Kuntoro Tayubi
Kuntoro Tayubi Journalist

Menulis adalah ruh, dan menebar kebaikan adalah jiwaku. Bagiku kehidupan ini berproses, karena tidak ada kesempurnaan kecuali Sang Pencipta.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Cerita Rombongan Penjual Tikar Asal Brebes Selamat dari Gempa Palu

9 Oktober 2018   14:54 Diperbarui: 12 Oktober 2018   19:13 2463 8 3
Cerita Rombongan Penjual Tikar Asal Brebes Selamat dari Gempa Palu
Dokpri

Korban bencana gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah  pada Jumat, 28 September 2018 lalu, tak hanya merupakan warga setempat. Sekitar Sepuluh orang penjual tikar keliling asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, sempat bertahan hidup selama lima hari saat Palu dilanda bencana. Mereka menyaksikan langsung kejadian gempa bumi dan tsunami yang menelan korban ribuan jiwa

Mereka adalah warga Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba. Semuanya selamat dari becana itu dengan bertahan hidup makan dan minum seadanya.

Selama lebih lima hari mereka terkatung-katung di lokasi bencana. Tarjuki, yang merupakan bos tikar dan membawa Sembilan anak buahnya harus kehilangan barang jualan demi menyelamatkan diri.

"Guncangan itu sudah terasa dari siang, tapi tidak terlalu besar. Baru sekitar pukul 17.10 WITA, gempa besar terjadi dan tak lama dari itu terjadi tsunami. Saat terjadi gempa, saya bersama teman-teman langsung keluar dari kontrakan cari tempat yang aman," ucap Tarjuki sembari mengingat kejadian petang itu, Senin, 8 Oktober 2018.

Tarjuki mengisahkan, saat hendak menyelamatkan diri, dia kebingungan lantaran tak tahu rarus ke mana cari tempat yang aman. Matanya terbelalak menyaksikan orang-orang berlarian tak tentu arah. Dia pun menyaksikan sebagian bangunan rumah sakit Anutapura yang letaknya hanya 50 meter dari kontrakannya, amblas.

"Rumah sakit empat lantai itu amblas dan tinggal berdiri dua lantai. Saya menyaksikan itu begitu cepat terjadi. Suasana semakin mencekam dengan matinya semua akses. Listrik, jaringan komunikasi, akses masuk ke lokasi bencana, semuanya lumpuh total. Hanya suara-suara takbir yang saling bersahutan," ungkapnya.

Usai keluar dari tempat kontrakan, Tarjuki yang saat itu bersama enam teman lainnya mencari tempat aman di sekitar rumah sakit Anutapura. Mereka tak mengenakan baju lantaran tengah bersantai usai lelah berjualan keliling Kota Palu hingga siang hari. Usai guncangan pertama mereda, mereka memutuskan untuk berkumpul di kontrakan.

"Saat itu kami langsung komunikasi untuk kumpul di kontrakan agar kita semua tak terpisah-pisah. Jualannya sudah dulu yang penting kumpul, karena kami takut terjadi gempa susulan yang lebih besar sedangkan teman-teman masih terpisah," ungkapnya.

Menjelang malam, semua orang saling berusaha memberi kabar kepada sanak keluarganya. Meskipun gelap gulita, beruntung malam itu masih ada jaringan telekomunikasi untuk saling berkabar. 

Tarjuki meminta ketiga teman lainnya tengah berjualan di tempat lain, yaitu di pulau Banggai dan Bungkul untuk tidak pulang ke Palu sampai keadaan membaik.  Sebab usai gempa besar sore hari, gempa kecil terus terjadi beberapa kali hingga pagi hari.

Ia menceritakan, sekitar sepekan sebelum terjadi bencana, tiga kawannya yakni Rawuh, Tajan, Yayan Wahyani pamit berjualan di tempat yang cukup jauh dari Palu. Mereka berjualan di pulau Banggai dan Bungkul, lantaran di Palu tidak ada peningkatan pendapatan. 

Sampai hari kelima Pasca terjadi gempa dan tsunami, mereka bersepuluh sepakat bertemu di Palu. Selama lima hari itu, Tarjuki bertahan hidup dengan membeli makanan dan minuman dari uang yang masih tersisa di sakunya. Cadangan uang semakin menipis, sementara hingga hari kelima itu, bantuan tak bisa masuk ke Kota Palu lantaran semua akses tertutup.

"Toko-toko di sana yang tidak runtuh, pintunya hanya dibuka sedikit. Karena takut barang-barangnya dijarah. Karena akses tidak ada, bantuan sulit masuk dan terjadi penjarahan dimana mana. Kami bukan asli warga situ tidak berani melakukan itu, dan hanya menahan lapar," tambahnya.

Hari kelima pasca terjadi bencana, suasana di Kota Palu masih gelap gulita. Hanya ada beberapa orang yang menggunakan mesin genset untuk penerangan dan kebutuhan lain.

Di hari kelima itu juga Yayan Wahyani dan dua temannya memutuskan untuk berlayar ke Palu dengan ikut kapal bantuan yang mampir ke pulau Banggai.

Biasanya dari Banggai ke Palu ditempuh dalam waktu empat jam, namun kini ditempuh dengan waktu lebih dari 18 jam. Kapal bantuan menurunkan penumpang sekitar pukul 12.00 WITA di hari kelima pasca bencana.

Usai dari kapal Yayan menumpang mobil yang mengantarkan bantuan logistik. Sejumlah mobil itu dikawal ketat oleh TNI-Polri untuk menghindari penjarahan di tengah jalan.

"Kami bertiga naik kapal dari Banggai. Tak jauh dari dermaga kami menumpang kendaraan logistik. Sampai di Palu itu bada Magrib dan di Palu masih gelap gulita, bergetar hati saya menyaksikan itu. Semuanya rata dengan tanah," katanya.

Kedatangan mereka bertiga disambut bau anyir mayat di sepanjang jalan setelah memasuki Kota Palu. Berbagai jenis alat berat tengah membersihkan reruntuhan sisa bencana yang menutup akses jalan. Sampai di Palu dan berkumpul dengan semua penjual tikar, mereka saling berpelukan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2