Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Media

Artikel 500 Adem Ayem

1 Juni 2014   06:04 Diperbarui: 23 Juni 2015   21:52 197 14 11 Mohon Tunggu...

Kepada Yth, Segenap Admin Kompasiana, dan semua rekan Kompasianer, yang terkasih. Salam hormat dan sejahtera bagi anda semua. Akhirnya menjadi pilihan mengirim surat terbuka sebagai artikel ke 500 saya di Kompasiana. Hal itu mengingat bahwa menulis itu akan focus kalau saat menulis bisa terbayang jelas kepada siapa tulisan ditujukan.

Dewasa ini semua perhatian tertuju kepada masalah politik, lebih tegas lagi menghadapi Pilpres kedepan. Bagi saya untuk menulis tetap ada gairah hanya masalah tulis menulis kampanye di hati ini adem ayem saja.

Puji syukur mari kita daraskan bagi Dia Tuhan yang Maha Baik. Kebetulan sekali Keluarga Besar Umat Kristani hari ini merayakan yang disebut Hari Komunikasi Sedunia yg ke 48. Mereka berdoa bersyukur atas realitas keterbukaan dan kemajuan teknologi komunikasi. Ajakan dilontarkan secara resmi oleh Gereja. Dokumen pertama dilontarkan oleh Konsili Vatikan kedua dengan judul Inter Mirifica. (Diantara Yang Mengagumkan). Hari Komunikasi Sosial Sedunia diperkenalkan pertama kali oleh Konsili Vatikan Kedua untuk memberikan pesan tahunan Gereja kepada jemaatnya dan kepada seluruh dunia. Paus Yohanes Paulus II sangat sering menyatakan bahwa tanggung jawab dan tujuan positif dari Komunikasi Sosial tidak hanya ditanggung oleh seorang individu namun melalui pesan-pesan yang disampaikan dalam festival religius ini dan melalui dukungan Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Inter_Mirifica)

Maka target utama artikel-500 ini adalah ikut menyambut Hari Komunikasi Sedunia itu dan menyampaikan ucapan terima kasih kepada Admin Kompasiana dan seluruh Rekan Kompasianers yang sangat membantu dalam saya mewujutkan 500 tulisan saya dari awal tahun 2010 hingga saat ini. Adapun untuk mengemukakan pendapat secara lisan meski dibantu teks, saya sudah terbiasa sejak tahun 1977 dimana saya menjadi anggota legislatip kabupaten sampai 2 periode, dan sejak 1990 saya menjadi relawan penyuluh pertanian dan pedesaan sampai tahun 2011. Tetapi untuk menulis seperti di Kompasiana merupakan proses perubahan yang tidak sedikit menurut saya.

Sungguh sangat berarti dan mengarahkan bagi saya system yang digariskan Kompasiana. Arahan itu melalui : system kanalisasi topic, system nilai penulisan (actual,inspiratif,bermanfaat,menarik), system kolom komentar pembaca, sistem sajian informasi registrasi artikel. Arahan itu menata cara kerja “menulis” yang saya ikuti perhatikan, dan patuhi untuk terlaksananya visi misi Kompasiana satu dan lain hal seperti Sharing and Connecting. Dari banyak tulisan saya tentang hasil pembelajaran dalam hal “menulis”saya merasa dapat menjadi indikasi: sejauh mana saya sungguh mengikuti wawasan Kompasiana / Admin.

Terima Kasih tak terhingga pula kepada semua rekan Komentator. Apapun bentuk dan ujutnya komentar itu menjadi guru besar bagi saya di versitas yang menyatu di Kompasiana ini. Komentar bagi tulisan saya masih agak kurang semarak jumlahnya. Dari 499 artikel baru mendapat komentar 4801 saja, jadi belum mencapai 10 komentar rata-rata. Sayang di halaman kompasiana tidak lagi ditayangkan seperti dulu pernah tulisan yang banyak terbaca. Tetapi mengenai jumlah pembaca kadang sangat sulit ditebak seperti ini :

Edukasi : Psikologi Lansia... . OPINI | 28 February 2010 10:25 . 3931 7   1

Dan ini : Sosbud. Beras (Produk Pertanian) Organik.... OPINI | 20 January 2010 12:06. 1820 0   0

Dan ini : Puisi. MISTER MISTERI LUCU.FIKSI | 27 November 2010 12:53. 305 29   1



Dan ini :Sosbud :Filsafat Awam & Theologi Umat.OPINI | 9 September 2011 05:49. 609 47   35

Lalu ini : Puisi :Mandala Damai, Fiksi, 18 June 2013/10,22 . 1753, 4, 1.

