Anugrah Roby Syahputra
Anugrah Roby Syahputra PNS

Staf Ditjen Bea & Cukai, Kemenkeu.Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Utara. Menulis lepas di media massa. Bukunya antara lain Gue Gak Cupu (Gramedia, 2010) dan Married Because of Allah (Noura Books, 2014)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Teladan Abdul Hamid II Melawan Konspirasi Asing

13 Februari 2017   11:34 Diperbarui: 13 Februari 2017   11:52 186 0 0

Tanggal 10 Februari 1918 adalah hari duka bagi kaum muslimin. Saat itu dunia Islam kehilangan salah satu pejuang terbaiknya. Dialah Sultan Abdul Hamid II, legenda terakhir dari silsilah umara besar yang pernah ada. Sultan ke 34 dari wangsa Utsmaniyah ini naik tahta pada 31 Agustus 1876 M. Putra Abdul Majid I yang menguasai bahasa Turki, Arab dan Persia ini menggantikan abangnya Sultan Murad V yang hanya berkuasa selama 93 hari.

Sang khalifah muncul di era kemerosotan institusi khilafah. Inilah masa krisis menjelang keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani dimana negara adikuasa itu disindir bangsa Eropa sebagai The Sick Man of Europe. Dalam kondisi negara yang karut-marut, ia hadir bagai pelita yang kembali menerangi Istana Topkapi. Ia tampil memperpanjang napas peradaban Islam yang kala itu terengah-engah diserang dari luar dan dalam. Dengan jerih payahnya umur keruntuhan khilafah tertangguh 30 tahun lamanya. Realitas tunggakan utang luar negeri yang terus membengkak, parlemen yang tidak produktif, birokrasi pemerintahan yang korup dan kuatnya intervensi tak membuatnya menyerah.

Memang diakui banyak sejarawan Barat memberikan predikat negatif padanya. Namun patut diketahui bahwa namanya ditulis dengan tinta merah dalam berbagai literatur sejarah hanyalah karena penentangannya terhadap Konspirasi Zionisme. Kaum Yahudi yang saat itu (bahkan hingga kini) menguasai media massa dan informasi dunia memberikan stigma sebagai pemimpin otoriter yang haus darah sebab tidak mengizinkan berdirinya negara Israel. Tak ayal, sejumlah penulis Barat menjulukinya sebagai “Sultan Merah” atau “Abdul Terkutuk”. Bahkan sejarawan Muslim, Tamim Ansary dalam Dari Puncak Baghdad ikut menyebutnya sebagai “pria lemah dan konyol”. Begitupun, ia tetap bintang yang dipuja di hati kaum muslimin.

Melawan Konspirasi Asing

Semasa muda, Abdul Hamid pernah turut bersama delegasi Utsmani dalam lawatan ke Prancis, Inggris, Belgia, Austria dan Hongaria. Ia bertemu raja-raja top seperti Napoleon III, Ratu Victoria, Leopold II dan Franz Joseph II. Di sela kunjungan kenegaraan itu, catat Muhammad Ash-Shallaby dalam Ad-Daulah al-Utsmaniyyah; Awamil an-Nuhudh wa as-Suquth, ia mendengar Menteri Utsmani menjawab pertanyaan beberapa pembesar Eropa Barat tersebut. “Berapa kalian jual Pulau Kreta?” tanya mereka. Maka Fuad menjawab lantang, “Dengan harga seperti kami membelinya!”. Maksudnya ialah Utsmani menguasai pulau itu selama 27 tahun dan penuh dengan perang.

Bukan itu saja. Ketika ditanya, “Negara apa yang terkuat di dunia saat ini?” jawaban Fuad sungguh mencengangkan. “Negara terkuat adalah Turki Utsmani. Itu karena kalian berusaha menghancurkannya dari luar. Adapun kami berusaha merusaknya dari dalam. Namun nyatanya kita sama-sama belum berhasil melenyapkannya,” ujarnya. Tentu dari sini Abdul Hamid mengambil banyak hikmah dan kearifan.

Pasca penobatannya yang berlangsung gempita dan membuat Istanbul berwarna, segunung masalah langsung menyambut. Salah satu yang paling krusial adalah esksistensi Gerakan Turki Muda yang sangat kuat dalam kabinet, hingga melampaui otoritas khalifah. Adalah Midhat Pasha sekalu Menteri Besar yang jadi pemimpinnya. Dialah yang dimaksud Ernest E. Ramsaur dalam The Young Turks sebagai aktor intelektual penggulingan dua sultan sebelumnya sekaligus dalang pembunuhan pamannya.

Menurut Eugene Rogan dalam The Fall of Khilafah, gerakan ini tak bisa dilepaskan dari campur tangan gerakan Freemasonry. Organisasi rahasia Yahudi ini menghendaki Turki baru yang menganut Demokrasi Barat dan mencampakkan Islam sebagai sistem hidup. Merekapun sukses mencuci otak banyak anak muda Turki sampai mereka kagum dan tergila-gila kepada apa yang mereka sebut sebagai “kemajuan” dan “modernitas” Eropa. Isu-isu kebebasan serta intoleransi terhadap minoritas juga menjadi beberapa isu utama mereka. Padahal Sultan amat protektif terhadap minoritas Armenia dan Kurdistan. Menyikapi hal itu, Abdul Hamid seperti tertuang dalam Mudzakarat As-Sulthan Abdul Hamid Ats-Tsani yang disusun Dr. Muhammad Harb mengritik keras, “Turki Utsmani adalah negeri berkumpulnya berbagai bangsa dan demokrasi (versi Barat) di negeri ini hanya akan mematikan etnis asli dalam negeri. Apakah ada di parlemen Britania anggota resmi dari penduduk India atau di Parlemen Prancis, anggota dewan dari keturunan Aljazair?”

