Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Jalma desa saba wana.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Yuk, Melantunkan Tembang Macapat

3 Oktober 2019   10:29 Diperbarui: 3 Oktober 2019   13:02 134 11 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Yuk, Melantunkan Tembang Macapat
Tamita WIbisono & Lilik Sinden di Padepokan Seni Mangun Dharmo. Dokpri

Tanggapan atas tulisan:

Tamita_Wibisono/5d62c49a0d823066c542c5f8: generasi-milenials-dan-tembang-macapat-semoga-bukan-keniscayaan

Rahab Ganendra: video-kompasianer-pentas-nembang-macapat-di-tmii

Agak kaget namun juga senang dan bangga, ketika membaca dan melihat  postingan dan vlog dari Mas Rahab Ganendra (Boss Madyang) dan Mbak Tamita Wibisono di instagram, facebook, dan Kompasiana yang menulis atau mewartakan kegiatan Workshop Macapat 2019 di Anjungan DIY Taman Mini Indonesia Indah. Empat Kompasianer yang ikut pastilah kita kenal semua si ahli keluarga Mas Agung Han, si pengamat motogp Mbak Ya Yat, Mas Ganendra yang dulu saya kenal sebagai seorang fiksianer, dan si lincah Mbak Tamita Wibisono.

Agak kaget karena siapa sangka mereka begitu tertarik lalu menulis dan menayangkan pengalamannya. Bangga, karena awalnya kukira hanya sekedar meliput. Begitu melihat foto mereka yang tampil nJawani dan ikut latih swara yang ternyata tak terduga. Kalau Mbak Tamita memang sudah terbukti kala macapatan bersama istri penulis sekitar enam bulan lalu di Padepokan Seni Mangun Dharmo, walau hanya sebentar.

Dokpri
Dokpri
Latihan di Gedung Misiologi Biara SVD Malang
Latihan di Gedung Misiologi Biara SVD Malang
Macapat Padhang Bulan setiap bulan purnama di Padepokan Seni Mangun Dharmo dan Candi Jago. Dokpri
Macapat Padhang Bulan setiap bulan purnama di Padepokan Seni Mangun Dharmo dan Candi Jago. Dokpri
Didukung adik-adik mahasiswa UM. Dokpri
Didukung adik-adik mahasiswa UM. Dokpri
Pada masa kini terutama di kota besar, tembang macapat yang merupakan karya sastra Jawa kuno memang jarang sekali kita dengar kecuali pada komunitas-komunitas yang peduli budaya Jawa. Tetapi sebenarnya di kota-kota yang kini berkembang menjadi kota besar seperti Madiun, Magelang, Magetan, Ponorogo, Wonosari, Gunung Kidul, Tulung Agung, Trenggalek, dan Blitar sering diadakan lomba antar sekolah. Bisa dilihat di media-media sosial. Permasalahannya, apakah setelah lomba lalu diadakan sebuah pertunjukan atau setidaknya menampilkan mereka pada sebuah acara?

Di Malang sendiri, boleh dikatakan cukup pasif. Memang masih ada sekitar dua puluh komunitas budaya yang sering menampilkan kegiatan macapatan atau sesekaran macapat dalam bahasa Indonesia melantunkan tembang macapat lalu menjelaskan dan merenungkan isi dan ajaran yang terkandung dalam tembang macapat tersebut. Kitab yang sering menjadi rujukan adalah Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV namun juga dari serat-serat lain jika untuk menceritakan sebuah sejarah yang penuh dengan ajaran moral dan etika. Penulis sendiri, jika memberi renungan sering memakai Sekar Macapat Injil Papat karya Romo Sindhunata, SJ.

Lilik Sinden tampil di Biara Ursulin & Yayasan Dhira Bhakti Malang. Dokpri
Lilik Sinden tampil di Biara Ursulin & Yayasan Dhira Bhakti Malang. Dokpri
Macapat Diras Turi Gereja Ratu Rosari Malang. Dokpri
Macapat Diras Turi Gereja Ratu Rosari Malang. Dokpri
Latihan bersama sepulang kerja. Dokpri
Latihan bersama sepulang kerja. Dokpri
Sebuah pertanyaan, mengapa sekarang jarang ada pembacaan atau sesekaran tembang macapat? Padahal hingga pertengahan 70an menjelang subuh atau sesudah isya di langgar-langgar atau surau-surau pedukuhan sering terdengar lantunan sesekaran oleh kyai-kyai sepuh yang diikuti para santrinya. Sekarang tak pernah terdengar lagi selain di pura Desa Ngadas dan di kampung-kampung Palasari, Bali.

Sebagai pegiat macapatan, penulis dan istri setiap minggu mengikuti enam komunitas macapat yang ada di kota dan kabupaten Malang. Pesertanya kebanyakan memang para lansia, namun kala ada semacam pertunjukan sering didukung dan dibantu oleh mahasiswa jurusan sastra dan seni budaya Universitas Negeri Malang  atau sekolah-sekolah lanjutan yang masih mempertahankan seni tradisional.

Merupakan kebanggaan jika tembang macapat masih mendapat hati dari mereka yang peduli. Penulis pun percaya, kita semua mencintai dan peduli hanya kesempatan untuk menjalani masih belum terbuka. Sebuah perjuangan memang harus dilakukan akan budaya kita yang adi luhung. Pengorbanan akan tenaga, waktu, dan finansial tidak akan sia-sia sebab jati diri budaya Nusantara akan tetap lestari.

Tertarik? Di rumah ada gambang, suling, gender, demung, siter, dan rebab siap untuk macapatan bersama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x