Mohon tunggu...
Ashri Riswandi Djamil
Ashri Riswandi Djamil Mohon Tunggu... Profesi Guru Pekerjaan Menulis

Penulis Pemula Coba-coba asal bukan buat anak.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Suka Duka Menjadi Guru

25 November 2020   15:29 Diperbarui: 25 November 2020   15:41 88 7 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Suka Duka Menjadi Guru
dokumen pribadi

Menjadi guru tidak pernah ada dalam angan-angan. Kepikiranpun tidak. Ketika itu saat saya masih sekolah dulu. Kita semua mungkin mengalami hal yang sama. Pada akhirnya kok jadi guru juga. Yang tahu alasannya hanya diri sendiri. Terkadang saya pikir Ketika bertanya pada seorang kawan yang menjadi guru sekolah. "Apa yang membuatmu menjadi guru?" tanya saya. "panggilan jiwa".

Dalam hati saya saat itu: omong kosong! Tapi mungkin saja tidak. Tidak ada yang benar-benar tahu juga kan. kata dan dalam pikiran, hati siapa tahu. Mungkin karena tidak ada jalan lain saat itu yang membuat dirinya memilih mengajar di sekolah. Yang jelas-jelas secara penghasilan sangat kecil. Saya bicara guru non pns ya. Tidak semua sekolah swasta mampu memberikan honor atau gaji yang ya setidaknya sama dengan upah minimum pekerja kota atau provinsi atau daerah.

Tidak bisa disamakan kawan. Mereka sadar dan tahu betul itu. Tapi mereka tetap mengajar. Memilih profesi guru. Maka saya bisa menyimpulkan berarti benar kalau menjadi guru adalah panggilan jiwa mereka. Mungkin karena mereka masih muda dan penuh semangat. Tidak mengapa. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Kita bisa lihat sejarah sedikit. Sampai-sampai Ketika Jepang luluh lantak di bom atom. Yang pertama mereka tanyakan bukan berapa harta yang tertinggal, tetapi berapa banyak guru yang masih hidup. Lalu kita lihat bagaimana Jepang hari ini. Begitu berharganya guru itu.

Terlepas dengan sistem Pendidikan kita bagaimana, kurikulum berganti-ganti. Seharusnya bukan menjadi masalah besar bagi guru. Guru kata Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara adalah di gugu dan ditiru. Guru harus menjadi teladan. Guru sebagai garda terdepan masa depan Bangsa. Guru itu unik. Orang biasa.

Guru biasa tapi mampu melahirkan generasi yang luar biasa. Siapapun orang sukses tidak terlepas dari peran guru. Besar atau kecilnya peran guru itu tidak penting. Guru tidak hanya mengajar, tidak saja melakukan transfer ilmu pengetahuan. Tapi lebih penting adalah guru mampu mendidik. Mampu membuat murid menjadi orang yang mampu menghargai orang lain. Mampu bersosialisasi, kalau dalam agama Namanya akhlak. Akhlak atau budi pekerti itu yang utama. Ilmu bisa dipelajari, tapi akhlak baik itu sulit kalau tidak dibiasakan, sedari dini. Peran guru untuk menjaga, memotivasi murid untuk selalu menebar kebaikan diantara sesame. Kompetitif bukan yang saling sikut, menjatuhkan kawan. Tapi sportif. Mengedepankan kejujuran.

Guru sebagai social control, bukan control freak (gila kendali). Tidak mudah saya katakan tugas guru itu. Tidak mudah menjadi guru yang sabar. Tidak mudah menjadi guru yang kreatif. Maka guru juga harus terus belajar. Guru adalah manusia pembelajar. Stigma guru tahu semua itu sudah lewat. Pernah saya alami. Bahkan guru saja punya guru. Begitu seterusnya.

Kita semua tidak terlepas dari peran guru. Maka tidak heran bagi saya untuk menghadapi ucapan selamat hari guru. Seolah guru itu perlu diingat. Ada harinya. Entah ide siapa. Tapi itulah salah satu karakter manusia. Suka diingatkan. Ada tidak ada hari gurupun. Guru tetap menjalankan tugasnya. Meskipun saya guru, saya bahkan lupa kapan hari guru atau bahkan saya baru tahu kalau ada hari guru itu.

Atau memang saya tidak banyak membaca. Ini menjadi teguran bagi saya. Adanya hari guru ini. Untuk mengingatkan bahwa Bangsa ini ada tidak luput dari peran serta guru. Ada ungkapan yang pernah saya dengar. "there is no bad students only bad teacher". Ini cukup pro kontra juga sebenarnya. Bahwa tidak ada murid yang buruk, tapi guru yang buruk. Ini juga salah satu bentuk teguran sekaligus mengingatkan. Bahwa guru juga manusia biasa. Pasti berbuat salah. Tapi jangan berlarut dengan kesalahan yang dibuatnya. Ini bukti bahwa guru harus tetap belajar.

Bahkan belajar dari muridnya sendiri. Seperti ini. Guru belajar dari muridnya bagaimana muridnya bisa sabar mengikuti kelas yang diajarkan. Mohon maaf untuk guru pengampu mata pelajaran lain. Pasti ada stereotip, walaupun tidak kita inginkan tapi itu adanya di lapangan. Ada yang namanya pelajaran yang membosankan, guru yang membosankan, guru killer, guru asik. Itu hak murid kita men stereotipkan  gurunya seperti itu. Dan lagi ini menjadi bahan evaluasi guru juga. Mengapa demikian?

Ya Sebagian rekan guru ada yang tidak menerima disikapi seperti itu dengan muridnya. Tapi hei kita bisa saling belajar. Memang kita tidak mungkin membuat semua murid senang. Tidak mungkin. Paling tidak kita bisa me minimalisir tingkat keboringan murid dengan cara merubah cara mengajar guru tersebut. Tidak perlu ekstrim juga. Perlahan. Pasti bisa. Bisa mati berdiri di depan kelas. Bercanda

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x