Politik

Tebar Analisa Subjektif, Politisi PAN Tuduh Presiden Jokowi Terlibat dalam Pilkada

12 Januari 2018   15:52 Diperbarui: 12 Januari 2018   15:53 802 0 0
Tebar Analisa Subjektif, Politisi PAN Tuduh Presiden Jokowi Terlibat dalam Pilkada
ilustrasi ll dokpri

Perang propaganda semakin kencang mendekati kontestasi politik dalam Pilkada serentak nanti. Tak hanya dalam media massa, namun juga dalam media sosial.

Sebagian pihak memahami bahwa siapa yang bisa merebut opini massa, maka akan memuluskan langkahnya menuju kemenangan.  Untuk itu psy war pun semakin masif dilancarkan para politisi, tujuannya untuk mempengaruhi opini masyarakat agar tergiring mengikuti arahannya.

Mungkin begitu yang berada dalam benak Ketua DPP PAN, Yandri Susanto saat melontarkan propaganda negatif pada Presiden Jokowi dan partai pengusungnya, yaitu PDIP.

Ia menyebutkan bahwa Presiden Jokowi akan gentar bila PDIP kalah di beberapa daerah di Jawa. Karena, tentunya, Presiden butuh para kepala daerah tersebut untuk memenangkan Pilpres 2019.

Apalagi bila beberapa daerah di Jawa tersebut dimenangkan oleh koalisi Gerindra-PKS-PAN. Tentunya selain itu merepotkan Jokowi, juga akan memudahkan lawannya jika jadi maju Pilpres yaitu Prabowo Subiyanto.

Untuk itu, Yandri menilai Istana akan support habis-habisan pada calon yang diusung PDIP. Berbagai cara digunakan agar kandidat dari PDIP bisa menang.

Analisa di atas terlihat masuk akal. Namun sayangnya itu baru sebatas dugaan yang sangat subyektif. Karena tidak memiliki bukti yang valid, juga tidak adanya konfirmasi dari pihak terkait, terutama Presiden Jokowi.

Bila dikatakan akan gentar, tentu hanya Presiden Jokowi saja yang tahu. Namun yang pasti, sejauh ini Presiden tidak pernah mendukung secara langsung para kandidat PDIP di beberapa daerah.

Justru Presiden Jokowi menyatakan dengan tegas, sekaligus menghimbau jajaran kabinetnya untuk tetap bekerja keras melayani rakyat meski sedang memasuki tahun politik.

Tentu, masyarakat sendiri berharap agar setiap pihak dalam berkompetisi di Pilkada maupun Pilpres nanti, tidak melakukan suatu tindakan yang bisa memecah belah rakyat.

Tak perlu lagi diantara elit politik itu saling menjelek-jelekkan hanya untuk kekuasaan yang sempit. Apalagi bila sampai membawa sentimen SARA dan agama dalam bsrkampanye.

Publik justru berharap bila setiap calon kepala daerah itu berpolitik secara sehat. Mereka saling beekompetisi untuk saling bertarung dalam program kerja dan visi yang sesuai dengan kebutuhan warga.

Dengan demikian, momen Pilkada benar-benar untuk memilih pemimpin yang terbaik. Selain itu, keamanan dan ketertiban di masyarakat tidak terganggu.