Mohon tunggu...
Ary Adianto
Ary Adianto Mohon Tunggu... Great Communicators

orang yang suka perkembangan negara baik secara ilmu ekonomi, sejarah maupun geografi.

Selanjutnya

Tutup

Bisnis

Efek Domino Covid-19 terhadap Perekonomian Indonesia

13 Maret 2020   12:00 Diperbarui: 13 Maret 2020   12:28 4204 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Efek Domino Covid-19 terhadap Perekonomian Indonesia
Sumber: Shutterstock

Covid-19 pertama kali dideteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 setelah beberapa orang mengalami pneumonia tanpa sebab yang jelas dan prosedur perawatan dan vaksin yang diberikan ternyata tidak efektif. Setelah itu, ketika keadaan Kota Wuhan semakin memburuk pada tanggal 24 Januari 2020, Pemerintah Tiongkok memberlakukan lockdown atau karantina sekala besar untuk menutup Kota Wuhan dalam bepergian dan melakukan kegiatan sehari-hari.

Dengan penutupan Kota Wuhan tersebut menyebabkan kepanikan kepada negara-negara yang warga negaranya melakukan perjalanan maupun yang tinggal di Kota Wuhan. Sehingga banyak tindakan yang dilakukan banyak negera untuk memulangkan warga negaranya dan melarang perjalanan dari dan ke Tiongkok. Dengan ditutupnya akses pergerakan manusia dan barang dari dan ke Tiongkok tentunya akan menyebabkan efek domino terhadap perekonomian nasional. Menurut data yang diperoleh dari BPS pada tahun 2019 Tingkok merupakan parter utama perdagangan baik itu ekspor, impor maupun investasi Indonesia.

Sebelumnya untuk mengetaui dampak negatif dari Covid-19. Perlu diketahui dulu bagaimana suatu sistem perekonomian disuatu negara dapat berjalan. Sistem perekonomian merupakan suatu sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki baik bagi individu maupun organisasi dinegaranya. Bila kita melihat sistem perekonomian di Indonesia, perekonomiannya cenderung menganut sistem ekonomi campuran dimanana pelaku ekonomi seperti rumah tangga produsen, rumah tangga konsumen, peramerintah dan luar negeri meiliki peran yang sama penting.

Keempat pelaku ekonomi tersebut memiliki peran masing-masing dalam perekonomian Indonesia. Sederhananya konsumen bertindak sebagai faktor produksi yang menawarkan tenaga kerja dan mendapat upah yang nantinya dapat dibelanjakan barang atau jasa. Produsen yang berproduksi menjual barang atau jasa dan memberikan upah untuk tenaga kerja atas balas jasa dalam melakukan kegiatan produksi. Pemerintah menarik pajak dan mendistribusikan uang kembali lewat APBN. Dan luar negeri bisa menjadi konsumen ataupun produsen lewat ekspor, impor maupun investasi.

akuntansilengkap.com
akuntansilengkap.com

Semua itu saling terkait satu sama lain menjadi berputar secara terus menerus sehingga perekonomian bisa terus berjalan dan keseimbangan pasar. Dalam ekonomi biasanya disebut “circular flow of income and output”. Sebaliknya ketika salah satu pelaku ekonomi mengalami kendala dalam melakukan kegiatan ekonomi maka yang terjadi adalah ketidak seimbangan pasar.

Misalnya dari sisi konsumen, dengan adanya Covid-19 menyebabkan ketidakpastian di masa yang akan datang. Maka secara otomatis konsumen akan menahan belanja untuk berjaga-jaga karna adanya ketidakpastian. Ketika konsumen menahan atau mengurangi konsumsi secara otomatis permintaan barang menurun. Ketika permintaan menurun barang-barang yang diproduksi menjadi tidak bisa dijual atau bahkan tidak laku, sehingga produsen lebih memilih tidak melakukan produksi sehingga faktor produksi seperti tenaga kerja, bahan baku akan dikurangi.

Begitu pula dengan luar negeri. Perekonomian Indonesia sangat bergantung pada Tiongkok. Sebab, Tiongkok menurut data BPS pada tahun 2020 merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, sekaligus sebagai penyumbang wisatawan terbanyak kedua, setelah Malaysia. Belum lagi dengan ditutupnya penerbangan kesejumlah negara bisa dibayangkan berapa banyak potensi penerbangan dari dan ke Indonesia yang menguap, belum lagi bahan baku dan komponen elektronik dan bahan kimia yang rata-rata diproduksi di luar negeri menjadi tertahan. Pelabuhan, bandara, tempat wisata, hotel, akomodasi dan usaha berbasis jasa yang berhubungan langsung dengan perdagangan luar negeri menjadi lumpuh karna permintaan akan barang dan jasa berkurang. Hal ini sudah terjadi dibeberapa tempat seperti pemberhentian ekspor barang-barang mineral seperti batu bara ke Tiongkok pada bulan maret lalu, pemutusan hubungan kerja di daerah pariwisata seperti di Bintan dan Bali, bahkan menurut kutipan dari CNN Indonesia pada bulan maret 2020 tingkat okupansi hotel di Jakarta hanya sebesar 30% yang artinya 70% kamar hotel di Jakarta kosong.

Ketika semua itu terjadi banyak investor baik di pasar modal, sektor keuangan maupun direct investment menjadi berfikir ulang untuk berinvestasi karna adanya ketidakpastian dan investor takut untuk berinvesasi dan pada akhirnya investasipun ikut turun. Dan pada akhirnya terjadi kerugian terhadap perekonomian Indoneisa sendiri. Bahkan bank dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia  pada tahun 2020 tidak lebih dari 4,5 %. Hal itu mengindikasikan pertumbuhan terlemah semenjak kita mengalami krisis finansial asia.

Menurt Faisal Basri yang dikutip dari INDEF tahun 2020, ketika covid-19 tidak dapat ditangani dengan tepat dan makin mewabah pada akhirnya cepat atau lambat akan berpengaruh terhadap seluruh kegiatan ekonomi di Indonesia dimana konsumen, produsen, luar negri dan pemerintah. tidak dapat menjalankan perekonomian dengan semestinya dan membuat roda perekonomian berjalan terseok-seok bahkan bisa masuk ke jurang resesi.

Maka dari itu dipandang perlu bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan yang tepat agar seluruh sektor yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi tidak mengalami resesi. Seperti kebijakan penundaan penarikan pajak penghasilan yang bertujuan untuk mendongkrak daya beli masyarakat dan kebijakan fiskal lainnya dirasa perlu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

VIDEO PILIHAN