Ariyanti Yusnita
Ariyanti Yusnita Dokter

Proud to be me

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Darurat Seks Bebas pada Generasi Muda

21 Mei 2018   15:54 Diperbarui: 21 Mei 2018   16:19 503 6 6

Seorang remaja perempuan, usia sekitar 14 tahun datang ke ruang poli rawat jalan tempat saya praktik pagi itu. Dia mengeluh terlambat haid selama kurang lebih sebulan terakhir. Setelah melalui beberapa wawancara dan pemeriksaan, saya memutuskan memeriksa air seninya untuk tes kehamilan. Sesuai dugaan saya, hasilnya positif. Remaja tersebut ternyata hamil.

Ini bukan kali pertama saya menjumpai kasus-kasus seperti itu. Bahkan bukan hanya saya, banyak rekan dokter lain menceritakan hal serupa. Sungguh miris mendengarnya.

Komnas Perlindungan Anak (KPAI) berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan melakukan survei di berbagai kota besar di Indonesia menyatakan sebuah data, "62,7% remaja di Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah." Ya, tepatlah bila dikatakan Indonesia memasuki masa darurat seks bebas.

Generasi muda kita tengah hanyut dalam arus "zaman now", pergaulan muda-mudi yang sangat akrab dengan seks bebas (hubungan seks sebelum menikah dan atau gonta-ganti pasangan seksual).

Mau disadari atau tidak, sesungguhnya suatu bahaya besar mengancam, bukan hanya bagi pribadi-pribadi pelaku itu,tapi secara lebih luas berdampak pada masyarakat dan bangsa. Kalau mau dirunut akar masalahnya, apakah yang sesungguhnya terjadi? Mengapa hal ini justru semakin marak?

Setidaknya ada tiga faktor saling mempengaruhi yang memberi sumbangsih besar terhadap makin maraknya seks bebas ini.

Pertama, faktor keluarga. Pola asuh dalam keluarga yang terlalu permisif atau sebaliknya terlalu keras, kurangnya interaksi dan komunikasi dalam keluarga, hausnya anak-anak akan kasih sayang dari orangtua, minimnya keteladanan, serta rendahnya nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan terutama yang berkaitan dengan pendidikan seks usia remaja. Semua itu sangat berdampak terhadap tumbuh suburnya paham dan budaya seks bebas di kalangan generasi muda.

Anak-anak dan remaja yang dilahirkan dan besar dari keluarga yang demikian sangat rentan jatuh dalam pergaulan bebas. Ketika mereka tidak mendapatkan hak-haknya akan pengakuan, perhatian, kasih sayang, dan nilai-nilai yang benar, anak-anak dan remaja ini akan tergoda untuk mencarinya di luar.

Sementara tawaran di luar justru sebagian besar membawa pengaruh negatif, baik kasih sayang palsu dari orang yang salah hingga contoh yang keliru tentang nilai seksualitas.

Kedua, faktor lingkungan. Dunia sekitar kita sangat mengagungkan paham kebebasan seksual. Bahkan beberapa mengaitkan hal itu sebagai hak azasi setiap orang yang tidak boleh dibatasi. Memang hal ini menjelma nyata di berbagai bidang, termasuk pendidikan, budaya, seni, ekonomi, teknologi. Ditambah media baik surat kabar, radio, majalah, televisi, dan internet menjadi sarana mudah untuk makin menggaungkan paham dan nilai kebebasan seksual.

Lihat saja lagu-lagu yang sering kita dengar, bacaan remaja, dan film-film Barat bahkan film dalam negeri yang begitu sarat dengan muatan seksual. Belum lagi pornografi (yang berdampak merusak otak dan akhlak) makin mudah diakses melalui internet lewat gawai apa pun.

Secara langsung maupun tidak, hal-hal itu diterima oleh kaum muda sebagai sesuatu yang wajar, tidak salah, dan tidak masalah. Pada akhirnya, itu akan membentuk suatu pemahaman dan konsep keliru yang dihidupi dalam dunia nyata.

Ketiga, faktor pendidikan. Pendidikan di sini bukan terbatas pada nilai-nilai agama saja, tapi kaum muda harus dibekali secara cukup tentang dinamika pergaulan, kesehatan reproduksi / pendidikan seks yang benar, hingga dampak pergaulan bebas dan bagaimana menyikapinya.

Pengajaran dan penanaman nilai-nilai, etika, dan moral ini seharusnya mereka dapatkan dari lingkungan manapun, baik dari keluarga, sekolah, kelompok bakat-minat, masyarakat, hingga tempat ibadah.

Betapa penting kita mengajarkan bahwa seksualitas dan hubungan seksual adalah anugerah yang indah dari Tuhan untuk manusia ciptaannya. Ada tujuan penting bagi kelangsungan hidup umat manusia. Hal ini berkaitan dengan prokreasi (regenerasi) dan rekreasi (kenikmatan hubungan antar suami dan istri).

