginan kuat remaja untuk menjadi pusat perhatian membuat remaja melakukan hal-hal yang dapat menarik perhatian sekitarnya, salah satu bentuknya yaitu bullying, remaja yang melakukan bullying membuat orang lain menjadi memperhatikannya. Untuk mengatasi permasalahan ini, pendidikan karakter menjadi salah satu cara untuk memperbaiki moral peserta didik, khususnya di sekolah. Selain itu, pendidikan dari keluarga dan lingkungan juga turut menjadi faktor dalam perkembangan moral.

Isi

Menurut Usman (2013), tindakan kekerasan dan perilaku bullying banyak muncul di kalangan remaja pelajar sekolah, hal ini dikarenakan pada masa remaja muncul sifat egoisentrisme yang tinggi. Pernyataan tersebut dapat dilihat dimana kasus bullying hampir selalu ada pada lingkungan sekolah, baik itu di jenjang tertinggi maupun di jenjang terendah sekalipun. Kasus bullying yang kerap terjadi di sekolah-sekolah contohnya seperti senioritas.

Dalam psikologi perkembangan, periode remaja sendiri terbagi menjadi dua periode. Pertama, periode remaja awal dengan rentang umur 12-18 tahun. Kedua, periode remaja akhir dengan rentang umur 18-22 tahun. Pada masa remaja awal perkembangan psikis remaja masih labil, artinya terjadi ketidakstabilan perasaan dan emosinya. Selain itu, remaja periode awal juga lebih mengutamakan emosionalitas, remaja yang mengutamakan emosionalitasnya, terkadang kurang mampu menerima pendapat orang lain yang bertentangan dirinya. 

Sedangkan pada remaja akhir, perkembangan psikisnya jauh lebih stabil dan matang. Namun, remaja yang berkembang dan tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif maka akan memiliki sikap negatif, emosinya juga lebih agresif dan regresif. Dengan demikian lingkungan dimana remaja tersebut berada benar-benar mempengaruhi perkembangannya. 

Dengan emosi yang masih belum stabil, dan pola pikir yang belum matang, dapat menyebabkan remaja meng-copy paste apa yang ia terima tanpa ada penyaringan sebelumnya. Semisal, ia selalu mendapatkan kekerasan verbal atau perlakuan kasar lainnya dari seniornya, maka secara tidak langsung anak tersebut merekam dan melakukan hal yang sama pada orang yang dianggapnya lebih lemah darinya. Pola seperti ini yang membuat kasus bullying di lingkungan sekolah terus-menerus terjadi seperti suatu tradisi yang turun temurun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x