Hasto Suprayogo
Hasto Suprayogo

indonesian creative designer & online social media consultant | astayoga@gmail.com | http://www.hastosuprayogo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Cheddar Man dan Imaji Identitas SARA

13 Februari 2018   04:54 Diperbarui: 13 Februari 2018   18:34 1097 1 0
Cheddar Man dan Imaji Identitas SARA
Rekonstrukti Cheddar Man. Sumber: The Guardian

Beberapa waktu belakangan, masyarakat Inggris dihebohkan oleh Cheddar Man. Bukan, Cheddar man bukanlah superhero macam Spiderman, bukan pula merek keju cheddar yang kerap dijadikan topping martabak. Cheddar man adalah sebutan fosil manusia purba terlengkap tertua di Inggris.

Ditemukan pada 1903 di Gough's Cave di Cheddar Gorge, Somerset, sebelah Barat Daya Inggris. Fosil ini dulunya seorang pria berusia dua puluhan yang tewas dalam kondisi mengenaskan, sebagaimana terlihat dari adanya kerusakan parah di tengkorak bagian kanan atas serta kemungkinan adanya infeksi tulang. 

Yang memicu kehebohan publik Inggris bukanlah penyebab kematian Cheddar man tak kurang dari 10 ribu tahun lalu. Tak pula tentang usianya yang masih begitu muda saat meregang nyawa. Namun, tampilan fisiknya --atau lebih tepat rekonstruksi tampilan fisik-- yang memicu kegaduhan.

Tim peneliti dari Natural History Museum yang dipimpin Ian Barnes, profesor Molecular Biology dari Royal Holloway University of London, di tahun 2018 melakukan pemetaan DNA berdasarkan sampel tulang tengkorak Cheddar Man. Hasilnya mengejutkan, karena berdasarkan peta DNA tersebut, Cheddar Man diketahui mempunyai tampilan fisik tak seperti yang dibayangkan selama ini. 

Alih-alih berkulit putih dan berambut terang (layaknya tipikal orang Eropa saat ini), nenek moyang masyarakat Inggris ini ternyata berkulit gelap, cenderung coklat kehitaman, dan berambut hitam bergelombang. Dan, berdasarkan analisis para ahli tadi, tak kurang dari 10% orang Inggris saat ini, mempunyai garis keturunan dari kelompok Cheddar Man tersebut.

Artinya, nenek moyang masyarakat Inggris, setidaknya sebagian dari mereka, berkulit gelap dan berambut gelombang. Sebuah fakta yang pastinya mengejutkan bagi banyak orang, khususnya yang selama ini mengagungkan superioritas ras kulit putih.

Reaksi masyarakat Inggris beragam. Banyak yang tidak terima dan cenderung menolak dengan temuan para saintis ini. Namun, tak kalah banyak yang menerimanya sebagai sebuah pencerahan dan mengambil perspektif positif bahwa nenek moyang semua manusia adalah satu adanya.

Jika kita tarik ke konteks Tanah Air, tentunya kita ingat beberapa waktu lalu di Indonesia ramai perdebatan soal pribumi dan nonpribumi. Bagaimana isu siapa yang pantas disebut asli Indonesia dan siapa yang bukan memanaskan pembicaraan di ruang publik jelang dan selama masa pilkada di berbagai daerah.

Masing-masing pihak menggunakan alasan dan memberi justifikasi atas klaimnya. Yang mengaku pribumi bersikeras lebih berhak hidup dan menentukan arah politik negeri, yang disebut nonpribumi menolak dikebiri haknya sebagai bagian dari bangsa ini.

Nampaknya, jika ada satu pembelajaran dari Cheddar Man, adalah ras, warna kulit atau rambut, tak lebih dari atribut fisik semata. Bisa jadi tampilan tubuh kita berbeda, bisa pula suku kita tak sama, namun selama kita mengaku dan menunjung tinggi komitmen bersama bernama Indonesia, kita adalah satu bangsa.

Komitmen atas Indonesia artinya komitmen akan cita-cita bersama yang dirumuskan para bapak bangsa, yang dirumuskan pertama dalam Kongres Pemuda Kedua tahun 1928, yang dikuatkan dalam wujud Pancasila dan diturunkan lebih mendetail dalam Preambule UUD 45.

Komitmen bahwa kita bangsa yang satu, tanah air yang satu, bahasa yang satu. Komitmen untuk menjunjung nilai Ketuhanan yang tunggal, memandang dan memperlakukan sesama secara manusiawi, meneguhkan persatuan di antara kebhinnekaan SARA, menaruh kepercayaan lewat perwakilan dalam permusyawaratan demi akhirnya mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat dan anak bangsa.

Kita sama-sama tahu, dan kita sama-sama mengalami, beberapa waktu belakangan, begitu banyak isu, berita bohong hingga kampanye hitam dihembuskan berbagai pihak di media sosial tanah air. Seakan-akan berbagai elemen bangsa ini saling berbenturan. Bagaikan berbagai kelompok suku, agama, sosial saling berhadapan.

Padahal kalau kita kelupas kulit luar semua pertentangan di media sosial tadi, akan nampak jelas kepentingan politik lah yang tengah bermain di sana. Dan tak ada yang lebih menyedihkan melihat para elit politik menggunakan sentimen SARA untuk meraih suara, sementara mengorbankan kerukunan dan keutuhan bangsa jangka panjangnya.

Cheddar Man mungkin hidup sepuluh ribu tahun lalu, namun sisa keberadaannya memberi kita pembelajaran berharga. Jangan berhenti memandang manusia hanya dari kulit luarnya semata. Karena imaji kita akan sesama bisa jadi tak sempurna, apalagi jika hanya didasarkan wujud fisik atau warna kulit semata.

Tabik.