Asham
Asham Pengajar TPQ

Belajar 'menulis' mengingatkan manusia melalui 'tulisan' tentang kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Penggunaan Partikel "Mi" Bahasa Sehari-hari Evi Masamba

12 Oktober 2018   18:42 Diperbarui: 12 Oktober 2018   21:01 658 4 2
Penggunaan Partikel "Mi" Bahasa Sehari-hari Evi Masamba
Taman Kota Masamba. Foto: Asham

Orang Sulawesi pada umumnya sering menambah partikel 'mi' ketika berbicara. Penambahan kata 'mi' merupakan kebiasaan orang Sulawesi secara turun temurun. Penggunaan kata 'mi' juga akrab terdengar di Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, tempat kelahiran seorang bernama Evi Anggraini,  yang namanya tenar dalam beberapa tahun terakhir. 

Bahkan nama kota kelahirannya dinisbatkan kepadanya. Evi kini dikenal dengan nama Evi Masamba. Pembahasan Evi bukan hal utama dalam tulisan ini, fokus penulis adalah penggunaan bahasa pertikel 'mi' dalam bahasa sehari-hari.

Penggunaan kata 'mi' terkadang membuat orang lain terkecoh. Apalagi, jika orang itu. Pertama kali menginjakkan kakinya di Sulawesi.

Kekeliruan seseorang dalam menangkap pesan yang disampaikan lawan bicara sering terjadi akibat penambahan partikel 'mi'.

Peristiwa dalam menangkap pesan sering terjadi. Ketika seseorang dipersilakan orang lain untuk makan. Contohnya seseorang berkata, 'Makan mi' (dalam bahasa ini terkandung makna perintah untuk makan). Akan tetapi, orang yang mendengarnya, seakan diperintah untuk memakan makanan siap saji, seperti mie instan, mie ayam, mie goreng dan 'mie' lainnya.

Atau orang lain menangkap perintah 'makan mi' seolah-olah mengajak orang lain untuk makan 'mie'. Padahal yang disajikan bukan 'mie'. Tetapi ikan, daging dan semacamnya. Tanpa ada 'mie'

Sebagaimana dikutip dari, www.wikiwand.com/id/ Partikel MI adalah kata imbuhan. contohnya dalam kalimat "makan mi", partikel mi bermakna mempersilakan, tetapi dalam kalimat lain, misalnya " besar mi", partikel mi berubah fungsi sebagai penegasan kalau orang/benda yang dimaksud telah besar (dewasa).

Dalam kalimat lain, misalnya "jadi satumi" partikel 'MI' kembali berfungsi sebagai penegasan jika benda/orang telah menjadi satu, beda dengan kalimat lain seperti "ambil mi" dimana MI berfungsi kembali untuk mempersilakan orang mengambil barang/benda.

Mi ini juga bisa diterjemahkan menjadi Saja, Sudah, Telah, ataupun -Lah, tergantung cara pemaikaian partikel mi, dan saat ataupun situasinya.

Bahasa Melayu Makassar terdiri dari 4 Dialek :

Dialek Bone, Dialek Palopo-Toraja, Dialek Parepare dan Dialek Kota

Meskipun ketiga daerah ini jauh beda dari Bahasa Makassar, tetapi ketiga daerah tersebut masih tetap menggunakan ciri khas Melayu Makassar yang menggunakan imbuhan -mi, -pi, -ji, -mo, -ki, -ta', -ji, -jeko, -meko, -ko, dan na-. Dialek Palopo Toraja mempunyai beberapa perbedaan, seperti imbuhan -lek, -bah, -toda', yang memang pengaruh bahasa asli daerah tersebut seperti Bahasa Tae' dan Bahasa Toraja. 

Dialek Bone mempunyai ciri khas yaitu berirama dan volume suara yang halus daripada logat asli makassar. Meskipun Begitu, banyak kosakata dari setiap dialek berbeda, dan yang paling umum di gunakan adalah dialek kota. Di bahasa ini, banyak kata yang mempunyai 2 arti sama pada 1 kalimat, misalnya "Na'ambilki itu tadi' bukuku" (Dia ambil (dia) itu itu buku saya), Contoh lainnya seperti "Begitu Mi Padeng" yang artinya "Begitu saja, jika begitu".

Asham
Masamba, Jumat 12 Oktober 2018.