Mohon tunggu...
Arta Elisabeth
Arta Elisabeth Mohon Tunggu... Pembaca, Penulis dan Penghayat Sastra

Pembaca yang sedang senang-senangnya membaca

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Korupsi Nasional(isme)

22 Oktober 2019   10:23 Diperbarui: 25 Oktober 2019   15:14 0 0 0 Mohon Tunggu...
Korupsi Nasional(isme)
Benedict Anderson (sumber: dokpri)

Ketika sedang asyik membaca beberapa artikel di media online, saya menemukan sebuah tulisan menarik sehingga tergugah untuk menyebarluaskannya kepada semua pembaca (muda, hampir tua dan sudah tua). Apalagi di era masyarakat informasi ini, tidak mudah bagi saya menemukan tulisan serupa yang mengandung komposisi pas untuk dicerna, dikunyah dan ditelan sebagai sebuah konsumsi pengetahuan yang mumpuni menutrisi pikiran dan mengenyangkan akal. 

Semoga, siapapun pihak yang membaca tulisan ini, sama seperti saya, (merasa) tercerahkan untuk melihat nasionalisme dari kacamata seorang  yang paham sejarah peristiwa "Revoloesi Pemoeda" (1945-1949), Benedict Anderson.

Dengan demikian, tidak (lagi) terlalu sibuk mengurusi hal yang bukan urusannya, melainkan seperti kata Benedict Anderson ikut serta (terlibat) melibatkan diri  melakukan berbagai aksi, gerakan dan usaha reformasi yang tepat guna mengembangkan rasa nasionalisme sesuai kemajemukan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan negara bangsa Indonesia. 

Mungkin saja belum banyak  yang bisa kita lakukan, namun setidaknya tulisan ini dapat memantik niat dan hasrat untuk mengingat hal apa yang sudah dan akan dilakukan sebagai perwujudan pribadi nasionalis. Bukan malah fokus menghabiskan waktu mencari-cari kesalahan orang lain demi sebuah pembenaran sedang menjalankan agenda penegakan nasionalisme; seperti sibuk mengurusi orang yang korupsi, menghujat koruptor atau tidak sejahterah karena harta kekayaan Soeharto belum dapat diusut tuntas hingga saat ini.

Apabila pembayangan nasionalisme dihayati dengan sempurna, tentu tidak sedetikpun terbersit keinginan untuk korupsi. Justru kita akan rela mengorbankan nyawa demi perwujudan pembayangan tersebut. Jadi sudah nasionaliskah kita ? Atau jangan-jangan, kita merupakan pelaku yang sedang mengkhianati nasionalisme itu. Selamat berefleksi!

Opini Budi Susanto S.J.   

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, mengapa dan bagaimana peristiwa yang "terjadi" - atau lebih tepat "dijadikan" - oleh mahasiswa di Jogja, dalam bulan Mei 1998, boleh dinamakan sebagai gerakan Reformasi Nasional 1998. Seminggu menjelang 30 September 2019, lagi-lagi, mahasiswa (di) Jogja menjadi ingat untuk tidak melupa  tentang kuasa kata dari suara atau bunyi "r-e-f-o-r-m-a-s-i" dari masa lalu di bulan Mei 1998.

Itulah demonstrasi mahasiswa yang mashyur dinamai/kan "Gejayan Memanggil."   Menarik bahwa salah satu bahan untuk memperoleh kenang-kenangan tentang Reformasi Mei 1998 tersebut adalah penolakan mahasiswa terhadap RUU-KPK yang dibuat(buat?) oleh yang selama ini dikenal sebagai DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dari negara bangsa (nation state) RI yang berkantor di Senayan, Jakarta.

Lokasi peristiwa kenangan - boleh juga disebut "ritus sosial" - dari Reformasi Jogja 1998 tersebut dipilih tidak di Alun-alun Utara seperti seperti pernah dicatat sejarah; tetapi dikenangkan di pertigaan, pertemuan antara Jalan Kolombo dengan Jalan Gejayan yang kini dinamai/kan Jalan Affandi. Seminggu kemudian, demonstrasi Gejayan Memanggil jilid II, jatuh persis pada tanggal 30 September 2019.

Salah satu peserta demo "Gejayan Memanggil" yang pertama - 23 September 2019 - menggunakan kaos yang menarik pandangan penulis. Pemuda pendemo itu mengenakan kaos dengan kata-kata di bagian punggungnya, berbunyi "Ini Tanah Airku, Di Sini Kita Bukan Turis." Untaian kata-kata di punggung tersebut akan sangat mudah dipandang dan dibaca oleh orang yang ada di belakang pemuda tersebut; tentu saja tanpa sepengetahuan si pemilik kaos.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3