Mohon tunggu...
Arako
Arako Mohon Tunggu... Freelancer

Pecinta Jejepangan • Pekerja Teks Komersial • ADHD Person • Tukang Review • Pawang kucing profesional di kucingdomestik.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

[Review] Aroma Seksisme di Film The Incredibles 2

21 Juni 2018   21:39 Diperbarui: 21 Juni 2018   22:08 0 2 2 Mohon Tunggu...
[Review] Aroma Seksisme di Film The Incredibles 2
The Incredibles 2 | Pixar.wikia.com

Menonton di suasana lebaran dengan tak ada satu pun kursi kosong tersisa dalam bioskop membuat tangan saya gatal untuk mengetik ulasan ini. Antusiasme masyarakat terhadap film animasi keluaran Disney Pixar ini memang luar biasa tinggi. Mengutip forbes.com, The Incredibles 2 mencetak rekor setelah meraup $27 juta di hari ke-lima pemutarannya. Wow!

Terhitung 14 tahun berselang sejak film pertamanya rilis di tahun 2004 lalu, setting waktu dalam The Incridible 2 justru tidak berubah, bahkan benar-benar kelanjutan dari scene terakhir di film lawasnya. Dikisahkan Hellen alias Elastic-girl direkrut seseorang untuk menjalankan sebuah misi untuk memulihkan kembali reputasi pahlawan super yang rusak akibat "kesalahpahaman" pascakasus Monster Bor. Sementara itu, suaminya Bob Parr alias Mr. Incredible terpaksa menggantikan Hellen mengurus rumah tangga.

Entah mengapa, saya mencium aroma seksisme yang cukup kental di sini. Terlihat jelas bagaimana Elastic-girl sangat bersinar ketika menjalankan "tugas lelaki", sementara Mr. Incredible benar-benar kelabakan kala harus menjalankan tugas keibuan. Membantu Dash mengerjakan PR, menghadapi Violet yang puber dan sedang "sakit cinta", dan si bayi Jack-Jack yang tidak bisa ditinggal meleng sedikit pun. Belum termasuk repotnya memasak dan mencuci. Pffft, sedikit kejam memang bagi Mr. Incredible, tapi sepertinya apa yang digambarkan dalam film memang realistis. Begitulah jadinya kalau menyuruh lelaki mengurus rumah. Jadi, masih ada yang berani bilang pekerjaan rumah tangga itu perkara gampang?

Untuk konflik utama sedikit tertebak baik alur maupun dalang di balik tokoh antagonisnya. Namun untuk sebuah film animasi bertema keluarga yang benar-benar untuk hiburan, sama sekali bukan masalah besar. Kalau butuh konflik lebih berat mungkin lebih baik nonton film thriler saja. Selain bernostalgia dengan tokoh lawas keluarga Parr yang karakternya unik dan memikat, penonton juga diajak berkenalan dengan sejumlah tokoh super hero baru dengan jenis kekuatan yang lebih bervariasi.

"Si bungsu Jack-Jack jenis kekuatan supernya apa, Ara?"

Banyak teman yang melontarkan pertanyaan ini setelah menonton trailer-nya. Tapi mohon maaf sekali, saya tidak ingin merusak kesenangan Anda sekalian yang belum menonton. Yang jelas, Si kecil Jack-Jack memang benar-benar bintang yang membuat satu studio pecah tawanya setiap kali dia berulah. Jadi, alangkah baiknya jika Anda temukan jawaban dengan menontonnya sendiri.

Menurut saya, film ini bukan hanya mampu membangkitkan suasana nostalgia bagi fans lama, namun dipastikan sukses juga menambah fans baru. Berhubung saya beserta seisi bioskop keluar dengan senyum dan sisa tawa terpeta di wajah, tidak berlebihan jika saya beri rating 9/10 bintang untuk film ini. Kalau tidak ingat kesempurnaan hanya milik Tuhan, mungkin saya kasih 10/10.

RECOMENDED!

Kompal : Kompasianer Palembang
Kompal : Kompasianer Palembang
Nb :

Terima kasih untuk Kak Agus, Bikcik Kartika, dan Davriel yang udah ngajakin nonton bareng

KONTEN MENARIK LAINNYA
x