Mohon tunggu...
Atep Afia Hidayat
Atep Afia Hidayat Mohon Tunggu...

Pemerhati sumberdaya manusia dan lingkungan

Selanjutnya

Tutup

Muda

Budaya Menulis di Kampus Indonesia Sangat Rendah

24 Februari 2012   18:32 Diperbarui: 25 Juni 2015   19:13 331 0 2 Mohon Tunggu...

Oleh : Atep Afia Hidayat - Ketertinggalan Indonesia dalam publikasi ilmiah internasional dibanding negara lain, tidak terlepas dari masih lemahnya budaya menulis di kampus. Perlu ditelusuri secara cermat apa penyebab utama ketidaktertarikan civitas akademika, khususnya dosen dan mahasiswa terhadap kegiatan menulis. Padahal sebenarnya menulis itu relatif mudah dan begitu menyenangkan.

Menulis erat kaitannya dengan proses intelektual, di mana pada mulanya timbul seberkas gagasan yang harus diformulasikan. Gagasan tersebut bisa diformat menjadi hal yang bersifat fakta nyata atau terlebih dahulu dalam bentuk konsep seperti tulisan atau desain. Esensinya Kampus merupakan agen perubahan semua bagi suatu bangsa dan negara.

Kemajuan suatu bangsa dan negara erat kaitannya dengan dinamika produktivitas gagasan kampus-kampus yang ada. Kalau diperinci per wilayah atau daerah bisa dinyatakan, bahwa taraf kemajuan suatu daerah, bisa setingkat kabupaten, kota atau provinsi sangat dipengaruhi keberadaan kampus di daerah tersebut. Sebagai gambaran, keberadaan Institut Pertanian Bogor (IPB) selain berkontribusi pada pembangunan nasional, juga selayaknya bisa memacu perkembangan daerah Kabupatan dan Kota Bogor. Berdirinya Universitas Negeri Papua (UNP) di Manokwari diharapkan mampu menjadi akselerator bagi kemajuan Provinsi Papua Barat. Begitu pula keberadaan kampus di daerah lainnya, kampus diharapkan bukan sekedar menara gading yang berdiri kokoh tetapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Untuk berkontribusi secara maksimal jelas kampus harus menghasilkan sekaligus menebar informasi terhadap lingkungan sekitarnya. Salah satu bentuk informasi yang disebarkan ialah dalam bentuk tulisan. Ada beragam tulisan yang “diproduksi” kampus, mulai dari artikel yang sederhana, makalah, dan jurnal. Untuk berkontribusi secara global idealnya kampus mampu menghasilkan jurnal internasional. Hal ini menjadi salah satu parameter untuk menentukan peringkat suatu kampus. Begitu pula supaya “dilirik” dan “disegani” secara nasional, kampus juga harus menghasilkan jurnal berkaliber nasional, atau dosen dan penelitinya berkontribusi di jurnal nasional eksternal.

Tak dapat dipungkiri, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) suatu bangsa dan negara sangat dipengaruhi oleh kualitas jurnal yang dihasilkan kampus-kampusnya. Hal ini bisa dirunut melalui situs SCImago Journal & Country Rank (SJR) , yaitu peringkat negara berdasarkan kualitas dan kuanititas jurnal internasional yang diterbitkannya. Adapun peringkat pertama ditempati Amerika Serikat dengan 5,32 juta dokumen; berikutnya berturut-turut China (1,85 juta dokumen); Inggris (1,53 juta dokumen); Jepang (1,46 juta dokumen); dan Jerman (1,40 juta dokumen). Perkembangan Iptek di China dan Jepang memang begitu fantastis hal itu didukung oleh keberadaan kampus yang mampu menghasilkan jurnal bertaraf internasional. Lantas posisi Indonesia di mana ? Ternyata ada pada peringkat 64 hanya dengan 13 ribu dokumen jurnal. Jauh di bawah negara tetangga Singapura, dengan peringkat 32 dan 109 ribu dokumen; dan Malaysia pada peringkat 43 dengan 55 ribu dokumen. Hal yang luar biasa terjadi pada India, ternyata berhasil menempati posisi 10 dengan 533 ribu dokumen. Dalam beberapa dekade terakhir kemajuan Iptek India, terutama bidang teknologi informasi begitu pesat.

Dari data di atas bisa dibuat simpulan, bahwa budaya menulis di kampus-kampus di Indonesia jauh lebih rendah jika dibandingkan kampus-kampus dibeberapa negara yang disebutkan di atas. Simpulan tersebut bisa lebih diperkuat dengan memanfaatkan data dari Webometrics. Sebagai gambaran jumlah kampus di Amerika Serikat yang masuk peringkat Webometrics US 3.277, sedangkan jumlah dokumen jurnal internasional mencapai 5,32 juta, dengan demikian rata-rata setiap kampus menghasilkan 1.623 dokumen. Untuk China (1,85 juta dokumen, 1.192 kampus, rata-rata 1.552 dokumen per kampus); Jepang (1,46 juta dokumen, 713 kampus, rata-rata 2.048 dokumen per kampus); Singapura (109 ribu dokumen, 21 kampus, rata-rata 5.190 dokumen per kampus); dan Malaysia (55 ribu dokumen, 75 kampus, rata-rata 733 dokumen per kampus). Lantas, bagaimana dengan Indonesia ? Jumlah kampus di Indonesia yang terindeks Webometrics Id mencapai 352, sedangkan jumlah dokumen jurnal internasional yang dihasilkan hanya 13 ribu, berarti rata-rata per kampus hanya 37 dokumen. Sangat-sangat tertinggal, dari segi rata-rata jumlah doumen jurnal internasional yang dihasilkan setiap kampus hanya satu per dua puluh Malaysia dan satu per seratus empat puluh Singapura.

Tak heran jika National University of Singapore (NUS) National University of Singapore (NUS) untuk katagori “Scholar” (jumlah publikasi ilmiah) dalam Webometrics edisi Januari 2012 menempati peringkat 50 dunia. Sementara di Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM) hanya menempati peringkat 591, Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat 689; dan Universitas Indonesia (UI) peringkat 663. Lantas, kampus mana yang budaya menulisnya paling hebat di dunia ? Ternyata peringkat pertama dunia ditempati Harvard University (Amerikas Serikat); Kedua Universidade de Sao Paulo (Brasil); dan Ketiga Massachusetts Institute of Technology (MIT) (Amerika Serikat).

Ternyata kampus-kampus besar di indonesia pun masih mengalami ketertinggalan dalam hal publikasi ilmiah termasuk jurnal internasional. Hal ini makin menguatkan fakta bahwa budaya menulis di kampus-kampus di Indonesia sangat rendah. Kemudian bagaimana solusi untuk mengejar ketertinggalan tersebut ? Adanya kebijakan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), bahwa mulai Agustus 2012 setiap lulusan perguruan tinggi (sarjana) harus mempublikasikan makalah di jurnal ilmiah; magister di jurnal nasional; dan doktor di jurnal internasional, diharapkan menjadi pemacu dan pemicu untuk mengembangkan budaya menulis di kampus-kampus, sekaligus mengangkat keterpurukan kampus-kampus di Indonesia dibidang publikasi ilmiah. Namun tentu saja hal itu bukan merupakan satu-satunya solusi, hal yang lebih penting ialah bagaimana setiap kampus memiliki kebijakan yang sistemik dan komprehenshif supaya setiap dosen dan mahasiswa mampu menghasilkan karya tulis ilmiah yang berkualitas. (Atep Afia).

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x