Membela Al-Quds

Selain keteguhan hatinya, ia juga dikenal sangat peduli pada Tanah Suci Al-Quds. Pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina. Permohonan itu tegas ditolak Sultan. Tak mau menyerah, Theodor Hertzl, penggagas berdirinya Negara Yahudi yang menulis buku Der Judenstaat, pada 1896 memberanikan diri menemui Abdul Hamid sambil meminta izin mendirikan gedung di Al-Quds. Permohonan itu kembali dijawab Sultan dengan penolakan. “Sesungguhnya Daulah Utsmani ini adalah milik rakyatnya. Mereka tidak akan menyetujui permintaan itu. Sebab itu, simpanlah kekayaan kalian itu dalam kantong kalian sendiri,” tegas Sultan. Melihat keteguhan Sultan, mereka kemudian membuat strategi ketiga, yaitu melakukan konferensi Basel di Swiss, pada 29-31 Agustus 1897 dalam rangka merumuskan strategi baru menghancurkan Utsmani.

Mengingat gencarnya aktivitas Zionis, akhirnya pada 1900 Sultan Abdul Hamid II juga mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan peziarah Yahudi di Palestina untuk tinggal di sana lebih dari tiga bulan, dan paspor Yahudi harus diserahkan kepada petugas. Setahun berikutnya Sultan menerbitkankan keputusan mengharamkan penjualan tanah kepada Yahudi di Palestina.

Pada 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya menghadap. Kedatangannya kali ini untuk menyuap sang sultan. Hertzl menyodorkan hadiah yang sangat menggiurkan yakni uang sebesar 150 juta poundsterling khusus untuk Sultan pribadi; membayar semua utang pemerintah Utsmani yang mencapai 33 juta poundsterling; membangun kapal induk untuk pemerintah dengan biaya 120 juta franc; memberi pinjaman 5 juta poundsterling tanpa bunga; dan membangun Universitas Utsmani di Palestina.

Namun semua tawaran itu ditolaknya tegas. Bahkan Sultan tak sudi menemui Hertzl, lalu mewakilkan kepada PM Tahsin Basya, dengan pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar jangan meneruskan rencananya. Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah ini dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka. Yahudi silakan menyimpan harta mereka. Jika suatu saat kekhilafahan Turki Usmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan bisa mengambil Palestina tanpa membayar harganya.”

Lain waktu, pernah pula pemerintah Inggris mengajukan proposal penggalian benda-benda purbakala di wilayah kekuasaan Utsmani. Namun ternyata penggalian benda-benda purbakala itu hanya kedok belaka, karena sejatinya mereka ingin mengeruk tambang-tambang minyak. Karena itu Sultan marah luar biasa dan mencabut proyek kerjasama tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia

Berbagai turbulensi yang dialami oleh Sultan Abdul Hamid II ini sangat relevan dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Siapapun yang berkuasa, jika ia tak mau mengikuti perintah asing, apalagi mempunyai misi menegakkan Islam, maka akan bernasib sama sebagaimana sang sultan pada masa lalu. Kekuasaan yang dipegang oleh sosok pemimpin muslim yang tegas dalam menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai Islam, akan selalu dirongrong dan digoyang sampai tumbang. Inilah yang kita saksikan saat PM Ismail Haniyah dari HAMAS memenangan Pemilu Palestina. Begitu pula Presiden Mursi di Mesir yang sekeluarganya penghafal Qur’an itu dikudeta dengan zalim oleh militer yang disokong asing.

Saat kekuatan asing tampak mencengkeramkan cakarnya ke tengah bangsa, tentu kita rindu pemimpin bermental Abdul Hamid II. Ketika utang luar negeri terus ditambah, liberalisasi undang-undang migas dan minerba, kepemilikan properti oleh asing, penguasaaan asing hingga 85% saham modal ventura hingga bolehnya 100% saham restoran dan jalan tol dikuasai asing, ada gelora untuk memiliki pemimpin sekuat Abdul Hamid II.

Negara yang berbhineka ini layak belajar darinya. Meski tegas menolak intervensi asing, Abdul Hamid II tetap bisa mengurangi utang Utsmani dari 300 juta lira hingga tinggal sepersepuluhnya saja yakni 30 juta lira. Kitapun jangan sampai latah mengikut polah Gerakan Turki Muda yang membebek budaya Barat, termasuk sisi negatifnya yang bertabur jumlahnya. Seperti yang diakui Abdullah Cevdet, “Yang ada hanya satu peradaban yakni peradaban Eropa. Karena itu kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya maupun durinya sekaligus.”

Mari kita doakan para pemimpin bangsa semakin istiqamah menjaga kedaulatan bangsa. Tidak harus anti asing, tapi tak boleh didikte dan tuduk pada asing. Persis seperti dipetuahkan sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya Larasati, “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”

Penulis adalah Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumatera Utara.