Mohon tunggu...
Aridha Prassetya
Aridha Prassetya Mohon Tunggu...

Pemerhati Masalah Ketidakbahagiaan

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Menulislah Kembali Mbak! Minimal untuk Saya…

1 Januari 2016   15:30 Diperbarui: 1 Januari 2016   15:30 752 47 36 Mohon Tunggu...

“Menulislah kembali mbak…, minimal untuk saya…”.

Bunyi sms itu membuat mata ini berkaca-kaca. Bagaimana bisa saya menolak? Ia sedang dirawat di sebuah Rumah Sakit di daerahnya dan sedang berjuang melawan tumor usus. Ia juga berjanji akan menuliskan hikmah pengalamannya, nanti ketika kembali sehat.

Kami sudah seperti saudara semasa masih sama-sama aktif menulis di Kompasiana. Banyak hal yang saya dapat dari sini, termasuk persahabatan, persaudaraan dan prestasi menulis buku.

Momen pilpres membuat saya pelan-pelan mengurangi kegiatan menulis di sini. Jujur saya baru sadar bahwa saya adalah paling bodoh di sini. Hehe...pikiran saya yang sederhana ini, tidak lagi mampu mencerna tulisan-tulisan level tinggi.

Kendati demikian, saya tetap menyimak kawan-kawan yang makin ke sini makin hebat saja. Kabar terbaru yang menakjubkan adalah mereka mampu hingga “menduduki Istana Negara” dan makan semeja dengan Presiden. Ini adalah juga prestasi.

Dan saya? Memilih kembali “sekolah” saja dan mendalami apa yang perlu didalami untuk bekal kehidupan selanjutnya. Sesekali, saya hadir sebagai silent reader.

Merenungkan apa maksud sahabat tersebut meminta saya kembali menulis, saya jadi mereka-reka. Mungkin karena kondisi kesehatannya itu, dia sedang tidak ingin membaca tulisan yang berat-berat. Saya merasakan dia sedang rindu tulisan-tulisan yang biasa-biasa saja, yang adhem-adhem saja…  

So Sahabatku,

Sementara baru ini yang bisa kutulis. Seperti dalam tulisan-tulisan terdahulu, “duduk atau baringlah dengan rileks…tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan…Ulangilah beberapa kali hingga dirimu memperoleh ketenangan. Setelah siap, renungkanlah ini:

  1. Sang jiwa mempunyai pilihan, yaitu baik atau buruk, benar atau salah, sementara atau permanen.
  2. Perjalanan “ke dalam” membentuk manusia mulia.
  3. Pikiran umpama benih, yang kemudian dimanifestasikan dalam kata-kata dan perbuatan.
  4. Perbuatan mulia adalah cerminan kerendahan hati.
  5. Mereka yang menaklukkan satu keinginan, jauh lebih Berjaya daripada orang yang menunaikan seribu keinginan
  6. Kepuasan (kesyukuran) adalah nilai luhur yang tertinggi.
  7. Setiap hari yang dipenuhi dengan kepositipan dan tekad yang benar, akan membuahkan hari esok yang lebih cerah dan penuh harapan.
  8. Setiap situasi adalah suatu ujian yang harus dilalui.
  9. Diri kita mencerminkan makanan yang dikonsumsi.
  10. Mereka yang menjadi teman baik untuk diri mereka sendiri, akan menjadi teman baik untuk seluruh dunia.
  11. Hidup kita, tidak saja berkisar seputar harta benda, nama, pangkat dan status kita. Tetapi jauh lebih dari itu.
  12. Sesuatu yang mudah didapat dan diperoleh, mudah hilang.
  13. Kenapa saya menjadi kecewa? Karena saya menaruh harapan kepada orang lain.
  14. Berdiam diri dalam keheningan dan membuka hati kita kepada Tuhan, merupakan hubungan batin yang sangat menakjubkan.
  15. Dunia fisik ini adalah pentas sandiwara. Apa yang terjadi hari ini pasti ada hubungannya dengan apa yang terjadi nanti. Jika tidak ada hubungannya dengan kehidupanmu di masa yang akan datang, pelajaran-pelajaran “indah” itu, tidak diperlukan.

Akhirnya, ingin kusampaikan: “Selalu peganglah hanya tangan Tuhan. Trust that God is the best Surgeon in the world. Percayalah bahwa Tuhan adalah Sang Ahli Bedah terbaik di dunia. Beliau mampu membedah penyakit. Beliau mampu mengoperasi segala macam penyakit. Hanya Beliau Sang Ahli Bedah terhebat di seluruh dunia. Percayakan dan serahkan kesembuhanmu hanya kepada Beliau.

Terima kasih Tuhan, Guru dan semua yang menginspirasi. Juga terima kasih yang sedalam-dalamnya atas doa yang berkenan dipanjatkan untuk kesembuhan sahabat kita ini. Salam damai, bahagia dan terus berkarya!

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x