Arnold Adoe
Arnold Adoe Instruktur Balai Latihan Kerja

Orang biasa yang ingin berbagi melalui menulis. Penikmat bola melalui Trilogi Sindhunata dan pelangkah kaki seperti traveller . #FB : Arnold Adoe # Insta : Arnold_Adoe # Twitter : Arnold Adoe

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Aletheia dan Penerapan Teknologi VAR di Sepak Bola

11 Januari 2018   20:19 Diperbarui: 12 Januari 2018   20:23 1122 6 3
Aletheia dan Penerapan Teknologi VAR di Sepak Bola
Penggunaan VAR di Liga Eropa I Gambar : lequipe

Ketika wacana tentang penggunaan teknologi dalam sepak bola mulai diangkat ke permukaan, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter menjadi salah satu yang menolaknya, malahan dengan sangat keras. "Kami akan bergantung pada manusia." teriak Blatter.

Alasan Blatter lebih kepada mempertahankan identitas alami sepak bola, minimal menurut dirinya sendiri. "Pemain membuat kesalahan, pelatih membuat kesalahan dan ya, kadang wasit membuat kesalahan. Tapi sepak bola adalah gairah, sepak bola adalah emosi. Sepak bola memiliki sentuhan manusia. Menurut pendapat saya, selama saya bertugas, saya akan memastikan tidak ada bantuan teknis yang akan diperkenalkan." tambah Blatter.

Tetapi waktu berubah, Blatter pun berubah, menjelang pengunduran dirinya pada tahun 2015 karena skandal korupsi, pandangan Blatter perlahan-lahan berubah. Blatter dan FIFA mulai membuka dirinya terhadap teknologi dan mendukung dua proyek teknologi yang dapat membawa sepak bola ke era baru, yakni Goal Line Technology (GLT) dan Video Assistant Referee (VAR).

Entah angin apa yang mengubah Blatter tetapi sejatinya teknologi pantas untuk mendampingi sepak bola tanpa niat mengurangi keindahan sepak bola itu sendiri. Malah teknologi dapat menyibakan sesuatu yaitu kebenaran, bukankah kebenaran dengan keindahan erat bersahabat?

Seperti pendapat seorang filsuf metafisis-fenomenogi-eksistensialis asal Jerman yang hidup di awal abad ke-20 bernama Martin Heidegger. Heidegger berkeyakinan bahwa jikalau manusia menolak teknologi, maka hal itu akan membatasi kemampuan manusia untuk sungguh memahami realitas yang ada di sekitarnya. Kebenaran bukanlah hanya soal pengetahuan, tetapi soal keterbukaan (aletheia) realitas itu sendiri pada manusia.

Teknologi bukan hanya alat. Teknologi adalah jalan untuk mengungkapkan diri dari realitas. Jika kita memberikan ini kesempatan, maka ruang yang lain dari teknologi akan membuka dirinya pada kita. Ini adalah ruang untuk pengungkapan, misalnya, kebenaran.

Pengungkapan kebenaran yang dimaksud Heiddeger disebut Aletheia. Dalam mitologi Yunani Aletheia adalah dewi kebenaran, kejujuran, dan ketulusan. Istilah Aletheia untuk melambangkan kebenaran. Alethia, jalan penyingkapan sebuah kebenaran. Ketika kebenaran itu diungkap, mungkin perih dan kesedihan akan berganti kebahagiaan. Mungkin.

Bayangkan jika pada Piala Dunia 2010 tendangan Frank Lampard yang telah masuk ke gawang dan dianulir dievaluasi dengan teknologi garis gawang, bisa saja sejarah berubah. Sayang pada saat itu, teknologi itu belum diuji coba, hasilnya, hingga sekarang penggemar Inggris masih diliputi kepedihan dihajar Jerman 1-4 pada pertandingan itu. Jika saja GLT sudah diterapkan, mungkin saja hasilnya berubah.