Dan ini :Puisi : Gersang, Fiksi. 27 September 2012/23.32 . 201, 30, 9

Kita dapat melihat bahwa kedatangan pembaca, pemberian komentar, dan pemberian nilai sungguh tidak bisa ditarik garis lurus. Maksudnya banyaknya pembaca, tidak selalu dapat diharapkan adanya pemberi komentar dan nilai. Maka masing-masing jenis topik dan kanalnya perlu dipelajari apa resultnya. Sesama puisi (dua terakhir) dengan pembaca 1753, hanya mendapat komentar 4 dan penilai 1; disbanding berikutnya 201 pembaca, mendapat komentar 30, dan penilai 9.

Kesemuanya sangat sangat disampaikan terima kasih. Sebab 500 artikel saya itu yang saya tulis dalam kurun waktu 4 tahun 5 bulan didukung oleh rekan-rekan penulis yang cukup banyak variasi orang dan pemberian pengaruhnya. Telah banyak pergeseran/perubahan kelompok peminat dan pemberi komentar. Meskipun mungkin juga topic dan kanal tulisan saya juga variatip. Menurut Dasboard Kompasiana ada 108 Sosbud, 95 Catatan H., 66 puisi, 56 Filsafat, 35 Cermin, 29edukasi, 27 Prosa, 16 NewM., 13 Muda, 9 Agama, 45 macam2.(humor, regional, politik dll) jumlah 499. Dan saya memang bukan tipe penulis yang rajin,th.’10 : 115 art.; th.’11 :118 art.;th.’12 : 127 art.; th.’13 : 97 art. ; th.’14 5 bulan hanya 43 untuk jumlah 500 art.

Dan saya ingin mengulang ungkapan saya ini :



Mau melihat kehebatan anda, lihat ketidak hebatan saya disini :http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/12/07/mau-melihat-kehebatan-anda-lihat-ketidakhebatan-saya-419737.html. OPINI | 7 December 2011 09:11 267   60   11

Banyak kali postingan saya dikoreksi Admin: kanal yang saya pilih, diubah. Urutan kata kunci/Tags, diubah. Semua itu karena sudut pandang dan method pendekatan yang saya pakai tidak sesuai dengan wawasan Admin. Saya berpendirian bahwa yang sudah saya kirim, biarlah terserah cara pembaca menangkap. Nah ini menunjukkan kebodohan kepala batu saya saja.

Satu kelemahan saya adalah kurang suka bicara dan berdiskusi hal politik, suatu topic yang pada umumnya makanan lezat buat jurnalis. Topik saya selalu kembali kemasalah sosbud, dari pendekatan filosofis, psikologis, edukatif. Kelemahan yang tidak nampak adalah kurangnya bacaan ilmiah dan baru. Yang banyak saya baca tulisan teman di Kompasiana, jadi pemikiran hanya berkutat-kutit disitu saja. Yaitu pengetahuan popular, dan kurang lepas terbahas.

Tetapi saya cukup bahagia, berkomunikasi dan connecting dengan rekan-rekan multi pandangan, aliran dan cara berfikir. Meminjam istilah Paus, Kompasiana adalah “agora” baru, “, suatu alun-alun publik tempat manusia berbagi gagasan, informasi dan pendapat, dan yang dalamnya  relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru dapat terwujud.” ,dan “ orang-orang yang  terlibat di dalamnya harus berupaya menjadi otentik , karena di dalam ruang itu,  orang tidak hanya berbagi gagasan dan informasi, tetapi pada akhirnya orang mengkomunikasikan dirinya sendiri.”

Maka saya mengajak segenap teman rekan penulis untuk selalu membangun berbagai bentuk dialog dan debat yang, seharusnya dilakukan dengan penuh hormat dan memerhatikan privasi, bertanggungjawab dan jujur. Demikian dapat memperkuat ikatan kesatuan di antara individu-individu kita sendiri. Pada gilirannya itu akan dapat memajukan kerukunan keluarga manusiawi secara berdaya-guna. Pertukaran informasi dapat menjadi komunikasi yang benar, relasi-relasi dapat mematangkan pertemanan, koneksi-koneksi dapat mempermudah  persekutuan. Dan langkah jauhnya membangun bentuk nasionalisme yang demokratis. (http://serpong.santoambrosius.org/2013/04/pesan-paus-untuk-hari-komunikasi-sosial-sedunia-ke-47/) Salam Hormat saya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x