Mohon tunggu...
Asmul
Asmul Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswi

Mahasiswi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Homoseksualitas sebagai Hiburan

5 Oktober 2022   09:49 Diperbarui: 5 Oktober 2022   09:58 164 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana Adalah Platform Blog. Konten Ini Menjadi Tanggung Jawab Bloger Dan Tidak Mewakili Pandangan Redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Di era globalisasi ini homoseksualitas bukan lagi menjadi sekadar istilah di kamus, gender yang telah di akui di masyarakat, maupun aktivitas yang dirahasiakan, melainkan menjadi kebanggaan bagi pelakunya, rahasia umum bahkan hiburan yang dipertontonkan di media sosial, media massa, buku, film dan pertunjukan langsung didepan mata secara offline di bar, cafe dan beberapa tempat lainnya. 

Hal ini merupakan salah satu bentuk realita sosial yang menunjukkan perilaku menyimpang dari tatanan norma agama maupun sosial, begitu banyak peneliti yang mengangkat tema homoseksual, namun penelitian tersebut masih belum selesai hingga saat ini, salah satunya dikarenakan banyaknya masyarakat yang menutup mata dari homoseksualitas dan lebih memilih menikmatinya sebaga hiburan tersendiri. Salah satu jenis hiburan beraliran homoseksual adalah komik, novel, film dan video singkat yang banyak dinikmati oleh kalangan wanita maupun kalangan homoseksual itu sendiri. Sebagai contoh adalah salah satu budaya populer dari Jepang berupa manga

Manga adalah istilah dalam bahasa Jepang yang merujuk pada hasil karya karikatur atau komik (Gusri et al.,2020), manga telah berkembang menjadi industri yang sangat populer dan sudah tersebar ke banyak negara di dunia, sama seperti jenis hiburan lainnya manga pun hadir dengan menyediakan beragam aliran yang mana salah satunya berfokus pada homoseksualitas atau yang lebih rincinya adalah shonen ai, shojo ai, yaoi dan yuri. Shonen ai adalah aliran yang menceritakan kisah cinta romantis pasangan laki-laki, dan tidak terlalu menunjukkan adegan seksual eksplisit. Sedangkan Yaoi merupakan genre komik ysng menceritakan kisah cinta romantis hingga erotis sesama pria dengan adegan seksual yang ditampilkan secara eksplisit dan detail, sebaliknya shojo ai dan yuri adalah yang menceritakan hubungan sesama wanita. 

Manga Shonen ai dan yaoi biasanya paling banyak digemari oleh wanita yang di istilahkan sebagai fujoshi, adapun manga shojo ai dan yuri paling banyak diminati oleh laki-laki yang diistilahkan sebagai fudanshi sebagaimana budaya di Jepang. Secara etimologi fujoshi memiliki arti wanita busuk atau wanita rusak, begitupula sebaliknya dengan fudanshi yang berarti laki-laki busuk atau rusak. Diistalahkan seperti itu bukan tanpa alasan, sebagian besar fujoshi dan fudanshi memang memiliki pemikiran yang jauh lebih liar dibanding kebanyakan orang, bahkan orang yang berpikir porno sekalipun, mereka memandang dunia dengan pandangan yng berbeda, meskipun dari luar mereka terlihat normal seperti kebanyakan orang, namun didalam dirinya ada pikiran dan jiwa bergejolak yang meronta-ronta dan kehausan akan asupan fantasi homoseksualitas yang terkadang mereka harapkan hal tersebut menjadi nyata dan terjadi dihadapan mereka ataupun terjadi pada diri mereka itu sendiri. 

Jepang bukan satu-satunya negara yang berkontribusi dalam penyebaran manga homoseksualitas, Korea, China, Thailand, Filipina dan Spanyol juga memiliki kontribusi besar dalam pembuatan komik homoseksualitas, sebagaimana yang telah penulis lihat sendiri. Selain karikatur dan komik, beberapa negara tersebut juga telah mengeluarkan beragam film maupun web series beraliran homoseksualitas yang diadaptasi dari komiknya, novel maupun memiliki naskah dan sutradara tersendiri untuk produksinya. 

Mirisnya adalah sebagian besar penggemar homoseksualitas sebagai hiburan dewasa ini tidak menutup-nutupi dirinya dari publik, bahkan terkadang menyerang publik dengan beragam gagasan dan doktrinnya tentang homoseksualitas dengan memaksa mereka untuk memiliki kegemaran yang sama maupun menyetujui pendapat mereka, tentu ada pihak yang mendebat mereka namun banyak pula pihak memilih diam dan menutup mata dari kasus ini dengan anggapan netral, tidak membenarkan maupun menyalahkan kedua belah pihak yang bersengketa. 

Dari sisi dan persepsi manapun, menjadikan homoseksualitas sebagai hiburan bukanlah hal yang baik, memang hiburan tersebut hanya fantasi dari penulis maupun pembacanya dan mereka menganggap itu tidak berhubungan dengan kehidupan nyata yang berjalan di atas bumi ini, homoseksual sendiri sudah menjadi penyimpangan, dengan menjadikan homoseksual sebagai hiburan maka sama dengan menyebarkan penyimpangan secara halus supaya dapat lebih diterima oleh pembaca baru aliran homoseksualitas yang pikirannya masih sempit, dan secara perlahan akan mempengaruhi dan merusak mental mereka sebagai heteroseksual yang masih berjalan diatas fitrahnya. Oleh karena itu, pendidikan seksual yang baik dan benar sangat diperlukan, baik dilakukan oleh orang tua dirumah maupun lewat instansi seperti sekolah sehingga tidak menimbulkan persepsi-persepsi baru tentang homoseksual yang semakin hari semakin menyimpang. 

Sumber: 

Fitriana, Rossa. Diaz Restu Darmawan. Efriani. Deny Wahyu Apriadi. 2021. Gejolak Fujoshi Dalam Media Sosial (Peran Media Twitter Dalam Pembentukan Identitas Kelompok Fujoshi). Kiryoku: Jurnal Studi Kejepangan. Vol. 05. No. 02. Diakses pada 5 Oktober 2022 08:14. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/kiryoku

Dewi, Putri Andam. 2012. Komunitas Fujoshi Di Kalangan Perempuan Indonesia. Jurnal Lingua Cultura. Vol. 06. No. 02. Ibrohim, Getsunova Ansyah. 2015. Salahkah Menjadi Gay. Ddiakses Pada 5 Oktober 2022 08:12. 

https://berbedapelangi.blogspot.com/2015/09/salahkah-menjadi-gay.html?m=1

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan