Mohon tunggu...
Arif Rahman
Arif Rahman Mohon Tunggu... Freelancer

Menyukai hal-hal sederhana, suka ngopi, membaca dan sesekali meluangkan waktu untuk menulis. Kunjungi juga blog pribadi saya (www.arsitekmenulis.com) dan (http://ngeblog-yuk-di.blogspot.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Cara Menyikapi Perbedaan Pendapat

27 Desember 2013   23:15 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:25 8498 9 5 Mohon Tunggu...

Perbedaan adalah suatu hal yang tidak bisa dipungkiri oleh manusia. Semakin maju perkembangan jaman, perbedaan pun semakin jelas terlihat. Perbedaan tidak memandang bulu, baik itu hal besar ataupun kecil pasti akan ada perbedaan. Dan apapun usaha manusia untuk menghindari perbedaan, pasti perbedaan itu akan selalu tetap ada.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua pasti sering merasakan perbedaan tersebut. Salah satu dari sekian banyak perbedaan yang sering kita jumpai adalah perbedaan dalam mengemukakan pendapat. Contohnya, kita sering berbeda pendapat dengan seseorang yang berbeda pikiran dan pandangan mengenai sesuatu hal, baik itu masalah kecil (sepele) ataupun besar, dengan kelompok, dan bahkan dengan organisasi atau komunitas dimana kita melakukan aktivitas.

Ketika mengutarakan pendapat, seringkali kita melihat orang lain ataupun mungkin anda sendiri memaksakan pendapat agar diterima, baik kepada yang pro maupun yang kontra.

Nah.... hal yang demikian sering terjadi pada sebuah blog keroyokan dan hal itu menjadikan blog tersebut menjadi unik, serta menarik perhatian banyak orang. Apalagi kalau bukan yang kita kenal dengan blog Kompasiana.

Di Kompasiana, perbedaan pendapat sering terjadi pada kanal-kanal yang memicu pembaca ataupun Kompasianer menjadi cepat emosian dan semangat untuk berdebat. Kanal-kanal tersebut di antaranya seperti kanal olahraga (menyangkut sepakbola) dan kanal politik. Selain itu, perdebatan juga sering terjadi pada topik yang mengangkat isu-isu sensitif, mengenai agama dan bahkan kepercayaan tertentu.

Pasti Kompasianer sering menemukan hal-hal seperti diatas saat membuka akun Kompasiana anda. Saat membaca sebuah postingan yang membahas isu-isu sensitif, seringkali kita menemukan komentar yang kadang tidak sepaham dengan isi artikel si penulis. Dan akhirnya perdebatan sengit pun dimulai, bahkan perdebatan tersebut seakan tak berujung.

Ketika kita mengangkat sebuah topik dan meyakini kebenaran topik tersebut, hal itu belum tentu benar menurut pemahaman dan pandangan orang lain yang membaca tulisan kita. Begitu pula saat kita mengatakan bahwa kepercayaan kita adalah yang paling baik, hal itu belum tentu bisa diterima begitu saja oleh penganut kepercayaan lain. Begitu pun sebaliknya saat orang lain mengatakan hal yang sama kepada kita.

Dan hal tersebut adalah wajar dan sah-sah saja, asal kita bisa menahan diri dan tak selalu mementingkan ego diri sendiri. Dan kita harus bisa menghormati dan menghargai pendapat orang lain seperti layaknya kita menghargai diri sendiri.

Selama kita masih bernapas, perbedaan pendapat pasti akan terjadi dalam kita. Mengapa? Karena saat kita terlahir, telah dianugerahi perbedaan dengan orang lain. Dan bahkan dengan orang terdekat sekalipun, seperti orang tua, saudara, sekalipun itu saudara kembar kita.

Masalahnya adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan pendapat itu sendiri. Hal ini akan terpecahkan tergantung dari cara kita masing-masing menyikapi perbedaan pendapat yang kita hadapi.

Menjaga Keharmonisan dengan Kompasianer Lainnya

Lantas, bagaimana dengan di Kompasiana? Kembali ke Kompasiana, hehehe... Seperti yang kita semua tahu, meskipun tidak bertatap muka, ternyata masih ada teman-teman Kompasianer yang belum dewasa dalam menyikapi perbedaan pendapat. Yang paling sering kita temui saat berkomentar pada sebuah tulisan antara lain : saling menghina, mencaci maki, menghujat, menuliskan kata-kata kotor yang menyebabkan orang lain tidak nyaman saat membacanya, dan bahkan menyikapi pendapat dengan menyerang langsung pribadi yang bersangkutan.

Entah mengapa, hal ini sering terjadi di kalangan Kompasianer. Apakah hanya sekedar menunjukkan kehebatan dirinya, atau sekedar beraktualisasi dengan cara yang keliru dengan menyerang teman-temannya yang dianggap berseberangan pendapat. Hanya yang bersangkutanlah yang tau jawabannya.

Saya pribadi berpendapat dan berkomitmen, bahwa tujuan masuk menjadi anggota di Kompasiana adalah untuk berteman atau menambah lebih banyak teman, serta menambah wawasan. Untuk itu, saya berusaha disetiap waktu luang saya untuk bersimpati terhadap tulisan yang diposting oleh teman-teman Kompasianer. Jika harus mengkritik tulisan yang diposting, saya memikirkan terlebih dahulu dengan matang kritikan ataupun saran yang akan saya tuliskan, serta saya berusaha dengan bahasa yang sehalus mungkin agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.

Ketika saya menemukan teman yang tidak memahami ataupun sampai tidak mau menerima kritikan dan saran, saya lebih memilih menyudahi komentar ataupun diam saja. Hal itu saya lakukan agar tidak terjadi masalah yang berkepanjangan dan menyebabkan permusuhan. Gampangkan, gak perlu repot-repot habisin tenaga dan pikiran untuk berdebat yang menjurus ke hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi menyebabkan permusuhan.

Begitu pula saat ada teman yang memberikan komentar pada tulisan yang saya posting. Saya berusaha untuk membalas komentar tersebut dan mengapresiasi teman yang sudah mau berkunjung ke lapak saya dengan berkomentar, baik itu komentar serius ataupun hanya sekedar basa-basi dan bercanda.

Terus... Bagaimana jika ada komentar yang pedas? Gampang ko, saya tetap membalasnya dengan memberikan penjelasan mengenai apa yang sudah saya tulis. Selain itu, saya tetap mengapreasi teman tersebut dan menganggap hal tersebut sebagai hal yang positif yang akan membangun kepribadian saya utnuk lebih baik lagi kedepan. Dengan melakukan hal demikian, pertemanan di Kompasiana akan tetap terjaga dan awet selalu selamanya.

Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Salam Persahabatan

Makassar, 28 Desember 2013

Penulis

Arif Rahman

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x