Mohon tunggu...
Chairunnisa Ilmi
Chairunnisa Ilmi Mohon Tunggu... An Ambivert

Mahasiswa jurusan Antropologi Budaya di ISBI Bandung

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Aku, buku, dan Ibu

27 November 2020   13:20 Diperbarui: 27 November 2020   13:25 56 13 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Aku, buku, dan Ibu
Ilustrasi Aku, Buku, dan Ibu

Hari ini, yang telah menuntun hidupku menjadi sedemikian rupa. Utamanya adalah membaca.  Dengan membaca aku dilatih unuk bermimpi, mengasah imajinasi, dan pergi ke suatu tempat yang berbeda di setiap kepala. Dari itu aku makin ngerti dan membaca lebih banyak untuk mewujudkan mimpiku. Aku dapat belajar dari pengalaman hidup orang-orang yang hidup beberapa puluh tahun lalu, juga dari orang yang berada lintas pulau dan negara.

Dengan membaca, aku makin ngerti tentang hidup yang ingin aku jalani. Tentang untuk apakah aku hidup.

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu aku hampir kehilangan izin dari ibu untuk kuliah ke luar kota. Cita-citaku saat itu sudah ingin berkuliah ke luar negeri, Turki tepatnya. Padahal untuk keluar kota yang jaraknya hanya beberapa jam saja ibuku sudah melarang luar biasa. Hampir tiap hari aku merajuk pada ibu untuk mengizinkanku berkuliah. Tidak seorangpun keluarga besar kami yang berkuliah, nyatanya jadi ketakutan utama untuk ibu. Perekonomian kami pun pas-pasan. Untuk uang jajan saat SMA pun aku banyak mengandalkan hasil jualanku sendiri, menjajakan jajanan ke setiap kelas saat waktu istirahat.

Aku tidak ingat berapa tangisan dan kebingunganku saat itu. Setiap ada surat dari sekolah tentang kegiatan persiapan ujian masuk kuliah yang harus ditandatangani oleh orang tua selalu kuserahkan dengan hati-hati. Harus kupastikan untuk melihat air muka dan keadaan, takut ia sedang tidak enak hati. Atau semisal untuk mendapatkan izin mengikuti tes sejenis persiapan ujian masuk kampus pun aku harus memastikan bahwa aku tidak menyebalkan di hari-hari sebelumnya. Pokoknya hampir semua jalan kulalui untuk bisa kuliah di kota Bandung ! saat itu Sastra Rusia UNPAD menjadi dambaanku.

Akhir cerita, meski harus gap-year karena gagal pada tes SBMPTN tahun pertama, aku lolos di salah satu Institut di kota Bandung, dengan jalur beasiswa yang justru memberikan aku uang saku sebesar Rp. 600.000 setiap bulannya (Bidikmisi). Ketika pengumuman kelolosan itu aku harap-harap cemas. Malam hari, kudatangi ibu di kamarnya ''Mah, imi lolos, hehe''. Jawabannya hanya ''emm''. Sebuah jawaban yang melegakan hati. Setidaknya ia tidak cemberut.

Meski begitu, pada akhirnya ibu merestuiku pergi. Aku berangkat merantau dua bulan setelah pengumuman kelolosan. Ibu selalu mengingatkanku untuk pulang setiap sebulan sekali dengan bahasa non-verbal yang hanya ibu dan aku  yang mengerti.

Di tengah masa perkuliahan, aku dapat membuktikan pada ibu bahwa aku bisa bertahan meski terkadang membutuhkan uluran teman untuk makan dan mengganti tagihan kostan. Di masa perkuliahan pun aku ingin membuktikan kepada ibu bahwa aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Aku menjadi relawan di beberapa kegiatan, aktif berorganisasi di kampus, hingga saat aku semester 4 aku terpilih untuk menjadi delegasi simulasi Sidang PBB di Bangkok yang dibiayai oleh Dikti dan kampusku. Acaranya GGMUN, aku tinggal seminggu disana. Kupikir, sekian prestasi ku cukup untuk membayar janji pada ibu saat ku merajuk agar diizinkan kuliah, dulu.

Padahal, jika dipikir-pikir lagi siapa yang membawaku ke titik itu kalau bukan ibu ?

Orang yang pertama kali mengenalkan asyiknya membaca adalah ibu. Sejak kecil aku terbiasa melihat pemandangan ibu yang sedang membaca. Katanya, ibu memang suka membaca sejak ia masih sekolah. Aku ingat ada beberapa buku tebal bertumpuk di meja, ketika itu aku masih kelas 4 SD. Saat itu ibu sedang menyenangi buku agama yang ia pinjam dari tetangga. Aku sering memergokinya khusyuk membaca, dan jika sedang begitu ibu tidak suka diganggu. Ibu sering terlihat tenggelam dalam bacaannya. Entah itu majalah atau buku-buku. Dari sana pun aku turut mengikutinya melakukan aktivitas yang sama. Kucoba membaca buku tersebut meski aku tidak paham betul apa maknanya.

Majalah di rumahku bertumpuk, hasil membeli loakan dari pasar. Ibuku tak mampu membeli majalah baru waktu itu. Aku pun lebih menyenangi majalah karena berwarna-warni, penuh gambar, dan terkadang disisipi komik. Pernah suatu waktu ayah membawa setumpuk majalah bobo. Tentu saja aku senang ! katanya itu majalah bekas anak majikannya. Makin semangat aku membaca ! Aku selesaikan kuis dan sayembara hingga bertumpuk dalam sebuah amplop besar. Saat kubilang aku ingin mengirimkannya via pos, mamah berkata bahwa semua sayempara itu sudah kadaluarsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x