Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Bunga Untukmu si Cantik

23 Oktober 2020   11:02 Diperbarui: 23 Oktober 2020   11:21 123 21 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bunga Untukmu si Cantik
Dokumen pribadi

Di green house ada banyak bunga. Di kebun banyak bunga. Di halaman rumah juga banyak bunga. Ada krisan, ada mawar, ada katellya, ada anggrek, ada bunga apa saja. Tapi tidak kupetik semua. 

Sebagian kubungkus kupoto lalu kuposting untuk para Admin Kompasiana yang sudah setengah mati bekerja membesarkan Kompasiana tetapi masih sering diledek dan dikritik. Sabar ya.... Tirulah para guru yang menjadi Kompasianer. Sudah cantik sabar lagi.... Lihat itu Mbak Nita Kris Noer dan Mbak Arie Budianti.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Di halaman depan Vihara Paramita, Desa Ngadas kutanam bunga putih. Tahu kan namanya. Bunga ini sengaja kutanam untuk Mbak Suprihati, Kompasianer perempuan ahli pertanian yang juga pemerhati lingkungan dan budaya. Mungkin dia dosen sebab tulisannya di K dan blog pribadinya menunjukkan ke arah itu. Tulisannya yang konsisten di bidang tersebut membuat saya dengan bangga memberikan bunga putih ini. Seputih niatnya berbagi ilmu pada para pembaca.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Katellya indah ini kupersambahkan untuk Mbak Ayu Diahastuti yang juga senang berbagi ilmu tentang psikologi dan pendidikan. Tulisannya menyiratkan ia adalah seorang psikolog yang juga mendalami filsafat dan teologi. 

Tulisannya yang berbobot dengan bahasa ringan bukan sekedar memberi retorika tetapi tindakan apa yang harus diperbuat tanpa menggurui. Tulisan seindah senyum dan tatapan matanya yang sedikit sayu.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Anggrek bulan warna ungu ini, sepantasnya diberikan pada Mbak Nita Kris Noer yang tulisannya seperti Mbak Ayu Diahastuti, di bidang psikologi dan pendidikan. Ringan berbobot dengan ulasan santai namun mengena seperti seorang ibu yang menasehati anaknya yang keliru berbuat atau keliru bicara. Bukan memarahi bukan pula menyindir tapi mengingatkan. Lembut seperti senyumnya.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Setangkai anggrek bulan yang hampir gugur layu kini mekar kembali, entah mengapa.... Demikian sepenggal syair lagu Anggrek Bulan yang dinyanyikan Titiek Sandhora bersama Muchsin Alatas. Bungan anggun dan indah ini layak diberikan pada Bu Roselina Tjiptadinata Effendi. Mengapa? Semua pasti tahu tulisannya.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Hla kalau anggrek ini pantas untuk Mbak Mom Abel. Jarang menulis tapi tulisannya sangat menarik untuk disimak. Ada pesan tersembunyi.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Nah bunga anggrek kecil ini sudah selayaknya Mbak Ari Budianti yang tak lelah berpuisi melukis kehidupan sehari-hari.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Nah yang ini, tak kuberikan pada siapa pun selain Kompasianer perempuan penunggu Gunung Kerinci yang suka jalan-jalan dan suka jeprat-jepret dengan kamera lalu ditulis jadi puisi yang bikin tersenyum. Jangan tertawa dia bisa ngambeg.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
Mawar mungil ini jarang ditaruh sebagai buket di hotel, maka layaknya diberikan pada Kompasianer yang senang berbagi pengalamannya di bidang perhotelan. Siapa lagi kalo bukan Mbak Celestine Patter!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN