Arnold Adoe
Arnold Adoe Tukang Kayu

Menulis untuk berbagi... #FB : Arnold Adoe # Insta : Arnold_Adoe # Twitter : Arnold Adoe

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Habitat Atletico Madrid Bukan di Europa League

17 Mei 2018   10:07 Diperbarui: 17 Mei 2018   11:01 665 2 0
Habitat Atletico Madrid Bukan di Europa League
Atletico Madrid Juara Liga Eropa 2017/18 I Gambar : Getty

Antoine Griezmann berlari kecil menyapa para pendukung Atletico di Stadion Parc Olympique Lyonnais, sedangkan para pemain lainnya saling bersalaman atau berpelukan. Sembilan puluh menit sudah berakhir, peluit panjang sudah dibunyikan wasit asal Belanda, Kuipers.  Atletico unggul 3-0 atas Marseille dan menjadi juara Europa League atau Liga Eropa.

Bagi yang menonton, kebahagiaan Atletico terasa sedikit "datar", tidak terlalu istimewa. Bukan menganggap remeh Marseille tetapi kebahagiaan itu terasa kurang jika dibandingkan apabila Atletico menjuarai Copa del Rey dengan mengalahkan rival seperti Real Madrid dan Barcelona. Padahal kompetisi ini adalah kompetisi berlevel Eropa.

Namun meski berlevel Eropa tak dapat dipungkiri bahwa Liga Eropa ini tidak sekompetitif kompetisi lain bertajuk Liga Champions. Kompetisi dimana secara mengejutkan musim ini Atletico tidak lolos dari fase grup, kalah bersaing dengan Chelsea dan AS Roma. Atletico dianggap terlambat panas dan akhirnya di Liga Eropa,  Atletico tak tertahankan. Klub Rusia, Lokomotiv Moskow, Sporting Lisbon (Portugal) bahkan Arsenal sekalipun tak dapat berbuat banyak di hadapan Atletico.

Pertandingan final tadi pagi semakin menegaskan bahwa habitat Atletico Madrid sebenarnya bukan di  kompetisi Liga Eropa tetapi di Liga Champions. Faktor penegas lain dapat kita kemukakan yang semakin terbuka jelas dari pertandingan tadi pagi.

Pertama, soal kematangan dan ketenangan bermain. Penampilan dan statistik menunjukan bahwa Marseille bukan tanpa perlawanan. Bahkan harus diakui bahwa Marseille lebih baik bermain di babak pertama. Peluang demi peluang yang terjadi di awal pertandingan yang membuat pendukung Marseille sempat tersenyum yakin bahwa mereka bisa menjadi juara.

Kedua tim juga memiliki jumlah peluang yang sama yaitu sama-sama berjumlah dua belas peluang. Namun disinilah perbedaan itu tampak jelas. Atletico lebih matang dan lebih tenang memanfaatkan peluang. Dari jumlah peluang yang sama, Atletico mampu mengelontorkan tiga gol ke gawang Marseille yang dikawal oleh Mandanda.

Marseille boleh tampil lebih agresif, tetapi ketenangan Griezmann di depan gawang membuat dua gol lahir dari kakinya. Ini bukan semata-mata soal kualitas Griezmann sendiri, tetapi ini juga soal ketenangan tampil di partai-partai besar, partai-partai kompetitif yang memang sering dialami Griezmann cs di Liga Champions, habitat mereka.

Kedua, kedalaman skuad yang dimiliki. Untuk dapat tampil maksimal di kompetisi lain selain kompetisi lokal, kedalaman skuad adalah salah satu modal utama. Kedalaman skuad menjadikan kualitas permainan dapat terjaga meski ada pemain yang cedera di saat pertandingan.

Perhatikan ketika Dimitri Payet harus keluar dari lapangan di menit ke-31 karena cedera, Payet menangis dan rasanya Marseille menjadi patah arang padahal pertandingan belum setengah perjalanan. Maxime Lopes dimasukan. Lopes memang mampu memberi perlawanan dari lini tengah, tapi dia tak seajaib Payet dalam memberikan umpan. Tak ada pemain lain yang selevel Payet soal ini di bench pemain.

Bandingkan dengan Sime Vsjalko, bek kanan andalan Atletico yang mengalami cedera, di bench dengan percaya diri masuk Juanfran yang juga tampil gemilang dan membuat Atletico tangguh saat bertahan dan atraktif ketika menyerang di babak kedua. Jauh berbeda.  

Ketiga, pengalaman untuk siap menghadapi hal yang tak terduga. Atletico tampil tanpa Diego Simeone di pinggir lapangan karena hukuman memprotes terlalu keras saat timnya berhadapan dengan Arsenal. Tak ada teriakan dan instruksi langsung dari Simeone bagi Gabi Cs yang biasanya sangat berguna.

Bagi para pemain Atletico, gesture penyemangat dari Simeone sering menjadi sumber tenaga yang terasa penting untuk menaikan performa tim. Kali ini di final,sumber tenaga itu tak ada. Simeone harus menonton dari jauh tidak di tempat semestinya.

Atletico lagi-lagi menunjukan bahwa kualitas mereka tak sebanding dengan Marseille di luar hal teknis dengan tetap tampil hebat meskipun tanpa Simeone. Griezmann Cs tetap tampil seperti ada Simeone di pinggir lapangan, tampak bersemangat. Atletico terlihat lebih siap untuk menghadapi hal-hal tak terduga seperti ini dibandingkan Marseille.

Sebenarnya dengan menjadi juara Liga Eropa, Atletico berhak untuk lolos ke Liga Champions musim depan dari jalur ini. Tetapi hak ini sudah didapat Atletico terlebih dahulu setelah menjadi runner-up La Liga musim ini. Atletico akan memulai musim depan kembali dari habitat mereka, Liga Champions.

Atletico jauh lebih baik dari Marseille, tetapi respek juga perlu diberikan kepada Marseille terutama para pemainnya yang terus berjuang hingga akhir pertandingan. Final ini memang tanpa gelar juara, tetapi tangisan Lucas Ocampos, Thauvin dan para pemain muda lainnya seperti menandakan sebuah harapan.

Harapan dari klub yang pernah menjuarai Liga Champions pada tahun 1993 untuk tetap berkeinginan meraih prestasi lebih baik di kompetisi lain di masa depan, dan semua mungkin dimulai dari kegagalan di final Liga Eropa kali ini. Semoga.

Akhirnya, selamat buat Atletico dan respek buat Marseille.