Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... #FB : Arnold Adoe # Insta : Arnold_Adoe # Twitter : Arnold Adoe

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Mencermati Sisi Lemah Garuda Asia

10 Agustus 2018   22:33 Diperbarui: 10 Agustus 2018   22:46 506 1 0
Mencermati Sisi Lemah Garuda Asia
Bagus Kahfi bersiap menghadapi Thailand di Final I Gambar : Antara

Timnas Indonesia U-16 atau juga disebut dengan Garuda Asia tampil luar biasa sepanjang Piala AFF 2018. Selama turnamen, David Maulana cs sukses membuat catatan impresif dengan meraih enam kemenangan tanpa sekalipun menuai hasil seri dan menderita kekalahan.

Di fase grup, poin sempurna 15 diraih dari lima kali kemenangan dilanjutkan dengan kemenangan 1-0 atas Malaysia di laga semi final melalui gol penalti Bagus Kahfi. Kemenangan yang membawa Garuda Asia akan berhadapan dengan Thailand di laga final Sabtu besok.

Catatan itu juga semakin lengkap dengan permainan cantik yang tersaji di lapangan dan penampilan skill yang istimewa dari nama-nama seperti Brylian Negiehta, Andre Oktaviansyah M. Supriadi dan tentunya sang top scorer, Bagus Kahfi.

Di tengah euforia kegembiraan seluruh rakyat Indonesia ini,  muncul sebuah pertanyaan jelang laga melawan Thailand, apakah Garuda Asia sudah menjadi tim yang sangat sempurna atau masih ada yang perlu dicermati dan diatasi?  Di dalam semangat membangun, harus diakui Garuda Asia tetap memiliki sisi lemah yang harus dicermati jelang laga melawan Thailand ini.

Paling tidak ada 3 (tiga) hal yang dapat diperhatikan sebagai sisi lemah Garuda Asia.

Pertama, timnas U-16 masih belum terlihat ampuh mengatasi serangan balik cepat tim lawan.

Permainan total football ala Garuda Asia memanfaatkan hampir semua lini untuk membantu penyerangan termasuk kedua full back kiri dan kanan dari lini pertahanan. Namun disinilah kelemahannya. Kedua full back yang membantu serangan tersebut dapat menyisakan lubang yang dapat dimanfaatkan tim lawan apalagi jika lawan juga memiliki pemain depan dengan kecepatan lari yang mumpuni.

Hal ini dapat diperhatikan dari proses terjadinya satu gol dari Vietnam yang tercipta ke gawang Garuda Asia dan juga terlihat dari bagaimana Myanmar sangat  merepotkan Garuda Asia dalam laga fase grup. 

Menghadapi Thailand hal ini mesti dicermati dan diberikan perhatian yang lebihsungguh. Posisi bek sayap yang kemungkinan besar ditempati oleh Bagas Kahfi dan M.Yudha harus berpikir cerdas sebelum membantu serangan, atau memastikan sudah ada back up dari pemain lain ketika menerima serangan balik lawan  karena Thailand memiliki pemain depan yang memiliki kecepatan mumpuni.

Kedua, soal emosi punggawa Garuda Asia yang mudah terpancing lawan.

Satu kartu merah saat melawan Vietnam dan satu hukuman penalti yang diderita saat melawan Myanmar diawali oleh tindakan terpancing oleh provokasi dari tim lawan. Kedua pertandingan itu memang tersaji dengan tensi yang tinggi. Pemain bertarung di lapangan bukan saja secara fisik saja tetapi juga secara mental menghadapi lawan yang mampu memanfaatkan hal itu.

Pertandingan yang juga kembali menguras aspek non teknis itu kemungkinan terjadi melawan Thailand. Coach Fakhri harus lebih jeli dan pandai untuk memastikan bahwa bukan secara fisik, taktik dan teknik yang diharapkan berjalan baik namun juga kesiapan mental  para pemain menghadapi laga puncak.

Ketiga, fleksibilitas taktik dari coach Fakhri Husaini yang masih perlu diuji.

Maksudnya adalah timnas U-16 belum diuji secara sempurna menghadapi tim yang mampu mengimbangi dan menahan pergerakan kedua sayap yang menjadi kekuatan Garuda Muda selama ini.

Sebenarnya jika mau dicermati hal itu sudah sedikit terlihat ketika pertarungan melawan Malaysia. Garuda Asia terlihat kesulitan membobol gawang Malaysia karena tim lawan mampu menahan pergerakan pemain sayap kita dengan amat baik.

Perhatikan bagaimana penyerang sayap kiri paling berbahaya Garuda Asia, Supriadi yang terus dikawal ketat oleh pemain belakang Malaysia dan begitu pula M. Fajar di sisi kanan yang sedikit frustrasi menembus pertahanan hingga akhirnya digantikan Sutan Zico.

Oleh karena itu, Coach Fakhri perlu mencoba untuk memaksimalkan peran sektor tengah jika kemandekan serupa kembali terjadi. Memainkan 4-4-2 dengan memasukan tambahan salah satu pemain kreatif di tengah bisa menjadi salah satu solusi agar alur serangan lebih bervariasi karena kemungkinan besar strategi mematikan pergerakan sayap juga akan dilakukan oleh Thailand di laga final nanti.

***

Pertemuan Indonesia melawan Thailand di final ini dapat dikatakan sebagai laga final yang ideal. Thailand yang dimotori Thanakrit Laorkai juga berstatus juara grup dan tanpa terkalahkan sepanjang perjalanan menuju ke final.

Rekor pertemuan kedua tim dalam setahun terakhir juga imbang dengan catatan kedua tim saling mengalahkan. Hal ini berari laga yang seru dan ketat akan terjadi. Pertarungan sengit dari sisi skill, taktik, fisik dan mental pemain dipastikan akan terjadi selama 2x40 menit pertandingan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2