Analisis

Pendekatan Teoritis Komunikasi Internasional

9 Oktober 2018   02:12 Diperbarui: 9 Oktober 2018   02:15 486 0 0

Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Dengan komunikasi, manusia bisa menyampaikan pesan atau maksud dan tujuan mereka. Dengan artian komunikasi  adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan yang menimbulkan suatu hubungan timbal balik. Begitu juga dengan komunikasi internasional dimana ada proses pertukaran pesan, akan tetapi dilakukan oleh dua negara atau lebih. 

Dalam pengertiannya, komunikasi internasional yaiitu cara untuk bertukar pesan atau informasi antara sebuah negara guna menjalin suatu hubungan yang saling menguntungkan. Sedangkan teori-teori yang ada dalam komunikasi sangatlah luas dan beragam, dan mungkin akan terus berkembang seiring dengan berkembangnya pola komunikasi yang dilakukan oleh manusia.

 Teori menjadi salah satu landasan yang cukup kuat dalam dunia ilmiah dan pendidikan. Teori sering kali digunakan sebagai tolak ukur dari suatu tindakan. Pengertian teori itu sendiri adalah susunan definisi, konsep dan dalam menyajikan pandangan yang sistematis dengan menunjukkan hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya dengan maksud untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. 

Akan tetapi di dalam ilmu komunikasi terlebih komunikasi internasional, teori-teori tersebut dapat berubah seiring dengan berkembangnya suatu teknologi atau fenomena-fenomena baru yang terjadi. Mungkin karena adanya suatu pandangan yang tidak sisteatis dan terlebih tidak menunjukan hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain nya. Oleh karena itu, kita akan menyinggung sedikit tentang teori-teori dalam komunikasi internasional. Ada beberapa teori yang akan kita bahas, antara lain sebagai berikut.

  • Hegemoni

Kata hegeisthai (Yunani) merupakan akar kata dari hegemoni, yang mempunyai pengertian memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Secara umum hegemoni adalah sebagai suatu dominasi kekuasaan suatu kelas sosial lain nya melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu dengan dominasi atau penindasan.

Jika dikaitkan pada masa kini, pengertian hegemoni menunjukkan sebuah kepemimpinan dari suatu negara tertentu yang bukan hanya sebuah negara kota terhadap negara-negara lain yang berhubungan secara longgar maupun secara ketat terintegrasi dalam negara "pemimpin". Dalam politik internasional dapat dilihat ketika adanya perang pengaruh pada perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Sovyet yang biasanya disebut sebagai perang untuk menjadi kekuatan hegemonik dunia.

  • Aliran Bebas Informasi

Dalam medukung kapitalisme, fungsi utama komunikasi internasional adalah untuk mengembangkan demokrasi dan kebebasan pasar. Konsep aliran bebas informasi adalah cerminan dari negara barat, khususnya Amerika Serikat.

Perasaan tidak suka dengan aturan negara dan sensor media, digunakan sebagai alat propaganda oleh lawan komunisnya. Teori ini merupakan pemikiran dimana kepemilikan media seharusnya memiliki agensi yang lengkap dan memiliki hak untuk menjual dan mengiklankan produknya kepada siapa dan dimanapun yang mereka inginkan.

  • Teori Kritis

Teori kritis dikemukakan pada tahun 30-an oleh Max Horkgeimer. Teori ini memilih untuk mempertahankan kaitan antara nalar dengan kehidupan sosial dengan menghubungkan ilmu sosial yang bersifat empiris dengan klaim normative mengenai kebenaran.

Melalui teori ini, memungkinkan kita untuk membaca produksi budaya dan komunikasi dalam perspektif luas serta beragam. Konsentrasi kepemilikan produksi kebudayaan dalam beberapa produsen menghasilkan standarisasi komoditi komersial, konstribusi pada apa yang mereka sebut sebagai kebudayaan massa.

Hal ini dipengaruhi oleh media massa dan aturan pasar mengenai persediaan dan permintaan yang tumbuh subur dimasyarakat. Perhatian pada kepemilikan dan control dalam artian produksi kebuayaan dan argument yang secara langsung membentuk aktifitas para artis telah diperlombakan oleh beberapa penulis, dengan alasan bahwa kreatifitas dan konsumsi kebudayaan dapat membebaskan siklus produksi itu sendiri menjadi tidak terorganisir.