Akhirnya FIFA untuk pertama kalinya menguji dan menggunakan teknologi garis gawang (GLT) untuk pertama kalinya dalam sebuah turnamen resmi yaitu di Piala Dunia antar klub FIFA 2012 di Jepang.  Hal ini berjalan dengan baik sehingga hari ini beberapa liga terpenting di seluruh dunia menggunakan teknologi ini, termasuk Liga Primer Inggris, Bundesliga Jerman, Ligue 1 Prancis, Serie Italia dan Eredivisie Belanda.  

Teknologi lain bernama Video Assistant Referee(VAR) sendiri baru secara resmi digunakan pada tahun 2017 lalu saat penyelenggaran Piala Konferedasi di Rusia.  Meski masih sedikit membingungkan,  dari 12 pertandingan, teknologi VAR telah membantu 7 kali peninjauan ulang keputusan wasit dari 29 insiden yang terjadi selama turnamen.

Penjelasan Penggunaan VAR I Gambar :FIFA.com
Penjelasan Penggunaan VAR I Gambar :FIFA.com

Jika teknologi garis gawang (GLT) hanya mengakomodir satu kebutuhan saja yaitu; melihat bola tersebut telah masuk ke gawang atau tidak, maka VAR meninjau empat fokus yatu kejadian gol, keputusan penalti, insiden kartu merah, dan kesalahan pemberian hukuman berkaitan dengan identitas pemain.

Pada tanggal 9 Januari 2018, sejarah akhirnya tercipta. Teknologi VAR akhirnya resmi diberlakukan di sepak bola Inggris. Pada pertandingan antara Brighton & Hove Albion melawan Crystal Palace di babak ketiga Piala FA, teknologi itu digunakan.

Respon positif dituai dengan penggunaan VAR ini. "Wasit dibantu oleh fakta bahwa dia memiliki Neil Swarbrick (pemantau pertandingan) di studio VAR [di London barat] membuat keputusan yang bisa membantunya, jadi saya tidak memiliki keluhan. Kita berharap agar penggunaan VAR bisa membantu menyelesaikan permasalahan seperti ini di lapangan, karena kontroversi akan selalu terjadi,"ujar  Roy Hodgson, pelatih Crystal Place seusai pertandingan.

Sesudah digunakan di Piala FA dan Piala Liga Inggris, belum tahu kapan VAR akan diputuskan untuk digunakan di Liga Inggris. Di jajaran liga top Eropa baru Bundesliga Jerman dan Seri A Italia yang sudah secara resmi menggunakan teknologi VAR sedangkan La Liga (Spanyol) dan Ligue 1 (Prancis) mulai musim 2018-2019 akan mempergunakannya.

Banyak pihak mendorong agar VAR segera diterapkan di Premier League. Pelatih Chelsea, Antonio Conte dan Pelatih Arsenal, Arsene Wenger merupakan barisan terdepan pelatih yang mendorong VAR segera digunakan di Liga Premier Inggris. "Saya rasa, hal itu merupakan penyelesaian yang baik, apabila ada keraguan ketika wasit melihat situasi yang berkenaan dan membuat keputusan terbaik," kata Conte.

Sedangkan Wenger yakin VAR akan membuat perbedaan. "Saya rasa itu (penggunaan teknologi VAR) akan membuat sebuah perbedaan. Kami ingin menjadi liga terbaik di dunia jadi saatnya untuk menggunaan itu. Sebab, liga lainnya juga melakukan itu," kata Wenger.

Akhirnya, manusia berteknologi karena dia manusia, bagian dari kemanusiaan itu sendiri.  Teknologi juga oeh seorang filsuf dikatakan bisa membuka kosmologi,  relasi manusia dengan Tuhan. Namun sebagai seorang penikmat bola, sudahlah lebih dari cukup jika VAR dapat membantu seorang manusia bernama wasit untuk sampai pada sebuah keputusan terbaik. Jika terlalu jauh untuk mengatakannya sebagai Aletheia.

Selamat datang Teknologi VAR....

Referensi :

1 - 2 - 3