Mohon tunggu...
Ariana Maharani
Ariana Maharani Mohon Tunggu... Dokter - MD

Pediatric resident and postgraduate student of clinical medical science at Universitas Gadjah Mada, Instagram: @arianamaharani

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Adakah Obat untuk Anak dengan Disabilitas Intelektual?

28 Februari 2024   19:48 Diperbarui: 29 Februari 2024   14:50 159
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seorang anak melempar bola dalam permainan Bocce di ajang Pekan Special Olympics Nasional di Taman Andhang Pangrenan, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (18/5/2022). Foto: KOMPAS/WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO

Hari ini di akhir dari sesi kuliah tentang Global Developmental Delay and Intellectual Disability saya bertanya kepada dosen saya: "Jika nanti saya sudah menjadi Dokter Spesialis Anak dan berpraktik, lalu ada pasien yang mendatangi saya, apakah ada obat yang dapat diminum anak saya dengan disabilitas intelektual ini agar dapat sembuh, saya harus menjawab apa ya, Prof?"

Profesor saya di bidang tumbuh kembang anak ini dengan lembut nan tegas menjawab pertanyaan saya dengan jawaban memukau yang membuat mata kami berkaca-kaca, "Pertama, Mbak Ariana harus menyampaikan kepada ibu pasien bahwa disabilitas intelektual bukanlah sebuah penyakit, ia adalah keterbatasan dalam kemampuan intelektual dan adaptasi seorang anak." 

Mendengar penjelasan tersebut, saya lalu berpikir bahwa dengan demikian tentu saja tidak ada obatnya jika ia bukan sebuah penyakit. Profesor lalu melanjutkan "Obatnya adalah edukasi dari kalian sebagai Dokter Spesialis Anak nanti untuk memberi semangat dan meyakinkan kepada orang tua dan masyarakat bahwa dengan dukungan yang tepat, anak-anak dengan disabilitas intelektual dapat mencapai potensi mereka dan hidup secara mandiri dalam masyarakat". Kami semua tersenyum mendengarkan penjelasan Profesor kami yang menghangatkan suasana kuliah pagi ini. 

Edukasi kepada masyarakat tentang dukungan bagi mereka dengan disabilitas intelektual ialah sangat penting, mengingat orang-orang dengan disabilitas intelektual hingga saat ini masih sangat rentan terhadap stigmatisasi dan marginalisasi. 

Padahal, stigmatisasi dan marginalisasi ini tentu saja sangat berdampak negatif secara langsung pada kualitas hidup mereka dan bagaimana partisipasi mereka di kehidupan bermasyarakat, yang mana bertentangan dengan Konvensi tentang Hak-hak Penyandang Disabilitas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (Convention on the Rights of Persons with Disabilities by the United Nations/UN-CRPD). 

Jelas, masih banyak masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang apa itu disabilitas intelektual, apa penyebabnya, hingga bagaimana memahami dan mendukung individu dengan kondisi tersebut. 

Kita bukan orang-orang yang berada dalam Eugenics Movement, yaitu mereka yang pada tahun 1920-1930 mengklaim bahwa orang-orang dengan disabilitas intelektual merupakan sumber bahaya bagi kekayaan moral dan ekonomi suatu negara dan harus dihilangkan dari kumpulan gen manusia (Goffman pada buku Asylums: Essays on the social situation of mental patients and other inmates) tetapi kita adalah masyarakat di tahun 2024.

Ironis untuk menyaksikan bahwa kita harus menerima sebuah kenyataan dimana hampir berselang satu abad sejak 1930, stigma dan pengucilan terhadap orang-orang dengan disabilitas intelektual masih terjadi di antara masyarakat yang tumbuh di dalam betapa canggihnya teknologi jaman sekarang dimana kita dapat memperoleh informasi dan pengetahuan dengan begitu mudah. Seharusnya tak sulit untuk mencari tahu apa itu disabilitas intelektual dan bagaimana memahami kebutuhan mereka. 

Pada akhirnya, ini tentu saja sebuah tantangan untuk kita semua, menciptakan dunia yang ramah untuk siapapun tanpa terkecuali anak-anak dengan disabilitas intelektual serta menjadikan dunia bersahabat untuk para pengasuh dari anak-anak dengan disabilitas intelektual untuk dapat leluasa mencari pelayanan kesehatan seperti terapi kognitif, terapi bicara, terapi perilaku, dan lain sebagainya tanpa harus dilabeli stigma. 

Mari mengambil langkah-langkah untuk bekerja sama menciptakan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan mendukung bagi semua individu, termasuk mereka yang mengalami disabilitas intelektual.  Mari mencari informasi lebih banyak tentang disabilitas intelektual dan menyebarkannya kepada sesama, karena kita semua sama.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun