Mohon tunggu...
Arkin Julijanto
Arkin Julijanto Mohon Tunggu...

Seorang mahasiswa dari Atma Jaya Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Menolak Lupa, dari Indonesia untuk Asia

23 Oktober 2018   22:22 Diperbarui: 23 Oktober 2018   22:40 401 0 0 Mohon Tunggu...

Sabtu, 18 Agustus 2018. Sebuah event olahraga tingkat Asia yang cukup bergengsi resmi dibuka. Presiden Joko Widodo ditemani Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka perhelatan olahraga yang diikuti oleh 45 negara di Asia tersebut. Presiden Dewan Olimpiade Asia (OCA) Syeikh Ahmad Al Fahda Al Sabah dan Ketua Panitia Pelaksana Asian Games 2018, Erick Thohir mendampingi Presiden Republik Indonesia dalam menyambut para partisipan.

Pembukaan Asian Games XVIII 2018 mendapat respon yang positif baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Banyak pujian yang dilontarkan atas suksesnya opening ceremony yang dilaksanakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Bahkan, Jepang pun ingin meniru konsep tersebut untuk Olimpiade 2020.

Pembukaan Asian Games 2018 dimeriahkan oleh 18 artis papan atas Indonesia seperti tiga kali nominator Grammy Award, Joey Alexander dan artis kelas internasional, Anggun serta terdapat juga Raisa, Ariel, Tulus, Kamasean, Fatin, GAC, Putri Ayu, Rian D'Masiv, Cakra Khan, Sheryl Sheinafia, Rossa, Wizzy, Rinni Wulandari, Edo Kondologit, Maruli Tampubolon dan Via Vallen.

Di balik meriahnya acara pembukaan ini tidak bisa lepas dari peran creative director beserta jajarannya. Wishnutama Kusubandio, didaulat sebagai Creative Director Opening Ceremony Asian Games 2018. Selain Wishnutama, pada bagian Music Director terdapat gabungan dari dua musisi papan atas Indonesia. Addie MS dan Ronald Steven dipercaya menjadi penata musik untuk perhelatan ini.

Proses perekamannya sendiri dilakukan di Prague, Czech Republik bersama The City of Prague Philharmonic Orchestra. Selain itu, juga ada proses rekaman yang dilakukan di Indonesia bersama musisi kenamaan lainnya. Seperti Rayendra Sunito, Ray Prasetya, Denis Nusy, Mecko Kaunang dan masih banyak lagi. Tentunya mereka juga memasukkan elemen musik nusantara seperti gamelan, bonang, gong dan lain lain.

Pada sektor koreografi, para penari dibimbing langsung oleh Eko Supriyanto dan Denny Malik. Bagi para pecinta seni di Indonesia, pasti sudah tidak asing lagi dengan mereka berdua. 4000 penari dari semua lapisan usia, termasuk penari termuda berusia delapan tahun hingga yang paling tua delapan puluh tahun.

Ribuan penari dari segala penjuru Indonesia ini akan mengenalkan indahnya Indonesia dengan menampilkan energi terbaik mereka dalam balutan busana khas Indonesia. Sejak 5 bulan lalu, mereka sudah dilatih secara disiplin. Latihan mereka terpusat di Jakarta dan menghabiskan waktu empat jam per hari untuk latihan bersama.

Dari segi kostum yang digunakan untuk parade para atlet, ada Dynand Fariz dan Rinaldy Yunardi. Segera mereka menyiapkan konsep dengan tiga tema yaitu Earth, Fire, dan Energy.  Segala proses mulai dari riset dan pemilihan busana dilakukan selama enam bulan.

            Ketiga segmen tersebut dimulai dari Earth yakni menampilkan busana tradisional Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke lengkap dengan aksesori asal daerah masing-masing. Lalu, segmen kedua adalah Fire yang menampilkan busana khas Bali disertai penari api mengisahkan semangat juang yang berkobar. Terakhir adalah Energy yang menyajikan busana dengan segala profesi yang ada di Indonesia namun bergaya sporty.

Acara yang kurang lebih memakan waktu 3 jam ini berhasil membuat para penonton baik yang di stadion maupun di rumah tercengang. Bayangkan saja, lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) diubah menjadi panggung kolosal dengan berat 600 ton. Panggung seluas 1.350 meter persegi ini diatasnya diberi gunung buatan yang sangat besar selebar 130 meter dengan tinggi 27 meter. Gunung ini sendiri dikerjakan oleh 350 orang yang berasal dari Bandung dan Jakarta.

Pemandangan gunung ini juga dilengkapi dengan air terjun buatan setinggi 17 meter yang dibuat dari gundukan tanah selebar 12 meter dengan beban air hingga 60 ton atau sebanyak 150.000 liter air. Di depan gunung ini juga terdapat bentangan rumput seluas 3.000 meter persegi. Tidak hanya itu, panggung ini juga didukung oleh teknologi proyektor dan tata lampu pencahayaan yang serba canggih. Proyektor ini bisa menampilkan ombak yang terlihat sangat mirip dengan aslinya.

VIDEO PILIHAN