Mohon tunggu...
Asmari Rahman
Asmari Rahman Mohon Tunggu...

MEMBACA sebanyak mungkin, MENULIS seperlunya

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Di Pondok Pesantren Hubbulwathan

3 Februari 2019   00:10 Diperbarui: 3 Februari 2019   00:15 0 2 1 Mohon Tunggu...
Di Pondok Pesantren Hubbulwathan
Buya H. Muahmmad Khotbah Arrafie, Pimpinan Pondok Pesantren Hubbulwathan Duri

Kamis sore aku mampir dipondok Pesantren Hubbulwathan Duri, tak ada keperluan lain kecuali hanya sekedar melepas rindu kepada sang guru, Buya H. Muhammad Khotbah Arrafie yang pada hari ini memangku amanah sebagai pimpinan Pondok.

Seperti biasanya setiap Kamis, sebelum ke Masjid Buya berbuka puasa dulu dan setelah azan selesai beliaupun muncul, kami langsung bersalaman dan sholat maghrib berjamaah, tertebuslah sudah rindu yang selama ini dipendam.

Singkat cerita, usai makan malam dan sholat Isya berjamaah, kamipun duduk santai diteras Pondok, bercerita panjang lebar tentang masa lalu, masa dimana kami menuntut ilmu dengan kondisi pondok (waktu itu bernama sekolah KUTAB) di dusun Bagan Punak yang memprihatinkan, mengurai kenangan masa lalu dengan sesekali diiringi gelak tawa oleh berbagai cerita dan tingkah lucu murid-murid beliau dimasa lalu.

Manakala saat duduk diteras Pondok itu hadir pula adik kandung beliau Abdullah Syarif (kini sudah bergelar Doktor) dan beberapa puteranya yang juga sedang meneyelsaikan studi S3 nya, makin larut malam suasananya semakin hidup dan menyenangkan, ditambah pula dengan santapan bubur Kacang dan secangkir Kopi yang dihidangkan oleh isteri buya, Ummi Maimunah.

Kita kesampingkan dulu soal Bubur Kacang yang lezat, karena perbincangan kami malam itu yang merambah berbagai aspek kehidupan tak ubahnya seperti cerita dalam tiga cangkir Kopi. Cangkir pertama berisi  Kopi tanpa gula, cangkir kedua berisi Kopi dengan Gula secukupnya, dan cangkir ketiga berisi Kopi dengan Gula yang  lebih banyak.

Cangkir pertama terasa pahit dan tidak enak diminum, begitu juga dengan cangkir ketiga nikmat Kopinya hilang karena terlalu banyak gula, sementara Kopi pada cangkir kedua terasa nikmat, Kopi dan Gulanya sama terasa, sama-sama memberikan kenikmatan, takaran Kopi dan Gula yang seimbang menghasilkan rasa yang nikmat untuk dicicipi.

Demikianlah hidup, keseimbangan harus dijaga, terlalu pahit tentu akan membuat sengsara, dan terlalu manis juga tidak enak untuk dirasakan, namun perpaduan dari keduanya akan terasa lebih nikmat. Bila hidup susah jalanilah dengan tabah dan sabar, kesenangan hidup dinikmati dengan rasa syukur, susah dan senang dinikmati dengan penuh tawaqalillah, khusu' dan tawadluk, berserah diri sepenuhnya kepada Allah, sang pencipta yang maha mengatur hidup.

Kembali kecangkir Kopi itu tadi, Cangkir ketiga yang banyak Gulanya tadi bila dibagikan kecangkir yang pertama (Kopi tanpa Gula), tentu rasanya akan berubah menjadi nikmat, dan kenikmatannya  akan menyamai rasa cangkir yang kedua.

Demikianlah perumpamaan dalam hidup, sikap berbagi itu akan melahirkan nikmat tersendiri, rezeki melimpah jangan dihabiskan sendiri, tapi berbagilah dengan sesama, agar  orang lain juga ikut menikmatinya. Yang kaya berbagi dengan simiskin, bukan sebaliknya malah menjadi tengkulak yang siap menelan. Yang pintar membimbing yang bodoh, dan bukan pula bersikap membodoh-bodohi, begitu juga dengan sikuat harus mau menolong silemah,  sehingga terciptalah keseimbangan dalam pergaulan hidup sepanjang waktu.

Bincang lepas kami akhirnya tiba pada ujungnya, ketika dingin malam mulai terasa, dan kantuk sudah mulai mengganggu, akupun beranjak meninggalkan teras Pondok Pesantren Hubbulwathan dengan sebuah sebuah catatan penting bahwa hidup ini harus seimbang, dan menumbuhkan sikap berbagi dan tenggang rasa terhadap sesame, terima kasih guruku