Mohon tunggu...
Yudha Ikhsan
Yudha Ikhsan Mohon Tunggu...

mysterious nerd\r\n

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Krisis Zona Euro: Nafas-nafas Terakhir Negara Eropa

11 Mei 2012   16:58 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:26 519 0 0 Mohon Tunggu...

Akhir-akhir ini perekonomian di negara-negara bawah Uni Eropa terlihat sangat lesu. Tingginya tingkat pengangguran pekerja akibat PHK besar-besaran, utang masing-masing negara yang masih bertumpuk membuat negara-negara eropa harus “mengikat tali pinggang lebih keras lagi” untuk menyelamatkan negara masing-masing. Yunani adalah salah satu negara yang sedang berjuang untuk keluar dari krisis ini. Sampai saat ini Yunani masih mendapatkan “nafas” yaitu talangan danadari Dana Moneter Internasional(IMF), Bank Sentral Eropa(ECB) dan Uni Eropa. Namun dilain pihak akibat dari pemenangan partai oposisi membuat pemerintahan Yunani dibawah tekanan agar melakukan penghematan besar-besaran untuk memenuhi syarat mendapat dana talangan dari Dana Moneter Internasional(IMF), Bank Sentral Eropa(ECB).

Selain itu, kemenangan Francois Hollande dari partai Sosialis atas Presiden Nickolas Sarkozy sepertinya tidak akan membuat efek berarti juga untuk perekonomian Prancis. Sikap pesimistis dari pendukungnya itu bukan tanpa sebab jika kita melihat perekonomian Eropa umumnya dan Prancis Khususnya. Jika melihat dari data BBC Total utang luar negeri Prancis sebesar 4,2 triliun euro atau 235 persen produksi domestik bruto(PDB) membuat pekerjaan rumah Presiden terpilih Francois Hollande sangat berat. Kebijakan penghematan besar-besaran dari Presiden Prancis sebelumnya Nicolas Sarkozy dan kanselir Jerman Angela Merkel adalah langkah yang sangat logis dan masuk akal untuk menyelamatkan perekonomian Prancis menurut mereka dan sepertinya kebijakan tersebut bakal diadopsi Presiden terpilih Francois Hollande setidaknya sampai krisis ekonomi zona Euro ini berakhir.

Jika melihat dari perkembangan bentuk perekonomian negara eropa seperti Perancis dan Yunani, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipelajari negara-negara Eropa tersebut sebelum krisis zona euro menghantam ke berbagai sendi-sendi perekonomian mereka. Mengambil pendapat dari ekonom ASperaih Hadiah Nobel Ekonomi 2008, pengetatan anggaran pengeluaran pada saat resesi ekonomi merupakan salah satu bentuk blunder atau kesalahan terbesar yang dilakukan oleh Prancis dan Jerman.

Akhir kata dari beberapa hal tentang krisis ekonomi zona euro yang akut menghinggapi para negara-negara eropa yang dulunya merupakan negara maju dan superpower dalam berbagai bidang akhirnya negara tersebut terlihat seperti kehabisan nafas terkena hantaman badai krisis ekonomi. Dari hal itu melalui dengan cara menunggu dana talangan dari IMF atau bank ECB mereka mendapat nafas pertolongan terakhir, seperti ikan yang tinggal memiliki nafas terakhir di sungai dangkal yang semakin lama semakin mengering di musim panas. Namun, akibat dari krisis ekonomi yang akibatnya merembet ke berbagai hal seperti badan usaha swasta, bank swasta, dan korporasi atau lembaga keuangan dan akhirnya IMF tidak dapat memberikan dana talangan lagi. Dari manakah “nafas-nafas” untuk mempertahankan perekonomian negara mereka?. Pada akhirnya krisis ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat dan sepertinya akan memberikan efek domino bukan pada negara-negara eropa lainnya saja bahkan bisa efek dari krisis ini dapat juga mengenai beberapa negara yang berada di Asia-Pasifik yang dimana banyak melakukan kerjasama dalam bentuk perdagangan barang dan jasa dengan negara-negara Uni Eropa. Pada saat inilah kita sangat berharap sebuah keajaiban dari tuhan terjadi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x