Cerita Ramlan Pilihan

"Meramalkan" Kualitas Ibadah Puasa dari Bagaimana Mempersiapkannya

17 Mei 2018   13:10 Diperbarui: 17 Mei 2018   13:09 563 0 0
"Meramalkan" Kualitas Ibadah Puasa dari Bagaimana Mempersiapkannya
Credit Image : Pixabay.com

Seluruh umat muslim di dunia termasuk Indonesia tengah bersuka cita karena salah satu moment keagamaan yang ditunggu-tunggu yaitu bulan Ramadhan telah tiba. Segala macam kegiatan dan acara dilangsungkan di seluruh penjuru negeri untuk menyemarakkan hadirnya bulan suci ini.

Mengapa begitu istimewa? Dalam kepercayaan umat muslim Ramadhan adalah bulan yang paling special karena di setiap harinya selama satu bulan penuh, mereka melakukan ibadah puasa. Tentu karena ritual ini bulan Ramadhan menjadi begitu berbeda dan terasa spesial. Di setiap malam selepas sholat Isya, bersama melaksanakan sholat tarawih. Dan tentu hanya ada di bulan Ramadhan saja.

Tidak hanya itu, seperti yang diajarkan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh hikmah, barokah dan karunia. Yang mana setiap pintu surga dibuka selebar-lebarnya, dan pintu neraka ditutup serapat mungkin. Setan-seta dibelenggu, dan penuh dengan ganjaran yang berlipat-lipat di setiap amalan baik yang dilakukan.

Moment Ramadhan terjadi satu tahun sekali, dan mengacu pada kalender Hijriayah. Sehingga bila dilihat dari kalender Masehi, tentu bulan Ramadhan seperti terus bergerak maju (Mei, April, Maret, dst), dan nanti pada akhirnya kembali berputar (Desember, November, dst). Karena memang ada perbedaan sistem penanggalannya.

Baik, di samping itu semua, apakah benar-benar perlu untuk sebuah persiapan? Apakah perlu persiapan yang melibatkan persiapan batin maupun lahir?

Jawabannya tentu saja iya. Baik itu persiapan batin maupun lahir sama-sama penting. Ibadah puasa adalah suatu ritual keagamaan yang mana dalam menjalankanya tidak diperkenankan melakukan kegiatan yang berlandasakan nafsu seperti makan, minum, berhubungan badan, dan sebagainya. Termasuk juga tidak disarankan untuk marah, jengkel, dendam maupun penyakit-penyakit hati lain. 

Dalam melihat persiapannya saja, sebagai seorang muslim tentu akan lebih mengetahui apa itu esensi dari ibadah puasa yang tidak hanya sekedar dari menahan lapar dan haus.

Dalam beberapa wacana, kerap terdengar bahwa orang puasa terbagi atas beberapa tingkatan. Mengutip dari kitab Ihya Ulumuddin karya ulama mashsyur Al Ghazali, bahwa ada tiga tingkatan orang yang berpuasa. Pada tingkatan paling rendah adalah mereka yang hanya puasa secara lahir saja, alias hanya menahan makan, minum dan syahwatnya saja, tapi secara batin tidak berpuasa.

Kebanyakan puasa yang demikian dilakukan oleh orang-orang awam. Walau sedang puasa mereka tetap melakukan kegiatan 'rutin' seperti menggunjing, marah, bahkan fitnah. Tetap tidak menjaga tindak laku mereka. Secara hukum syar'i memang mereka berpuasa. Mereka sahur, dan berhenti ketika imsak dan berbuka ketika magrib. Dilihat dari hukum orang berpuasa, mereka sudah lolos. 

Namun secara esensi dan tujuan mengapa berpuasa itu diperintahkan itu yang belum didapatkan. Yang demikian tentu sangat disayangkan, mengingat ini hanya ibadah sekali dalam setahun.

Kedua, orang berpuasa yang selain menahan nafsu ragawi (makan, minum, syahwat) juga menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam yang berpotensi menimbulkan dosa. 

