Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Indahnya Kebersamaan Perayaan Trisuci Waisak Desa Ngadas, Malang

12 Juni 2019   12:42 Diperbarui: 12 Juni 2019   19:37 111 14 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Indahnya Kebersamaan Perayaan Trisuci Waisak Desa Ngadas, Malang
Menjelang puja sesanti di Sanggar Pasembahan Vihara Paramita. Dokpri

Dokpri
Dokpri
Bikkhu selesai puja sesanti. Dokpri
Bikkhu selesai puja sesanti. Dokpri
Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, umat Buddha di Desa Ngadas Malang yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Buddha, mengadakan perayaan Trisuci Waisak dengan penuh kesakralan namun juga meriah. Perayaan yang biasanya diadakan seminggu setelah detik-detik Trisuci Waisak, kali ini baru diadakan tiga minggu sesudahnya atau tepatnya pada Minggu, 9 Juni 2019. Ini dilakukan berdasarkan hasil rapat umat dan pemimpin Buddha Jawa Sanyata yang ada di Desa Ngadas, pada Rabu Legi, 16 April 2019 yakni sesudah ritual Puja Sesanti di Sanggar Pasembahan Vihara Paramita sebagai bentuk penghormatan kepada umat muslim Desa Ngadas yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Perayaan Waisak kali ini memang sedikit berbeda karena saat puja sesanti juga dihadiri oleh dua orang bikkhu dari Desa Ngandat, Junrejo Batu. Panitia pun bukan hanya dari umat Buddha Desa Ngadas tetapi juga disiapkan oleh Kelompok Kerja Penyuluh dissingkat POKJALU dari perkumpulan umat Buddha wilayah Malang, Blitar, dan Pasuruan. Sedang umat Buddha Ngadas sebagai tuan rumah yang menyediakan tempat. Selain itu pada saat pesta sederhana ala desa juga ditampilkan aneka tarian tradisional dan paduan suara dari umat Buddha dari Gadang, Gedangan, Dampit, dan Kasembon Malang, juga dari Pasuruan dan Blitar. Dan kali ini, penulis dan istri ikut melantunkan tembang macapat pangkur dan dandanggula. Biasanya kami hanya melantunkan tembang campursari atau tembang-tembang gagrag anyar.

Perarakan saat di ujung timur desa. Sebelah kiri tampak langgar dan sebelah kanan atas tampak pura Hindu. Dokpri
Perarakan saat di ujung timur desa. Sebelah kiri tampak langgar dan sebelah kanan atas tampak pura Hindu. Dokpri
Di depan pelataran depan sanggar pasembahan. Dokpri
Di depan pelataran depan sanggar pasembahan. Dokpri
Tampil juga barongsai.Dokpri
Tampil juga barongsai.Dokpri
Ritual diawali dengan perarakan umat dari rumah ketua umat Buddha Desa Ngadas, yakni Bapak Buasan yang ada di tengah desa menuju Sanggar Pasembahan Vihara Paramita yang jaraknya tak lebih dari 1 km namun dengan tanjakan kemiringan 45 derajat bukanlah hal yang biasa bagi para undangan dari luar kota yang belum pernah ke Desa  Ngadas. Hal yang meringankan perjalanan yang tak jauh namun berat ini adalah cuaca yang amat cerah dengan hembusan angina gunung yang sejuk juga pemandangan perbukitan hijau dengan bentangan ladang kentang serta puncak Mahameru yang gagah sebagai wajah asli Desa Ngadas.  

Iringan pertama para pengurus umat, para tetua umat, dua bikku, dan umat yang setiap orang membawa setangkai bunga sundel atau sedapmalam. Setelah puja sesanti yang tak lebih dari 30 menit, dilanjutkan pesta ala desa di pelataran depan sanggar pasembahan dengan tari pembuka yakni Beskalan yang ditampilkan oleh dua gadis asli Ngadas, yakni putri Pak Tomo, dukun adat Desa Ngadas.

Saat acara seremonial, pesan terindah dari bikkhu yakni agar umat Buddha dan semua orang agar menjaga kehidupan dan kebudayaan untuk kedamaian bagi setiap mahluk.

Hal yang sedikit agak membosankan kali ini adalah sambutan-sambutan para tamu dari kota atau pejabat yang cukup bertele-tele. Ditambah lagi, kami terbiasa menggunakan Bahasa Jawa sedang mereka menggunakan Bahasa Indonesia.

Petugas kepolisian Polsek Poncokusumo dan Banser NU. Dokpri
Petugas kepolisian Polsek Poncokusumo dan Banser NU. Dokpri
Saat jalan ditutup dan semua kendaraan harus berhenti di bukit atas. Dokpri
Saat jalan ditutup dan semua kendaraan harus berhenti di bukit atas. Dokpri
Buka lagi jalan desa. Dokpri
Buka lagi jalan desa. Dokpri
Dokpri
Dokpri
Di luar acara tersebut, acara yang meriah juga sedikit terganggu oleh hilir mudiknya lebih dari dua ratus mobil dan ratusan sepeda motor sepanjang malam hingga sore dari dan ke Bromo serta Semeru karena pada saat itu merupakan akhir dari libur panjang lebaran. Pemberlakuan sistem buka tutup sekitar dua ratus meter dekat sanggar pasembahan seperti jalan tol harus kami lakukan. Para pengemudi jeep yang berasal dari Tumpang yang paham adat kami cukup menyadari, namun beberapa pengemudi dan pengendara sepeda motor dari luar kota agak bandel. Namun kesigapan petugas dari Linmas dan Banser serta aparat keamanan dari Polsek Ponco Kusumo lalu lintas berjalan normal. Jika ada yang sedikit ngeyel, saya dan beberapa tetua mendekati sambil senyum dan ternyata ada yang keder lalu mengalihkan perhatian minta foto bersama atau minta ijin membuat dokumentasi.

Acara yang dimulai pukul sepuluh pagi berakhir tepat jam setengah empat sore. Sederhana namun sakral dan meriah.

Seperti biasa pula, para tamu dijamu makan dua kali. Pada pagi hari dan siang hari dengan suguhan istimewa berupa kentang rebus dan urap-urap hasil bumi Desa Ngadas. Pulangnya pun setiap tamu mendapat buah tangan kentang masing-masing seberat tiga kilogram. Alhasil menghabiskan tak kurang dua ton kentang untuk para tamu dari masyarakat Desa Ngadas. Luar biasa.....

Beskalan, tari tradisional Malang sebagai pembuka. Dokpri
Beskalan, tari tradisional Malang sebagai pembuka. Dokpri
Sumbangan dari Gedangan. Dokpri
Sumbangan dari Gedangan. Dokpri
Siap macapat. Dokpri
Siap macapat. Dokpri
Sebelum pulang, mejeng dulu. dokpri
Sebelum pulang, mejeng dulu. dokpri

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x