Atletik Pilihan

Hiperandrogen di Dunia Atletik

21 Juli 2018   05:55 Diperbarui: 21 Juli 2018   07:29 651 3 1
Hiperandrogen di Dunia Atletik
liputan6.com

Apa yang pertama kali diluapkan seorang atlet yang baru saja menyelesaikan suatu lomba, dan dialah yang menjadi juaranya? Apakah dia langsung mencari bendera negaranya, mencari pelatihnya, atau sujud di atas tanah lapangan?

Adalah Lalu Muhammad Zohri, begitu dia juara dengan mencapai garis finish di urutan pertama, dia langsung sujud syukur atas kemenangan dalam lomba lari nomor 100 meter di Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia. Zohri juara dunia! dengan catatan waktu 10,18 detik di IAAF World U-20 Championship.

Dubes RI untuk Finlandia, Wiwiek Setyawati Firman mengatakan, "Dia langsung sujud syukur bukan minta bendera ke official".

Dubes Wiwiek gemas karena banyak kalangan yang lebih mempermasalahkan bendera yang mestinya diminta Zohri dulu ketimbang sujud syukur atas kemenangan.

"Saya punya banyak bendera, tapi bendera saya  kan tidak diminta" tambah sang dubes Wiwiek.

Kemenangan Zohri selain membanggakan dan mengharumkan nama Indonesia, juga diharapkan dapat menjadi pemicu serta pemacu kebangkitan dunia atletik di negara kita, khususnya dalam cabang olahraga lari. Memperbaiki prestasi yang lebih baik lagi di masa depannya demi merah putih.

Hiperandrogen di Dunia Atlet

Sehubungan dengan Atletik, hiperandrogen baru-baru ini marak dibicarakan dunia olahraga, ketika Asosiasi Internasional Federasi Atletik, International Association of Athletics Federation (IAAF) menyetujui perubahan peraturan kontroversial untuk atlet dengan hiperandrogen. Organisasi tersebut ingin membatasi kadar testosteron di dalam fisik atlet wanita yang ingin ikut lomba lari 400 m, 800 m, dan 1.500 m.

Berdasarkan aturan baru nanti, atlet dengan hiperandrogen harus menurunkan kadar testosteron mereka untuk memenuhi kriteria "atlet wanita" dan ini menimbulkan kontroversi tentang diskriminasi bagi atlet wanita yang memiliki hiperandrogen.

Pemicunya adalah Caster Semenya, salah satu pelari terbaik dunia saat ini. Peraih medali emas Olimpiade ini memiliki kondisi hiperandrogen, dan kadar hormon testosteron (juga hormon seks pria lain) jauh lebih tinggi dari wanita pada umumnya akibat kelainan kromosom.

Sebenarnya, pada 2011 IAAF pernah membuat peraturan yang menentukan batas atas untuk level testosteron, tapi ini sempat diturunkan pada 2015 setelah protes dari atlet India, Dutee Chand.

Saat itu, tak ada bukti cukup untuk menentukan apakah kondisi ini memberi keuntungan pada wanita dalam kompetisi olahraga. Namun, kini mereka kembali berencana untuk membatasi kadar hormon atlet wanita yang ingin mengikuti perlombaan.

Menurut Prof. Yoga Coopo, kepala departemen olahraga dan studi gerakan di University of Johannesburg, studi kasus tahun 2018 menemukan bahwa perbedaan performa pada atlet wanita dengan hiperandrogen. Atlet dengan hiperandrogen yang melakukan lari 400 meter memiliki keunggulan sebesar 2,7 persen dari lawan-lawan mereka, sementara pelari 800 meter memiliki keunggulan sebesar 1,8 persen.

Namun, Prof. Coopo menegaskan bahwa keuntungan ini sangat kecil, dan IAAF semestinya tidak membuat peraturan diskriminatif karena kondisi hiperandrogen seperti dialami Semenya berada di luar kendalinya.

Hiperandrogen

Hiperandrogen adalah kondisi kelebihan hormon androgen pada wanita. Hormon androgen memengaruhi penampilan kulit dan pertumbuhan rambut. Hormon androgen merupakan hormon seks pria yang juga terdapat pada wanita dengan jumlah yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan jumlah yang ada pada pria. 

Atlet dengan hiperandrogen memiliki keunggulan lebih cepat berlari daripada lawan-lawannya (seperti doping).