Maka dalam tingkatan ini menurt Al Ghazali adalah puasa orang-orang sholihin. Lanjut menurut beliau, seseorang tidak akan dikatakan masuk dalam kategori puasa orang sholihan ketika dia tidak melalui setidaknya 6 hal sebagai prasyarat, yakni, menahan pandangan dari segala ha yang tercela dan makruh, menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna dan sia-sia, berkata keji, mengeluarkan umpatan, berdusta dan mengharuskan diri untuk diam, dan bicara ketika diperlukan saja. 

Memanfaatkan waktu untuk berdzikir kepada Allah, membaca Al Quran,menjaga pendengaran dari kata-kata yang buruk. Tidak berlebihan ketika berbuka puasa hingga perut terisi penuh makanan, dan selalu merasa khauf (cemas) dan raja (harap) karena tidak tahu apakah puasa yang tengah dilakukan diteriam tidak oleh Allah SWT.

Lalu pada tingkatan selanjutnya, puasa orang-orang yang lebih khusus. Mereka yang berpuasa secara lebih mendalam, karena menjaga hati dan pikiran mereka dari segala hal duniawi, dan hanya memfokuskan kepada Allah semata. 

Melepaskan semua hasrat dan keinginan duniawi, dan hanya ada satu yang hidup dalam hati yakni Allah SWT, dan selalu senantiasa mencegah memikirkan dan menginginkan hal lain selain Allah. Menurut Al Ghazali puasa orang yang demikain adalah puasa para orang-orang sholihin seperti Nabi, Shiddiqqin dan Muqarrabin.

ramadhan-1-2-5afd1ee016835f6f9c68c802.jpg
ramadhan-1-2-5afd1ee016835f6f9c68c802.jpg
Menurut pribadi, untuk masuk dalam kategori puasa seperti apa adalah pilihan. Nah pilihan ini juga dipengaruhi dari persiapan sebelum Ramadhan. Dalam arti, tentu hasilnya akan berbeda ketika ada dua orang yang mana, orang pertama tidak begitu memperhatikan persiapan sebelum Ramadhan, seperti perisapan lahir dan batin dengan orang kedua yang benar-benar melakukan lebih. Dia tahu Ramadhan akan segera dating, dan dia benar-benar menyiapkan segala sesuatunya.

Tentu puasa orang pertama bila dibandingkan puasa orang kedua akan berbeda. Bila orang pertama hanya mungkin masuk dalam puasa golongan orang-orang awam, sedangkan yang kedua bisa masuk pada tingkatan yang lebih tinggi. Terlepas dari tingkatan iman seseorang, melihat bagaimana seseorang mempersiapkan Ramadhannya bisa sedikit membuka bagaimana gambaran perjalanan orang tersebut selama Ramadhan.

Orang yang benar-benar serius mempersiapkan Ramadhannya baik secara lahir seperti menjaga kebugaran tubuh, membersihkan diri, mempersiapkan pakain untuk ibadah, mengkonsumi makanan yang bergizi dan lain sebagainya. Kemudian untuk urusan batin, dia meluruskan kembali niatnya, menata hatinya, menghindari hal-hal yang dapat memicu penyakit hati, mulai menjada perilaku dan lisan.

Ketika sudah memasuki hari-hari berpuasa, semua persiapan yang dia lakukan akan benar-benar memengaruhi kualitas puasa yang dia laksanakan. Karena didorong oleh persiapan fisik yang matang, niat yang lurus, dan hati yang sudah disiapkan secara khusus. Semua dilakukan untuk membelenggu dan meminimalisir kejadian-kejadian yang berpotensi menimbulkan dosa dan menodai ibadah puasa yang tengah dilaksanakan.

Akan begitu berbeda, pada orang yang hanya biasa-biasa saja dalam persiapan Ramadhannya. Bahkan tanpa persiapan sekalipun, karena anggapnya puasa hanya sebatas menahan yang bersifat ragawi saja tapi memperhatikan kesiapan batin yang justru itu menjadi esensi penting berpuasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2