Mohon tunggu...
Atika Suri
Atika Suri Mohon Tunggu... MAHASISWI UINSU KKN DR 133

Semua Artikel yang saya upload hanyalah berdasarkan opini saya.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Adaptasi Kebiasaan Baru, Mampukah Pulihkan Ekonomi Indonesia?

12 Agustus 2020   23:22 Diperbarui: 12 Agustus 2020   23:50 61 5 3 Mohon Tunggu...

Oleh : Atika Suri
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Apa yang dimaksud adaptasi kebiasaan baru?


Adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau yang sering kita sebut dengan new normal adalah kondisi dimana kita mulai merubah gaya hidup dan kebiasaan. Keadaan dimana PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai di longgarkan namun protokol kesehatan harus tetap dijalankan agar kita bisa melakukan aktivitas dan produktivitas dengan tetap melakukan pencegahan agar tidak terjangkit virus corona.


Adaptasi kebiasaan baru di terapkan di beberapa sector penting seperti tempat ibadah, pasar, restoran, pertokoan, transportasi umum, hotel dan lain-lain. Serta dilakukan saat wilayah sudah menjadi zona aman (zona hijau) berdasarkan hasil data dan fakta di lapangan.


Namun pemerintah indonesia tidak tinggal diam, pemerintah terus berusaha menahan virus mematikan ini, mereka terus saja melakukan kebijakan guna memperbaiki keadaan. Namun akibat dari virus Covid-19 dan semenjak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) ekonomi indonesia mengalami penurunan tajam, terutama pada sektor perdagangan dan sektor industri.


Bagaimana dampak AKB pada roda perekonomian indonesia?


Adaptasi kebiasaan baru atau yang sering disebut new normal adalah perubahan perilaku untuk menjalankan segala aktivitas dengan normal, perubahan tersebut tertuju pada perilaku kita. Hal ini bertujuan agar perekonomian masyarakat tetap bisa berjalan dan penyebaran virus bisa ditekan. Karena seperti yang kita tahu bahwa vaksin masih belum ditemukan, vaksin membutuhkan waktu percobaan sekitar 12 bulan sebelum bisa digunakan secara umum.


Pengamat ekonomi CORE Dr. Piter Abdullah menilai, adanya pelonggaran pembatasan sosial berskala besar tidak akan sepenuhnya membuat perekonomian indonesia lebih baik seperti sebelum adanya pandemi, perekonomian indonesia akan tetap tertekan. Bahkan beliau memperkirakan perekonomian tahun ini akan tetap minus, walau kegiatan perdagangan dan industri sudah dilakukan secara normal. Karena konsumsi masyarakat tidak akan langsung melonjak. Masyarakat akan lebih menahan diri dan memprioritaskan untuk membeli kebutuhan primer (Primary Goods).


Namun Adaptasi Kebiasaan Baru tidak bisa dijalankan secara terburu-buru karena akan mengakitbatkan ketimpangan yang semakin banyak. Protokol kesehatan mudah untuk diterapkan pada sektor usaha besar, namun pada pelaku UMKM sulit untuk diterapkan. UMKM akan semakin dibebankan dengan pembelian APD, masker, handsatitizer dan lain sebagainya. Untuk itu tanpa bantuan pemerintah maka new normal akan menjadi beban bagi UMKM. Selain itu konsumen yang berbelanja secara fisik juga akan berkurang. Mereka akan lebih suka berbelanja secara digital, tapi jika semua dilakukan secara digital maka para pekerja akan lebih banyak yang terkena PHK dan pengangguran akan semakin bertambah. Bersamaan dengan bertambahnya pengangguran maka beban pemerintah juga akan terus bertambah.


Kehidupan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru akan berhasil jika masyarakat indonesia disiplin. Tanpa adanya kedisiplinan masyarakat maka percuma saja dilakukan new normal, karena ekonomi indonesia tetap tidak akan mengalami kenaikan tetapi penyebaran virus semakin meluas.


Maka dari itu, pemerintah harus berhati-hati dalam menerapkan new normal, jika pemerintah salah langkah maka kebijakan ini akan menjadi boomerang. Akan tetapi disatu sisi keduanya harus tetap berjalan berdampingan. Masyarakat harus tetap sehat tanpa kelaparan, produktivitas harus tetap berjalan dan pandemi bisa ditekan.

VIDEO PILIHAN