Mohon tunggu...
Kafha
Kafha Mohon Tunggu...

Penulis Catatan Harian

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Ungaran Kota Literasi

13 November 2014   06:19 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:55 126 0 0 Mohon Tunggu...

Terbit harapan. Itu kira-kira yang terasa, usai pengukuhan Komunitas Penulis Ungaran, 23 Oktober 2014, di Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah (KPAD) Kabupaten Semarang oleh kepala KPAD, Nelly Rahamawati, SH. M.Hum. Setidaknya dari para anggota Komunitas Penulis Ungaran, menaruh harapan besar, bahwa kegiatan-kegiatan yang berbasis buku bakal semarak. Kegiatan literasi seperti pelatihan menulis, peluncuran buku, bedah buku, lomba mengarang cerita pendek, dan pembacaan puisi, akan jadi ritual utama yang mengiring acara-acara perhelatan kota maupun pesta rakyat yang biasa diselenggarakan saat HUT Kota Ungaran.

Harapan tersebut relevan, mengingat salah satu ikon Kota Ungaran adalah Benteng Willem II. Sebuah ikon yang sebenarnya tak bisa dilepaskan dengan tradisi literasi, tentang sejarah yang menyelimuti Kota Ungaran. Sebagai ikon, sebagai tanda keberadaan kota, Benteng Willem II telah mengalami beberapa kali perubahan fungsi. Pertama kali didirikan pada tahun 1786, untuk memperingati pertemuan antara Pakubuwono II dengan Gubernur Jendral Van Imhoff pada 11 Mei 1746. Tahun 1849, beralih fungsi menjadi Rumah Sakit. Kemudian dalam perjalanannya setelah masa kemerdekaan Indonesia, Benteng ini dimanfaatkan sebagai asrama polisi. Kini kepemilikan ada di tangan POLRI, dan telah dirahabilitasi sebagai cagar budaya.

Ikon Kota Ungaran yang berupa bangunan bercagar budaya, seakan pertanda bahwa Kota Ungaran adalah kota belajar, kota literasi. Tinggal bagaimana para penghuni kota, dan para pemegang otoritas, mengembangkan warisan literasi tersebut. Dan Komunitas Penulis Ungaranlahir dari gagasan beberapa kaum muda Kota Ungaran yang berlatar penulis, penggiat taman baca, dan pencinta buku, yang prihatin dengan aroma literasi yang minim, bahkan nyaris kosong. Gagasankeprihatinan yang kemudian mereka manifestasikan dalam wujud forum belajar bersama guna mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kaum muda dalam literasi. Gagasan yang mengusung tentang betapa pentingnya membaca, dan betapa perlunya menulis ke tengah masyarakat.

Tradisi membaca dan menulis, oleh banyak kalangan, disinyalir masih terhitung rendah untuk lingkungan Kota Ungaran. Karya-karya tulis yang lahir dari tangan penghuni kota juga masih sedikit. Terlebih lagi, kalau melihat geliat kota yang mengemuka, seakan lebih diarahkan pada pengembangan kota industri, ketimbang sebagai kota pelajar. Generasi tamatan SMP dan SMA, mayoritas lari sebagai buruh pabrik, karena memang aksesnya lebih gampang, yaitu keberadaan industri pabrik yang melimpah. Toko buku, seperti Gramedia maupun Gunung Agung, nyaris belum pernah ada.Pendidikan tinggi, sebagai penyuplai utama agen literasi, baru dua, yaitu UNDARIS dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ngudi Waluyo. Hal yang demikian, jelas tak berbanding lurus dengan predikat Ungaran sebagai jantung Kabupaten Semarang yang memiliki sejarah panjang, sebagai peralihan pusat kekuasaan dari Kanjengan (Kota Semarang), tetapi kini dikenal sebatas sebagai kawasan industri.

Sebenarnya bukan hal yang mustahil untuk mengubah image dari kota industri menjadi kota literasi. Kendati sulit, tapi patut diusahakan. Tinggal masalah kemauan untuk menggeser haluan dari banyak pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat termasuk para penggiat komunitas. Para pemegang kebijakan itu, mesti berani menitikberatkan perhatiannya pada pengembangan literasi lokal. Mulai menyaring para penanam modal yang bergerak di ranah literasi. Ada apresiasi dan insentif kepada para penggiat literasi, para penggerak komunitas yang konsen dengan budaya aksara, para penulis, dan penerbit. Sehingga para penulis lokal tidak lari menjauh, berbondong-bondong mengadu nasib ke ibukota dan kota-kota besar lainnya, melainkan tenteram di kota sendiri, menumbuhkembangkan literasi lokal. Demikian pula dari kalangan komunitas keagamaan tingkat daerah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, seyogianya tidak lagi meletakkan ritual sebagai yang utama dalam praktik beragama, melainkan lebih berorientasi pada upaya pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat Ungaran.

Sekali lagi, ini masalah kemauan bukan kemampuan. Kemampuan literasi masyarakat sudah ada. Bahkan minat baca masyarakat itu sesungguhnya tidak rendah, tetapi akses untuk membaca yang kurang. Pos-pos baca yang digalakkan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah belum tersebar merata. Pojok-pojok baca yang dikembangkan oleh penggiat taman baca, yang didukung oleh Dinas Pendidikan tingkat kecamatan maupun kabupaten, belum merangsek luas di segenap penjuru tingkat RT/RW. Toko-toko buku, mesti mulai dimunculkan. Minat menulis pun barangkali juga tak sedikit dari kalangan masyarakat, mengingat pengguna BBM (black berry messenger) atau whats app hampir rata ke seluruh kalangan, baik usia maupun kelas sosial. Tinggal etikat mengembangkannya. Kebiasaan menulis status dan kicauan, dikembangkan menjadi karya tulis fiksi maupun non-fiksi.

Akhirnya, usai launching Komunitas Penulis Ungaran, ikon kota yang bercagar budaya, menjamurnya paguyuban, komunitas dan forum-forum berbasis lokal, serta pencanangan revolusi mental oleh Presiden Joko Widodo, tak ada alasan untuk menunda guna menggalakkan kegairahan literasi di kota Ungaran. Revolusi mental yang kini nyaring di telinga, akan mustahil terjadi, tanpa dukungan kegiatan literasi. Slogan akan berhenti sebatas slogan, kalau tanpa dibarengi dengan gerakan membaca dan menulis hingga ke ranah keluarga. Maka, geliat literasi kapan lagi kalau tidak dari sekarang. Geliat literasi, siapa lagi kalau bukan kita yang melaksanakan. Pendek kata, Ungaran sebagai kota literasi adalah suatu kenyataan, bukan lagi sekadar harapan. Semoga…

VIDEO PILIHAN