Namun, hubungan yang paling intim tersebut hanya sah dan diizinkan dalam koridor pernikahan, menjadi hak bagi pasangan suami istri yang telah menikah. Bila kita semua memahami hal ini, maka konsep tersebut akan menghindarkan generasi muda dari kehancuran akibat dampak mengerikan pergaulan bebas, dan tentunya akan menghindarkan mereka dari dosa seksual.

Sekilas, mari kita cermati dampak pergaulan bebas yang sangat mengerikan ini. Secara fisik, dampak perilaku seks bebas akan berakibat pada penularan penyakit kelamin, mulai dari yang ringan hingga HIV/AIDS yang dapat berujung kematian. Selain itu beresiko pula terhadap terjadinya kehamilan.

Sementara kehamilan remaja, bukan tanpa resiko. Potensi adanya kesulitan kehamilan dan persalinan, penelantaran anak dalam kandungan, bahkan pengguguran bayi dalam kandungan, atau yang dikenal dengan sebutan aborsi, sangat besar. 

Secara psikis, mereka yang belum menikah tetapi sudah berhubungan seks beresiko mengalami gangguan kejiwaan, emosi yang terganggu, putus asa, minder, rasa takut, stres, depresi, sampai bunuh diri.

Pernyataan seorang muda yang pernah terlibat dalam pergaulan dan seks bebas mengatakan, ada penyesalan besar, rasa ketidaklayakan yang sangat mengganggu, bahkan dalam tempo yang lama. Menyedihkan bahwa masa muda yang seharusnya indah itu telah terenggut, dan tidak mungkin diulang.

Secara sosial, perilaku seks bebas dapat meningkatkan terjadinya pernikahan dini, putus sekolah, kemiskinan, penelantaran anak, hubungan-hubungan yang terganggu, yang kesemuanya akan menjadi beban keluarga, dan lebih luas menjadi beban masyarakat dan negara.

Belum lagi bila hal ini dikaitkan dengan dampak spiritual, yang tentunya berangkat dari prinsip iman dan keyakinan masing-masing kita. Betapa pergaulan bebas ini sanggup merampas masa depan anak-anak kita, para generasi muda kita.

Pertanyaaan besarnya, bagaimana kita dapat membentengi dari pengaruh itu semua? Dengan cara apa kita mengatasi kondisi darurat seks bebas ini? Bukan membesar-besarkan, bila kita tidak segera bergerak, atau terlalu lalai menyikapi hal ini, maka kehancuran generasi muda yang berarti juga kehancuran sebuah bangsa tidak mustahil terjadi. Semua kita punya peran dan tanggung jawab yang sama dalam mendidik dan mengarahkan generasi muda kita di jalan yang benar Sebuah pesan penting, mendesak, darurat.

Mari kembali pada faktor-faktor resiko tadi. Dimulai dari faktor keluarga, bahwa pembenahan keluarga-keluarga harus terjadi. Orang tua menerapkan pola asuh yang tepat. Tidak terlalu permisif sehingga semua nilai menjadi bias, tidak juga terlalu keras hingga anak-anak merasa dikekang dan takut.

Kebutuhan akan kasih sayang dan disiplin harus diberikan secara seimbang. Ayah dan ibu mesti memberikan waktu yang cukup dan berkualitas dengan anak-anak, menjalin interaksi dan komunikasi yang baik dengan mereka. Pendidikan tentang seksualitas, penanaman nilai-nilai, etika, moral, harus secara konsisten diajarkan.

Faktor lingkungan, pembatasan media dan gawai untuk hal-hal yang positif juga perlu terus disuarakan. Upaya ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pembatasan waktu dan pengawasan saat anak-anak/remaja menggunakan HP atau internet, mengunduh sistem proteksi pada gawai yang digunakan, sensor dan seleksi terhadap konten-konten tertentu yang harus secara ketat dilakukan oleh badan-badan resmi pemerintah maupun penyedia layanan (provider), serta media yang berkomitmen menyajikan tulisan atau tontonan yang bagus, menarik, dan membangun.

Faktor pendidikan pun harus mendukung gerakan anti seks bebas. Seminar-seminar dengan sasaran orang tua maupun kum muda tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksualitas oleh para ahli harus sering dilakukan, baik oleh instansi pemerintah maupun swasta.

Sekolah-sekolah harus sering mengkampanyekan hal ini dan bila perlu memasukkan ke dalam kurikulum dan program rutin sekolah. Para rohaniawan dan pendidik lainnya selayaknya dengan tak jemu mengajarkan nilai-nilai dan paham yang benar tentang seksualitas kepada generasi muda di wilayah masing-masing.

Dan pada akhirnya, anak-anak remaja kita itu sendiri yang mesti berani dan tegas mengambil langkah yang benar, untuk menolak segala macam bentuk pergaulan bebas dan "iming-iming"nya. Ya, tidak ada cara lain, kita semua harus bersinergi mengatasi kondisi darurat ini.

Melawan paham dan pengaruh seks bebas yang melanda generasi muda demi melindungi mereka dari kehancuran. Dimulai dari orang tua, pendidik, rohaniawan, juga generasi muda harus memiliki kesamaan konsep dan sikap, sehingga bisa bersatu suara mengatakan "tidak!" pada seks bebas.