Mohon tunggu...
Dwi Ardian
Dwi Ardian Mohon Tunggu... Lainnya - Statistisi

Pengumpul data belajar menulis. Email: dwiardian48@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pasar Sawo di Masa Pandemi

24 Juli 2020   20:56 Diperbarui: 24 Juli 2020   21:20 295
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dok pribadi | Spanduk di sudut pasar

Kondisi Terkini

Berbeda dengan saat awal-awal pandemi, saat ini aktivitas sudah mulai normal kembali. Ramai sekali. Utamanya di pagi hari. Seperti tidak ada jarak. Banyak yang tidak memakai masker, kalau pun pakai ditaruh di dagu atau leher. Membuat saya semakin takut ke pasar. Saya ke pasar tetap sekali atau dua kali sepekan, itu pun menunggu pasar sudah mulai sepi (agak siangan).

Harga tetap. Sepertinya hukum alam begitu, kalau harga sudah terlanjur naik maka susah untuk menurunkannya kembali. Tampak sesekali petugas kesehatan atau apalah itu yang sosialisasi agar menerapkan social distancing. Sepertinya sangat sulit menghimbau masyarakat. Ada juga petugas yang membentangkan spanduk yang cukup besar. Saya yakin tidak dibaca. Kalau pun dibaca, mungkin dianggap hanya angin lalu.

Buktinya anjuran yang tertulis di spanduk untuk memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan lainnya. Tetapi, banyak yang mengabaikan.

Syukurnya sih, di daerah sekitar sini belum ada yang terbukti terinfeksi, apalagi sampai meninggal. Pernah ada isu yang menyebutkan bahwa ada yang meninggal gara-gara Covid-19 di lingkungan pasar ini tetapi isu itu dimentahkan oleh Pak RT. "Hoaks itu, jangan dipercaya," jawab Pak RT mantap saat saya konfirmasi ke beliau.

Musalla di sekitar pasar juga mulai aktif normal kembali. Meski karpet tidak digelar dan jarak antarjamaah dibuat satu meter. Kadang juga tidak berjarak. Tergantug kesadaran jamaah.

Anak-anak madrasah diniyah (TK) mulai dipanggil kembali oleh gurunya untuk masuk. Anak saya yang berusia 3 dan 5 tahun yang biasanya ikut kelas itu, saya putuskan untuk tetap tidak mengikuti kelas. Lebih baik belajar di rumah saja dulu bersama ibunya.

Main di luar tidak pernah lagi, meski teman-temannya sering datang memanggil. "Ada virus," katanya menyahut dari balik pintu. Sepertinya diajar ibunya. Karena harus belajar dan main di rumah, maka fasilitas main saya tambah. Buat belajar juga saya tambah. 

Stok sabar ibunya dan saya juga harus ditambah. 

dok. pribadi | Salah satu
dok. pribadi | Salah satu
Dinding pun tidak luput jadi media untuk menuangkan "karyanya", menggambar dan menulis. Saat akan mengikuti seminar dan sidang tugas akhir, saya harus mengecat beberapa bagian dinding agar kelihatan tidak terlalu kotor saat live zoom.

dok. pribadi | Mengecat tembok
dok. pribadi | Mengecat tembok
Aktivitas di rumah tentu membuat sangat bosan. Mungkin ini saatnya kita benar-benar menerapkan ilmu sabar. Patuh terhadap anjuran pemerintah adalah bagian dari ibadah ketaatan yang akan berpahala besar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun