Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Suparman, Sang Pemecah Batu Memang Sekuat Superman

8 Januari 2016   05:38 Diperbarui: 8 Januari 2016   23:29 1244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kisah lama menceritakan, seorang pemecah batu besar di sebuah pinggir sungai meresa kelelahan akibat seharian tenaga terkuras setelah tersengat matahari yang demikian terik. Semilirnya angin yang membawa udara dingin pegunungan dan gemerciknya irama aliran sungai yang menerpa bebatuan hanya sedikit menghibur di antara lantunan musik dangdut yang terdengar sayup jauh di sebuah desa.

Panas yang demikian hebat membuat ia mulai mengeluh betapa susahnya menjadi seorang pemecah batu karena kalah dengan matahari. Ia pun berpikir dan meminta pada para dewa untuk menjadi matahari yang banyak memberi manfaat bagi alam semesta. Ia pun menjadi matahari.


Belum lama ia menjadi matahari, angin membawa mendung tebal yang segera menutupi sinarnya ke bumi. Ia merasa kalah dengan mendung yang tebal. Ia pun meminta pada para dewa menjadi awan mendung. Jadilah ia awan mendung yang tebal.

Belum lama menjadi awan yang tebal ia tertiup angin lalu menjadi air hujan yang segera turun membanjiri sungai. Semua yang ada di hadapannya segera hanyut diterjangnya. Kecuali satu, sebongkah batu. Merasa kalah dengan batu, ia pun meminta pada para dewa menjadi sebongkah batu.

Para dewa yang pemurah pun mengabulkannya. Ia menjadi sebongkah batu besar yang kuat. Keberadaan batu besar ini menarik perhatian seorang pencari pasir dan batu. Lalu Sang Pencari batu ini segera pulang mengambil sebuah palu besar untuk memecahkannya. Batu besar itu pun tak mau hancur, walau sebenarnya ia bisa memberi manfaat bagi manusia. Menyadari kesalahannya ternyata menjadi pemecah batu ia merasa paling kuat di dunia. Ia pun meminta pada para dewa untuk menjadi pemecah batu seperti semula.

Para dewa yang bijak pun mengabulkannya. Ia kembali menjadi pemecah batu untuk dijadikan bahan bangunan. Dalam satu minggu sang pemecah batu ini bisa menghancurkan sebongkah batu besar seukuran dua meter. Panas terik tak pernah dipedulikan lagi.  

                 
Suparman, sebut saja demikian namanya, ia adalah salah seorang pencari pasir dan pemecah batu di Kali Lesti di Poncokusumo. Sebuah desa di kaki Gunung Semeru wilayah timur Kabupaten Malang. Kali Lesti memang memberi kesuburan bagi lahan pertanian yang dilewatinya. Namun juga memberi berkah dengan mengirim jutaan metrik ton pasir dari puncak Semeru yang tiap hari memuntahkan debu pasir.

Pekerjaan yang berat dan penuh resiko namun harus dijalani Suparman demi mengepulnya dapur. Memang ini bukan pekerjaan utama selain sebagai buruh tani yang penghasilannya pas-pasan saja. Jika tak ada pekerjaan sebagai buruh tani kadang ia menjadi sopir atau kuli bangunan.

Salah satu rekan Suparman mengalami kecelakaan di sini.


Suparman tidak pernah mengeluh. Ia merasa dirinya harus tetap kuat untuk mencari nafkah demi kehidupan keluarganya. Namun ia juga tidak merasa sebagai orang yang kuat seperti Superman. Sebab ia tahu, seperti juga para pencari dan pemecah batu lainnya, resiko diterjang banjir selalu ada. Waspada dengan selalu mendongak ke atas, melihat puncak dan lereng Semeru. Bila di atas sana mendung dan gerimis atau hujan kemungkinan ada banjir membawa pasir dan batu yang bisa menghanyutkannya.

Ketidakhati-hatian atau sedikit kecerobohan atau salah perhitungan juga bisa membawa malapetaka yang berakibat kematian. Seperti yang dialami salah satu temannya yang meninggal tertimbun longsoran tebing tepi sungai yang digali untuk diambil pasirnya.

Pemerintah desa yang tak mau mengambil resiko terulangnya kejadian tersebut, memutuskan menutup lahan penggalian pasir dan batu.
Suparman yang tak pernah mengeluh terus berjuang demi kehidupan. Ia tetap ingin sebagai seorang Superman, paling tidak bagi keluarganya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun