Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Pelukan Chiellini, Pelukan Kemenangan Italia

7 Juli 2021   05:58 Diperbarui: 7 Juli 2021   08:56 1442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Momen Giorgio Chiellini dan Ciro Immobile merayakan golnya di ajang Piala Dunia FIFA 2018. Foto: AFP/MARCO BERTORELLO via KOMPAS.COM

Sambil tersenyum Giorgio Chiellini memeluk Jordi Alba saat tos koin sebelum adu penalti. Wajah Alba nampak kalut, terlihat sangat khawatir,  Chiellini berusaha menenangkannya, Chiellini lagi memeluknya hangat. Gestur yang membuat seisi stadion untuk pertama kali bersatu dan bertepuk tangan bersama. 

Ketika Jorginho maju sebagai eksekutor terakhir Italia, Chiellini memeluk Locatelli yang gagal menunaikan tugasnya. Chiellini tak mau melihat eksekusi Jorginho dan tak lama kemudian, Chiellini sudah berlari dengan puluhan orang untuk memeluk Jorginho. Italia lolos ke final Euro 2020.

Kedua pelukan monumental dari sang il capitano, pelukan kemenangan untuk Italia.

Saya kira penikmat bola di seantero bumi setuju bahwa laga semifinal di Stadion Wembley adalah lagi tersulit bagi kedua tim, baik Italia Vs Spanyol. Bukan saja secara taktikal, tetapi secara fisik maupun mental kedua tim memacu diri untuk tampil mungkin lebih dari 100 persen kemampuan mereka.

Kedua pelatih mempersiapkan laga ini dengan matang.  Allenatore Spanyol, Luis Enrique  misalnya yang secara mengejutkan memainkan false nine. Enrique meninggalkan dua striker murninya, baik Alvaro Morata maupun Gerard Moreno di bench.

Siapa yang dimainkan oleh Enrique untuk menggantikan kedua pemain ini? Dani Olmo dan Oryzabal, dua penyerang sayap yang biasanya berperan sebagai supersub, kedua pemain ini  yang memporak-porandakan Kroasia dan Swiss di babak sebelumnya.

Tanpa striker murni, Spanyol bermain dengan pola false nine, tanpa striker dengan mengandalkan pegerakan dinamis dari Olmo, Oryzabal dan Ferran Torres.

Tentu saja ini dapat dimengerti. Tujuan Enrique jelas, menahan laju lini tengah Italia yang selama ini terkenal solid, dan tentunya memastikan bahwa penguasaan bola Spanyol tetap terjaga. Filosofi yang dipegang Enrique nyata; siapa yang memegang bola lebih banyak, dia yang akan menang.

Apakah strategi Enrique ini berhasil? Yup, dapat dikatakan berjalan sempurna, khususnya di babak pertama. Pergerakan gelandang bertenaga Italia seperti Marco Verrati dan Nicolo Barella berhasil dihambat. 

Dari data, diketahui bahwa ball possession Spanyol mencapai 70 persen. Artinya apa, Gli Azzuri yang dikenal atraktif di Euro 2020 menjadi melempem, dan dipaksa El Matador  untuk lebih banyak untuk bertahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun