Mohon tunggu...
Muhammad Armand
Muhammad Armand Mohon Tunggu... Guru - Universitas Sultan Hasanuddin

Penyuka Puisi-Kompasianer of The Year 2015

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Jangan Menyerah Hadapi 1001 Sikap Mahasiswa

7 Januari 2015   02:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:02 527 38 36
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Biarkan mahasiswa itu tersenyum puas saat studinya kelar

BILA tugas mahasiswa telat disetor, pasti miliki argumen di baliknya. Sebab, tiada mahasiswa inginkan tugasnya molor kumpul. Pun, jika mahasiswa terlambat masuk ruangan kuliah. Pasti pulalah ada penyebab di baliknya. Bila (lagi), mahasiswa sulit menjawab soal ujian, tiada mengapa bila dosen mengritik diri sendiri. Bisa jadi butir-butir soal itu, tingkat kesulitannya memang tinggi.

Tiada hierarki

Jikalau dosen masih beranggapan dirinya sebagai pusat pembelajaran, maka itu kekhilafan yang maha dahsyat. Zaman berganti, era bergeser dan pola kehidupan sivitas akademia berubah. Dosen dan mahasiswa, sesungguhnya balutan kolaborasi, seni saling memahami dan teknik bekerja sama. Tiada lagi sekat-sekat ilmu pengetahuan antara dosen-mahasiswa. Teknologi informasilah yang gemilang mengubah semua ini.

Dosen-mahasiswa, keduanya 'diputari' oleh jejaring informasi di internet. Pernah, suatu ketika, saya sedang asik mengajar tentang hubungan sehat-sakit dengan psikologi. Tak kusangka, mahasiswaku lebih menguasai materiku. Ia mendiatasiku, lalu saya bertanya: "Wawasan Anda begitu bagus. Anda baca buku apa?Dia tersenyum atas sanjunganku: "Di internet Pak!". Saat itu, saya merenung 2 menitan bahwa saya wajib tinggalkan pola lama, patron klasik. Saya bukan sumber ilmu pengetahuan seorang diri, mahasiswaku pun sumber ilmu pengetahuan.

Mengapa salahkan mereka?

Begitu sulitnya saya terima akan profesi dosen yang begitu gampangnya menyalahkan mahasiswa mereka, bukankah perguruan tinggi itu adalah tempatnya untuk berbuat 'salah' untuk kemudian diperbaiki? Mereka masihlah 'anak-anak', bukan barang jadi. Sesalah-salahnya mereka, kita wajib memakai azas praduga tak bersalah. Dan, apakah kita telah berprofesi sebagai dosen, di saat -dulu- pernah menjadi mahasiswa, tiadakah kita melakukan kesalahan?

Idealnya, sebagai dosen saat menemukan mahasiswa yang 'bersalah', kita harus cepat-cepat membalik posisi, berposisi sebagai mahasiswa yang berharap dosen memberikan langkah cerdas atas solusi akan kesalahannya. Karena mereka bagian dari kita, 'satu tubuh' dengan kita. Mahasiswa memanglah kadang bahkan kerap menunjukkan perangai akademik yang kurang berkenan di hati dosen. Namun, jangan lupa, kita pun sebagai dosen, kerap menghadirkan sikap-sikap yang mereka kurang sukai. Jadi, podho wei. Mengapa kita tak saling mengoreksi? Demi sebuah terbukanya jendela-jendela edukasi yang bersandar pada humanity and humble.

Dosen dulu, baru mahasiswa

Skenarionya, jadi mahasiswa dulu, baru jadi dosen. Skenario selanjutnya, bila telah menjadi dosen, dijumpai masalah-masalah kesulitan belajar pada mahasiswa. Maka, jangan berpikir singkat bahwa mereka 'bodoh'. Korek-koreklah diri kita dulu, jangan-jangan kitalah yang 'bodoh' hingga lintasan ilmu itu, tidak sampai kepada mereka. Sebab, lalai intropeksi diri, akan kian berkembang unsur ego-ego dalam mengajar, menguji maupun meneliti. Ini yang kusebut, dosen dulu, baru mahasiswa.

Kelewat naiflah, bila kita mengeluh akan 1001 macam tingkah mahasiswa. Kelakuan mereka bukan untuk dikeluhkan tetapi dipelajari, dikaji untuk selanjutnya ditemukan formulasi bijak dan tetap ikut pada rambu akademik yang telah dibakukan namun tidak dikakukan. Alasannya sangat sederhana: Karier dosen berada di pundak mahasiswa...!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan